BANGKAKOTA (Bagian Sebelas)
Akhmad Elvian-screnshot-
Maksudnya:
“Kekuatan dan kesombongan para pemberontak kini telah mencapai tingkat yang sedemikian tinggi sehingga perlu dilakukan tindakan ofensif dan memberikan pukulan telak terhadap mereka di satu titik atau lainnya, jika ingin mencegah hilangnya distrik-distrik penting, terutama di pantai timur; dengan demikian, Letnan Kolonel KEER memutuskan, juga dengan mempertimbangkan rencana yang dikembangkan di atas, untuk melancarkan serangan ke Kotta-waringien”.
Oleh milter Belanda pembunuhan terhadap residen adalah bentuk kekuatan dan kesombongan tingkat tinggi dari pemberontak sehingga harus dilakukan tindakan ofensif bersenjata ke Kotawaringin tempat Bahrin dan pasukannya membangun kekuatan.
Perlawanan rakyat Bangka terus dilakukan oleh Depati Bahrin (Tahun 1820-1828), Batin Tikal dan bersama panglima Tjekong Moenjoel dan dua putera Demang Singayudha yaitu Djamal dan Djaja. Depati Bahrin beserta Batin Tikal dan pejuang-pejuang lainnya melakukan perang gerilya yang terus berpindah-pindah dari Koeboebangka atau Bangkakota ke Kotaberingin dan Nyireh terus ke daerah Jeruk (sungai Jeruk). Dr. F. Epp seorang ahli kesehatan bangsa Jerman yang pernah berkunjung ke Bangka dan bertemu dengan Depati Bahrin dan keluarganya mengatakan:
”Der Depatti Barin zeigte sich hier als ein tuchtiger Guerillafuhrer, indem er und sein Sohn, der Depatti Amir, sich stets unsichtbar zu machen wussten, wenn sie in die Enge getrieben waren”,
Terjemahannya kira-kira:
”Depati Bahrin menunjukkan dirinya sebagai pemimpin gerilya yang ulung; ia dan puteranya, Depati Amir, selalu dapat menghilang, bilamana mereka terdesak (Epp, 1852:219).
Karena hebatnya perlawanan rakyat Bangka, Pemerintah Hindia Belanda harus mendatangkan kesatuan kaveleri dari Legiun Raja Akil (Mayor Akil) dari Siak serta Kolonel Pangeran Ario Praboe Prang Wedono dari Legiun Mangkunegaran Jawa Tengah yang mengirimkan tiga puteranya ke Bangka yaitu Ritmeester (Kapten Kaveleri) Pangeran Ario Soerio Mataram, Letnan Satu Raden Ario Soerio Direjo dan Letnan Dua Raden Ario Soerio Midjojo, beserta dengan 70 ekor kuda serta kesatuan infanteri di bawah pimpinan Kapten Du Perron. Legiun ini dibentuk secara resmi oleh Gubernur Jenderal Daendels dengan keputusan tanggal 29 Juli 1808 sebagai pasukan gabungan Perancis, Belanda dan Jawa. Legiun ini membawahi pasukan sebanyak 800 serdadu infanteri, 100 prajurit pelopor, 200 kaveleri berkuda dan 50 orang prajurit artileri. Penugasan Legiun ini ke pulau Bangka merupakan pengalaman pertama bertempur di luar pulau Jawa. Legiun ini pula yang pada Tahun 1825-1830 berperang melawan pasukan Diponegoro dan pada Tahun 1873 berperang di Aceh.
Dalam versi Militaire Spectator VERHAAL PALEMBANGSCHEN OORLOG VAN 1819-1821, DOOR, A. MEIS, Kapitein-Adjudant hij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandscht Oost-Indische leger, halaman 142 disebutkan:
Evenwel gaf het Gouvernement last om 8 kanons van 12 ïB en 24 kanons van 8 ffi naar Banka te zenden en om in de behoefte aan afruilen aldaar, zoo door aanmaak als door dadelijke versterking te voorzien. Op den 5den Mei vertrok van Samarang een detachement van 60 beredene kavalleristen van het legioen van pangerang PRANG-WEDONO, onder het bevel van drie zijner eigene zonen , alsmede eene kompagnie infanterie van 181 inlanders, gekommandeerd door den Kapitein Du PERRON. Tot het aanleggen en verbeteren van communicatie-wegen werd de Luitenant-Kolonel overeen komstig zijn voorstel geautoriseerd.
Maksudnya kira kira:
Namun, Pemerintah memerintahkan agar 8 meriam 12 lb dan 24 meriam 8 lb dikirim ke Banka, dan untuk menyediakan kebutuhan pertukaran di sana, baik melalui produksi maupun penguatan segera. Pada tanggal 5 Mei (Tahun 1820), sebuah detasemen yang terdiri dari 60 kavaleri berkuda dari legiun Pangerang PRANG-WEDONO berangkat dari Samarang, di bawah komando tiga putranya sendiri, serta sebuah kompi infanteri yang terdiri dari 181 penduduk asli, yang dipimpin oleh Kapten Du PERRON. Letnan Kolonel diberi wewenang, sesuai dengan usulannya, untuk membangun dan meningkatkan jalur komunikasi. (Bersambung).