Durian, Kopi dan Revolusi
Ahmadi Sopyan-screnshot-
Eropa & Kopi Revolusi
KOPI yang biasanya hanya di minum saat kita sedang santai, ternyata memiliki sejarah dalam budaya intelektual. Bagaimana tidak, revolusi Amerika dan Prancis sendiri diawali dari stand kopi atau biasa disebut dengan caffe. Dalam revolusi Prancis sendiri, para propagandis atau para tokoh propaganda mengobarkan semangat (memprovokasi) rakyat Prancis melalui diskusi-diskusi yang mengambil tempat di caffe.
Hingga abad ke-17, pengetahuan orang-orang Eropa perihal kopi boleh dibilang sangat minim. Pada 1700-an, kopi produksi Jawa bersaing dengan kopi asal Mocha dan Yaman, sebagai produk kopi paling populer di dunia dan orang-orang Barat kian akrab dengan kopi. Awalnya, orang-orang Eropa memperlakukan kopi sebagai bahan medis yang memberikan efek positif pada tubuh. Dulu, kopi memiliki harga yang sangat mahal dan hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan kelas atas. Pada era 1960-an, kedai-kedai kopi di Inggris bermunculan. Akhirnya minuman ini menemukan dimensi sosialnya, dikonsumsi sembari berbincang ringan maupun hal yang berat. Maklumlah, kopi tidak asyik diminum langsung tuntas, ia harus diminum secara bertahap hingga tetes terakhir. Itulah mengapa kopi dan diskusi menjadi hal yang tak terpisahkan.
Ketika kopi menemukan dimensi sosilanya, ternyata tak lagi sekedar minuman yang dikonsumsi, tapi lebih dari itu kopi terlibat dalam banyak perubahan sosial-politik di Eropa. Linda Civitello mengatakan, untuk kali pertama orang (Eropa) memiliki alasan untuk berkumpul di ruang publik tanpa melibatkan alkohol. Kegiatan ini pun berkembang menjadi rutinitas sosial yang bersifat politis. Berita tersebar dari mulut-ke mulut di kedai-kedai kopi, melalui proses dialogis.
Para penguasa yang deg-degan, karena khawatir hal-hal politik dibincangkan orang di kedai-kedai kopi, mulai ambil kuda-kuda. Ide-ide yang beredar dalam diskusi di kedai-kedai kopi pada akhirnya terakumulasi dalam peristiwa Revolusi Prancis. Bukan cuma pulang kerja, kopi juga menjadi minuman energi sebelum memulai kerja. Kebiasaan ini mengakar dan terus menguat. Dalam waktu singkat, cafe-cafe baru mulai bermunculan dan menghasilkan trend kehidupan kafe yang hiruk pikuk dengan diskusi. Obrolan pun makin serius, keluh kesah perorangan berangsur-angsur menjadi keluh kesah kolektif yang tumpah mencari akar penindasan sesungguhnya. Dibawah semangat pencerahan (Aufklarung) dan romantisme, kelompok-kelompok ahli begadang bermunculan di Perancis. Hari demi hari obrolannya semakin serius, keluh kesah sekarang menjadi rencana aksi dan organisasi. Salah satu dari mereka adalah kelompok Jacobin yang menjadi episentrum gerakan revolusioner Perancis.
Ternyata, siapa sangka sekarung kopi dapat memenggal kepala raja Louis dan Maria Antoinette, merendam habis kejayaan feodalisme dan menyokong kecerdasan kaum borjuis. Tidak, ini bukan soal revolusi dan pertentangan, ini soal segelas kopi yang ada di depan kita. Bagaimana kita mengolah segelas kopi dalam pergolakan teko sejarah.
Nah, kontroversi yang dilahirkan oleh kopi tak berakhir sampai disini, sejarahnya berbagi dengan sejarah pergerakan sosial dan gejolak politik di berbagai belahan dunia. Kopi dan kandungan kafeinnya yang luar biasa mengaktifkan akal yang tertidur, melahirkan benih-benih pencerahan dan modernisasi. Kopi menjadi karunia alam dari Benua Hitam yang datang bersamaan dengan kutukan kecerdasan.
OYA, beberapa waktu lalu, saat sedang asyik ngopi dan ditemani durian Cumasi khas Bangka, seorang mahasiswa bertanya kepada saya: “Tahun ini durian ditempat kita luar biasa banyaknya, kira-kira ini pertanda apa?”. Mendapat pertanyaan tersebut, spontan saya pun menjawab: “Insya Allah ini membuktikan bahwa negeri kita masih dilimpahkan berkah, karena salah satu keberkahan berbentuk buah-buahan yang berasal dari pepohonan. Yang kedua, ini bisa jadi pelajaran buat kita semua bahwa tahun ini dan tahun-tahun yang kita lalui serta tahun yang akan kita lalui akan dipenuhi oleh janji-janji manis semanis durian. Nikmati durian secukupnya agar tidak “kedadak” dan suhu badan tak terlalu panas plus batuk-batuk, begitupula dengan janji-janji manis” pejabat di negeri ini. Makanya, makan durian yang manis ditemani kopi pahit tanpa gula. Itu nikmat banget!
Salam Kopi Salam Durian!(*)