Melihat Pohon tapi Tak Melihat Hutan
Ilustrasi-Screenshot-
“Iyalah, Jon. Apa susahnya jadi kusir delman begini. Tak sepusing mengurus negara macam para elit. Orang rileks semacam saya ini samahalnya dengan orang gila. Kamu ingat saat covid melanda, tidak ada orang gila kena virus corona.”
“Oh iya jelas, Met. Seumur hidup, saya tidak pernah melihat orang gila masuk angin, kerokkan, apalagi pergi ke dokter. Orang gila itu pasti sehat bugar. Biarpun tidur di pelataran toko, tak memakai baju, bahkan ada yang makan makanan sampah di pasar, mereka tetap sehat.”
“Saat pandemi, mungkin hanya orang gila yang tidak menjadi beban bagi negara. Karena dengan predikat gila, kemungkinan untuk sakit corona kecil. Jika yang terserang virus ganas itu sedikit, pemerintah bebannya ringan. Masak untuk beli vaksin saja sampai menghabiskan sekian triliyun!” ujar Pak Slamet.
“Nah, itulah sebenarnya manfaat menjadi orang gila, Met. Andai rata-rata manusia-manusia serakah itu jadi gila, bisa jadi bangsa kita malah menjadi bangsa yang sehat,” ujar Kakek.
“Ya sudahlah, Jon. Bagaimana kalau kita jadi orang gila saja? Haha,” ujar Pak Slamet sambil terkekeh.
“Sehat badannya, tapi sakit otaknya. Orang gila itu sebenarnya sadar kalau dia gila. Itu rezeki negara, karena orang gila yang sadar dia gila tak akan jadi beban para dokter puskesmas. Beda dengan orang waras yang tidak sadar kalau dirinya gila. Perbedaan orang waras yang tak sadar kalau dirinya gila, dengan orang gila yang sebenarnya dia waras hampir tidak ada. Apalagi zaman sekarang, orang rela dikatakan gila asalkan bisa terkenal di media sosial, ” ujar kakek.
“Rela gila asalkan dompet tak sepi, lupa waras demi rupiah yang pergi. Zaman sekarang, jika dengan gila akan mendapatkan cuan, tak jadi masalah. Yang penting semua jadi viral dan uang datang. Tak perlu waras untuk kaya, beda dengan dulu. Dahulu tidak ada yang namanya medsos. Sekarang bahkan dengan cepat orang bisa dikenal karena viral. Tak peduli gila, asal bisa belanja. Akan jual murah, asal kantong pun mewah.”
“Harga diri jadi tumbal, demi angka di rekening digital. Sekarang zamannya sudah berbeda. Andai orang gila lebih terhormat dibandingkan orang waras, maka zaman sekarang dan selanjutnya adalah waktu yang tepat,” ujar Pak Slamet.