SUNGAILIAT ATAU SUNGAILEAT (Bagian Sepuluh)
Akhmad Elvian-screnshot-
Sebelum tentara sekutu dan NICA Belanda datang ke pulau Bangka, pihak sekutu juga melakukan propaganda dan adu domba antara orang Tionghoa dan penduduk pribumi, dalam catatan Lieutnant Langky pada Tanggal Mentok, 3 Desember 1945, yang ditulis dalam bahasa Inggris sekenanya dengan judul: Native to establishing Banka Island as Banka self rulling government cooperated with Banka born Malay and the Banka born Chinese in Malay called Banka-Cjina Merdeka (Sujitno, 1996:163). Propaganda tersebut berisi keinginan mendirikan pemerintahan sendiri bagi rakyat pulau Bangka yang dinamakan dengan Pemerintah Banka China Merdeka atau Banka Chinese Malay Merdeka. Tidak dipahami maksud propaganda tersebut, mengingat bahwa orang Bangka secara historis adalah terbentuk dari Empat etnic group yaitu orang Darat, orang Laut, orang China dan orang Melayu yang secara kultural telah melebur melalui asimilasi dan akulturasi dalam Satu identitas yaitu orang Bangka.
Pada masa era revolusi kemerdekaan terdapat juga orang Tionghoa Bangka yang membantu perjuangan revolusi kemerdekaan melalui penyelundupan. Bangka adalah lokasi yang tepat untuk ini (penyelundupan). Bulan November 1945 hingga November 1946 merupakan priode puncaknya penyelundupan melalui kapal laut. Banyak kapal lewat, banyak juga yang melalui Bangka. Kabar angin menyebutkan, bahwa pulau Kelapa (maksudnya pulau Kelapan) dan Pongok (maksudnya pulau Liat/Leat) di Bangka Selatan adalah pos untuk perdagangan senjata antara Singapura dan Banten, wilayah Republik. Dua orang dari Bangka dikenal namanya sebagai penyelundup selama Revolusi. Mereka adalah Tony Wen dan Lie Kwet Tjeng. Keduanya membantu Republik memperdagangkan persediaan candunya untuk mendapat senjata di Singapura (Heidhues, 2008:195). Tony Wen atau Boen Kin To lahir di Sungailiat Tahun 1911 dan ayahnya adalah Kepala Parit di perusahaan Tambang Timah Belanda. Sekolah dasarnya di Sungailiat dan melanjutkan Pendidikan menengahnya ke Singapura dan kemudian kuliah di U Ciang University, Shanghai dan Liang Nam University, Canton di Guangzhau. Setelah kembali ke Jakarta Tony Wen menjadi guru olahraga di sekolah Pa Hoa (THHK) dan menjadi kapten kesebelasan UMS (Union Makes Strenth). (Bersambung/***).