Rupiah & IHSG Melorot? Pasar Modal Terancam!?
Ilustrasi-screnshot-
TERUS melorotnya pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) kini pun turut menjadi sorotan para pengamat.
--------------
BUKAN tanpa alasan. Menurut Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita kombinasi kedua hal tersebut biasanya menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi di pasar valuta asing, tapi juga di pasar modal.
"Artinya, investor global maupun domestik sedang melakukan penyesuaian persepsi terhadap risiko ekonomi Indonesia," ucap Ronny.
Melanjutkan, Ronny menambahkan bahwa walaupun pelemahan rupiah memang dapat memberikan keuntungan bagi eksportir tertentu dalam jangka pendek, dampak negatif dari pelemahan yang berlangsung terlalu dalam akan lebih dominan dibanding manfaatnya.
Dari perspektif jangka panjang sendiri, yang paling perlu diwaspadai adalah efek terhadap investasi.
Ketika nilai tukar terus melemah dan pasar saham mengalami koreksi berkepanjangan, investor akan menilai bahwa tingkat ketidakpastian ekonomi meningkat. Tidak hanya itu, dalam banyak kasus, pasar keuangan tidak hanya bergerak berdasarkan data ekonomi, tetapi juga berdasarkan kepercayaan (confidence).
"Ketika rupiah dan IHSG sama-sama melemah, muncul risiko terbentuknya persepsi negatif yang dapat memicu arus keluar modal lebih lanjut," papar Ronny.
"Karena itu, stabilisasi ekspektasi pasar menjadi sama pentingnya dengan kebijakan ekonomi itu sendiri," tambahnya.
Di sisi lain, fenomena pelemahan nilai rupiah sendiri masih dianggap sebagai faktor utama dibalik melemahnya pergerakan IHSG. Hal ini sendiri juga dibuktikan lewat IHSG yang pada Jumat (05/06) sore ini resmi ditutup dengan kembali tertekan di zona merah, dengan terkoreksi tajam sebanyak 231,81 poin, atau sebanyak 3,97 persen ke level 5.607,98.
Tidak hanya itu, pelemahan serupa juga terjadi kepada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45, yang juga ikut turun mendekati penutupan. Dalam hal ini, Indeks LQ45 terkoreksi sebanyak 23,17 poin, atau turun sebesar 3,99 persen ke level 557,75.***