Baca Koran babelpos Online - Babelpos
Senin, 05 Jan 2026
Network
Beranda
Headline
Pangkalpinang
Politika
Daerah
Bangka
Bangka Tengah
Bangka Selatan
Bangka Barat
Belitung
Belitung Timur
Komunikasi Bisnis
Advetorial
Kolom
Catatan Politik
Bahasa
History
Taring
Soccer
Lainnya
Gadget
Hiburan
Literasi
Kesehatan
Nasional
Opini
Pendidikan
Network
Beranda
Literasi
Detail Artikel
Genggaman dalam Diam
Reporter:
Admin
|
Editor:
Budi Rachmad
|
Senin , 04 Aug 2025 - 22:39
--
genggaman dalam diam cerpen cania putri nimalasari gulo terbiasa menggenggam tanpa bisa melepaskan memunculkan polemik hati yang memberatkan keadaan, membuat rasa menjadi sungkan menyuarakan keadaan hati yang hendak berdamai dengan kenyataan. tak mudah membiarkan hati berlari sendiri, mengerahkan seluruh energi untuk tetap bisa berdiri mengejar sesuatu yang mustahil untuk diraih. terus berlari sendiri tanpa tahu risiko besar akan menghampiri, mustahil untuk berhenti sebab sudah jatuh terlalu dini. hanya bisa menggenggam seseorang lewat mimpi tanpa berani menyuarakan isi hati. brukk! tubuh alea terdorong mundur saat seorang laki-laki menabraknya dari arah berlawanan. "eh! kalau jalan lihat-lihat dong!" bentaknya. alea hanya menunduk tanpa jawaban. "kok lo diam aja? setidaknya minta maaf kek," lanjutnya kesal. gadis itu melangkah pergi, meninggalkan kebisuan yang menggantung. “dasar... cewek aneh,” gumam laki-laki itu, satria. ia tahu, di balik tatapan dingin alea, ada badai yang tak pernah reda. sentuhan itu terasa nyaman, debaran jantung yang semakin kencang menandakan keadaan hati yang tak karuan. satria mencoba menetralisir kegugupan dengan tetap diam tanpa berani mengutarakan. ia menyebut dirinya pecundang yang berharap digenggam tanpa ada tangan yang rela disematkan. dua minggu sebelum praktik penelitian lapangan, kelas metodologi penelitian mengumumkan pembagian kelompok. “alea, satria, diva, dan reza. kalian satu tim,” ucap dosen. satria mendengus. ya ampun... sama dia lagi. reza menepuk bahu alea. "lea! akhirnya kita satu kelompok!" diva memeluk alea penuh semangat. gadis itu hanya terkekeh kecil, tapi ekspresi satria mengeras. ada rasa asing yang ia sendiri tak pahami. hari demi hari menjelang keberangkatan, mereka mempersiapkan peralatan lapangan. di posko, kabar mengejutkan datang. “satria, lo tau nggak reza barusan nembak alea!” seru aldi. satria terpaku. “udah jadian?” tanyanya datar. “kayaknya sih nggak ya, secara alea anaknya fokus pendidikan banget,” sahut aldi. pagi harinya, kabar datang bahwa reza tak bisa ikut turun lapangan karena urusan keluarga. hanya alea, diva, dan satria yang berangkat ke pesisir untuk mengambil sampel sedimen. mereka mulai menjelajah jalan setapak menuju pantai yang dipenuhi desir angin dan suara langkah kaki yang saling mengejar. setelah observasi selesai, diva menjauh untuk mencatat data tambahan. alea dan satria duduk di atas batu karang, menatap laut yang terus berdebur. “aku suka pantai,” ucap alea tiba-tiba. satria menoleh. “kenapa?” “karena dia selalu menunggu. meski terus dihantam ombak, ia tetap bertahan.” satria tersenyum kecil. “aku juga gitu.” alea menoleh, menatapnya. “gitu gimana?” “bertahan. di satu tempat, dengan satu rasa. meski nggak tahu… bakal digenggam atau ditinggal begitu aja.” alea tersenyum samar, tapi tatapannya jauh. seolah ada sesuatu dalam dirinya