BANGKAKOTA (Bagian Sebelas)
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
KOEBOEBANGKA (Kotabangka) atau Bangkakota yang kemudian disebut Belanda dengan Pankal Kotta...
--------------
MARKAS tempat Depati Bahrin, Batin Tikal, Juragan Selan, Demang Singayudha dan tokoh-tokoh pejuang Bangka lainnya yang disebut Belanda dalam laporannya sebagai pemberontak dari Banka, memang menjadi lokasi yang strategis untuk “kubu” atau “kota” (benteng pertahanan) bagi perlawanan rakyat Bangka melawan pasukan kolonial Belanda. Keletakan strategisnya Bangkakota telah digambarkan terdahulu dengan cukup jelas oleh residen Inggris untuk Palembang dan Bangka M.H. Court: “Beberapa mil Barat Laut dari gunung Permisan merupakan muara atau pintu masuk ke sungai Banca Cotta. Sungai ini walaupun tidak sangat lebar, namun merupakan sungai yang bagus untuk dilewati karena lebar sungainya sama besar dari muara sampai ke kota (benteng), yang terletak sembilan mil dari muara sungai. (Court, 1821:211,212).
Keberadaan Depati Bahrin yang dalam tulisan Belanda disebut Batin Barien dan pengikutnya di Bangkakota dan benteng di Bangkakota dijelaskan oleh A. Meis, Kapitein-Adjudant hij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandscht Oost-Indische leger, halaman 137 sebagai perlawanan berikutnya (titik perlawanan kedua) setelah perlawanan di Palembang. Selengkapnya A. Meis:
“Te Banka-kotta, op de westkust, nagenoeg tegenover de tweede punt van Sumatra, had zich eene magt van zeeroo vers met muitelingen van Banka en Palembang vereenigd en verschanst, tot welk laatste zij zich bediend hadden van eene, aldaar voor het Gouvernement verzamelde, hoeveelheid hout werken”.
Maksudnya adalah:
Di Banka-kotta, di pantai barat, praktis berlawanan dengan titik kedua Sumatra, sekelompok bajak laut telah bergabung dan membentengi diri bersama para pemberontak dari Banka dan Palembang; untuk tujuan yang terakhir, mereka telah menggunakan sejumlah kayu yang dikumpulkan membuat benteng di sana untuk melawan pemerintah..
Untuk menumpas perlawanan rakyat di Koeboebangka atau Kotabangka atau Bangkakota, pasukan militer Belanda harus melakukan beberapa kali penyerbuan. Pasukan militer Belanda di Bangka adalah pasukan militer yang telah terlatih dalam perang di Palembang (Elvian, 2016:23). Serangan atau penyerbuan pertama dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1819 Masehi, dilakukan melalui darat dan melalui laut dipimpin oleh Kapten Ege, kemudian pada bulan September Tahun 1819 terjadi serangan kedua dan terjadi pertempuran besar-besaran di Koeboebangka atau Bangkakota. Pada waktu itu Bangkakota diserang oleh pasukan Belanda dari darat dipimpin oleh Kapten Laemlin yang membawa pasukannya sekitar 230 prajurit dari distrik Pangkalpinang dan memulai serangan pada tanggal
14 September 1819, sedangkan serangan dari laut dilakukan oleh pasukan Belanda dengan empat buah kapal perang di bawah pimpinan Kapten Baker.
Pada serangan pertama dan kedua pasukan Belanda terhadap Koeboebangka atau Bangkakota, pasukan Belanda mengalami kekalahan yang sangat memalukan dan harus kembali ke Kota Muntok dan Kota Pangkalpinang. Berdasarkan catatan Belanda dikatakan, bahwa dari pihak Belanda tewas sebanyak 4 orang, 19 terluka, seorang perwira dan 45 prajurit mengalami kelaparan, 2 perwira dan 63 prajurit mengalami sakit, total 50 persen pasukan tidak mampu bertempur (Santosa, 2011:134). Satu hal yang tidak masuk akal dan mencengangkan, bahwa dalam laporan tersebut penyebab kekalahan 230 prajurit terlatih dari Eropa tersebut dikarenakan kelelahan dan terkena serangan penyakit (demam Bangka) serta kelaparan. Sungguh merupakan suatu cerita yang tidak masuk akal.
Karena minimnya persenjataan, dalam pertempuran selanjutnya Koeboebangka (Kotabangka) atau Bangkakota pada bulan Oktober Tahun 1819 Masehi dapat dikuasai oleh pasukan Belanda. Koeboebangka (Kotabangka) kemudian dibumihanguskan oleh pejuang rakyat yang kemudian menyingkir ke arah Utara melewati sungai Selan dan sungai Menduk menuju Kotaberingin (Kotawaringin), serta sebagian pasukan menyingkir ke Selatan menuju Nyireh (sungai Nyireh) dan hampir mendekati desa Pergam sekarang. Selanjutnya untuk menumpas perlawanan rakyat Bangka yang lari dari Koeboebangka atau Bangkakota ke Kotaberingin (Kotawaringin), pada bulan Maret Tahun 1820 Masehi, Letnan Reisz melancarkan serangan dengan membawa pasukan dari distrik Pangkalpinang. Sedangkan serangan dari laut dipimpin oleh Letkol Keer dan Raja Akil (Mayor Akil) dari Siak. Setelah pertempuran yang sengit, Kotaberingin berhasil diduduki pasukan Belanda dan Demang Singayudha serta Juragan Selan pemimpin perlawanan rakyat, gugur di medan pertempuran. Tampaknya peristiwa, pembunuhan terhadap residen Belanda Smissaert pada tanggal 14 November 1819 di dekat sungai Buku, di kampung Dauwet, perbatasan antara Desa Zed dan Desa Puding, menyebabkan dua tokoh yaitu Demang Singayudha dan Juragan Selan menjadi target utama pasukan militer Belanda, sementara Bahrin yang menyuruh melakukan pembunuhan berhasil menyelamatkan diri ke wilayah Djeroek. Dalam catatan A. MEIS, Kapitein-Adjudant hij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandscht Oost-Indische leger, halaman 142 disebutkan:
“De magt en overmoed der muitelingen nu lot zulk eene hoogte gestegen zijnde, dat het noodig werd tot offensive maatregelen over te gaan, en hen op het een of ander punt eenen gevoe ligen slag toe te brengen, wilde men, vooral op de oost kust , het verlies van belangrijke distrikten voorkomen, zoo besloot de Luitenant-Kolonel KEER , tevens met het oog op het hiervoren ontwikkelde plan, om eenen aanval op Kotta-waringien te doen”.