yang sedang mencoba memahami arah yang ingin dituju hatinya. malamnya, satria duduk lama di tepi ranjangnya sebelum akhirnya menekan tombol kirim pada ponselnya: "besok. jam lima sore, di taman. aku mau ngomong." balasan datang beberapa menit kemudian. "oke." satu kata. tapi cukup membuatnya sulit tidur malam itu. sore berikutnya, langit digelayuti awan abu-abu. taman lengang, satria sudah tiba lebih awal, duduk di bangku kayu dekat kolam ikan. hujan belum turun, tapi angin mulai membawa udara lembap. ia menatap arlojinya lima menit berlalu, sepuluh, dua puluh. tapi alea belum datang. langkah tergesa datang dari arah depan. bukan alea. tapi aldi. “satria… lo belum tahu ya?” satria berdiri. wajah aldi tegang. “alea… kecelakaan, keserempet truk pas lagi jalan ke taman.” dunia satria seketika hening. kalimat itu menampar sunyi ke dalam tubuhnya, seperti petir yang menyambar namun tak sempat menimbulkan suara. di rumah sakit, harum antiseptik menusuk indera. langkahnya pelan, nyaris tak bersuara, seakan takut mengusik sunyi yang menggantung di udara. di ujung lorong, diva duduk terpekur, matanya sembab, tangannya gemetar menggenggam tisu yang sudah lusuh. satria tak berkata apa pun, hanya menepuk pelan pundaknya, lalu masuk ke ruangan bernomor 10. di dalam, alea terbaring lemah. selang infus menempel di punggung tangannya. monitor jantung berdetak pelan. wajahnya pucat, nyaris tak bergerak, seolah tertidur panjang dalam dunia yang tak terjangkau siapa pun. satria menarik kursi pelan, duduk di sisinya. ia meraih tangan alea, tangan yang dingin dan lemah ia menggenggamnya dengan hati-hati. ia tak mengatakan apa pun. ia memandangi wajah alea lama, menyusuri setiap lekuk kenangan yang pernah mereka lalui. dari pantai, tawa kecil di sela percakapan, tatap singkat di balik catatan lapangan, hingga detik-detik yang tak sempat diungkapkan. ia ingin berkata, seandainya aku lebih cepat... seandainya aku tak menunggu terlalu lama... seminggu kemudian, langit sore berwarna abu-abu pucat. satria berdiri di depan ruang rawat, jantungnya berdetak tak karuan. diva menghampirinya cepat, di wajahnya ada harapan yang nyaris tak berani tumbuh. "alea sadar," ucap diva singkat. satria masuk. di dalam, alea duduk lemah di ranjang, menatap ke luar jendela. matanya berkabut. “alea…” bisik satria pelan. gadis itu menoleh. pandangannya kosong. “maaf… kamu siapa?” satria terdiam, suara di sekitarnya mendadak menghilang. hanya ada denting hati yang retak. dokter datang dan menjelaskan bahwa alea mengalami cedera di kepala menyebabkan sebagian memorinya hilang. ia tak lagi mengingat orang-orang di sekelilingnya dengan jelas. satria tersenyum kecil, meski perih menekan dadanya. bahkan dalam versi dirinya yang baru, ia tetap tak diberi tempat. tapi ia tak marah, tak juga kecewa. ia hanya belajar… bahwa tak semua rasa akan dibalas dengan kenangan yang sama. tiga bulan setelahnya. waktu terus melaju, seolah tak peduli ada kenangan yang belum sempat kembali. di salah satu sudut taman, alea duduk di bangku kayu ditemani reza. mereka berbincang pelan, sesekali tertawa kecil. tawa itu terdengar ringan, namun di mata satria yang duduk tak jauh dari mereka, semua terasa sunyi. ia membuka jurnal lapangannya. mencoba sibuk, pura-pura lupa bahwa di sana, ada seseorang yang pernah ia genggam dalam diam. seseorang yang kini tertawa… tanpa mengingatnya sedikit pun. di lembar paling belakang jurnal itu, ia menulis: terbiasa menggenggam dalam diam, kini kuikhlaskan kau berjalan dalam tenang. tak semua rasa harus punya ruang, kadang cukup dikenang, walau perlahan menghilang. malam harinya, alea membersihkan meja belajarnya. ia menarik laci kecil di sisi kiri, menyusun ulang buku dan alat tulis yang berserakan. di antara tumpukan kertas, ia menemukan sebuah buku kecil berjudul jurnal lapangan. covernya sudah sedikit kusam, di dalamnya ada catatan yang rapi, grafik, dan lembar absensi harian yang tertulis dengan tulisan tangan. sebuah foto tergelincir dari dalamnya. di foto itu, ada dirinya yang tersenyum cerah di bawah cahaya matahari. di sampingnya, ada seorang laki-laki berdiri, menyeringai malu-malu. wajah yang begitu asing, namun entah kenapa terasa dekat. di balik foto itu tertulis satu nama: satria. alea mengerutkan kening. “siapa... satria?” ia menggigit bibir pelan. lalu tersenyum, senyum yang menggantung di antara ragu dan rasa yang samar. entah karena asing... atau karena hatinya masih mengenal, meski ingatannya tak lagi tahu.** biodata penulis cania putri nimalasari gulo, lahir di tangerang pada 17 september 2002. anak pertama dari tiga bersaudara ini merupakan lulusan program studi akuakultur di universitas bangka belitung. beberapa karya puisinya juga telah dibukukan dalam antologi bersama penulis lain, di antaranya: aksara yang terbungkam, alunan puisi, dan ketika aksara mulai bicara. selain menulis puisi, cania juga aktif mengelola blog pribadi bernama katania.puisimalam.
First
«
6
7
8
9
Tag
Share
Koran Terkait
Kembali ke koran edisi Babel Pos 5 Agustus 2025
Berita Terkini
Awal 2026, Stok Beras di Bulog Belitung 282,5 Ton
Belitung
7 jam
Penumpang Nataru di Pelabuhan Tanjungpandan 5.612 Orang
Belitung
7 jam
Pemkab Basel Diminta Fokus Maksimalkan SDA & PAD untuk pembangunan
Bangka Selatan
7 jam
Polres Basel Ringkus Dua Kolektor Timah
Bangka Selatan
7 jam
Kapolres Tegaskan Usut Tuntas Kasus Pencurian Mobil Dinas DPRD
Bangka
7 jam
Belasan Rumah Rusak Diterjang Puting Beliung
Bangka
7 jam
Dua Pengendara Motor Tertimpa Jembatan Air Abik
Bangka
7 jam
Kinerja Kanwil Kemenag Babel 2025 Capaian Kinerja Meningkat
Pangkalpinang
7 jam
Gubernur Komitmen Perjuangkan Kesejahteraan Guru Ngaji
Pangkalpinang
7 jam
PLN Babel Dukung UMKM Bangkit Lewat HUB UMK
Pangkalpinang
7 jam
Berita Terpopuler
Refleksi HAB Ke-80 Kemenag RI: Mengaplikasikan KBC dan Ekoteologi
Opini
7 jam
Ramalan Roy Kiyoshi 2026, Sempat Sebut Donald Trump
Headline
13 jam
Hikmah Hari Amal Bakti Ke-80 bagi Guru
Opini
7 jam
Juga Potensi Angin Kencang, BMKG: Siaga Cuaca!
Headline
13 jam
Maduro & Istri Ditangkap AS, Wapres Venezuela Naik
Headline
13 jam
Wacana Pilkada Lewat DPRD Hangat Lagi, PDIP: Kebiri Hak Politik Rakyat
Headline
13 jam
Berita Pilihan
Khasiat Kopi di Musim Hujan: Lebih dari Sekadar Minuman, Sumber Kehangatan dan Imunitas
Kesehatan
3 minggu
Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Kembangkan Varietas Padi Ladang Lokal
Bangka
1 bulan
Berlaga di Internasional Indonesia Open Championship, Pesilat Babel Raih 3 Emas, 3 Perunggu
Nasional
4 bulan
Curi Aki, Dua Pria Ditangkap Tim Kelambit Polres Bangka
Headline
5 bulan
Satgas Lantamal III dan Unit Intel Lanal Babel Gagalkan Penyelundupan Timah di Sungailiat
Headline
5 bulan