Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Migrasi Jangka Panjang dan Keterkaitan Etnik di Bangka

Akhmad Elvian-screnshot-

Di samping migrasi jangka Panjang di atas terdapat migrasi jangka pendek yang dilakukan oleh orang orang Bugis dan Bone dari Sulawesi. Pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I (Tahun 1724-1757) kekuasaannya atas pulau Bangka terancam oleh kakaknya Sultan Anom Alimuddin yang membangun kekuasaan di Kubak (Stocade of Koba) (Tahun 1722-1732), dan puteranya Raden Klip membangun benteng di Pakuk (Paku), serta sekutunya Arung Mapala, bangsawan Makassar membangun benteng di atas puncak karang karang laut di Tanjoeng Ular. Dalam catatan Andaya dikatakan: Two-thirds of Bangka was under the control of either Arung Mappala or Sultan Anum (Andaya, 1993:187). Jumlah orang Bugis yang datang ke pulau Bangka pada masa itu terus bertambah, terutama yang datang dari beberapa negeri seperti Johor, Linggi, Batu Bara, dan Inderagiri. Puncaknya ketika menjelang akhir Tahun 1729 Masehi, seorang bangsawan Bone Arung Mappala tiba di Pulau Bangka dari Banjarmasin. Dengan menggunakan kekuatannya, ia mampu menegakkan otoritasnya atas sekitar 400 (empat ratus) orang Bugis yang saat itu menambang Timah di Bangka. Dia (Arung Mappala) membuat markasnya di Tanjung Ular, titik tertinggi berbatu yang terlindung dari serangan dari laut, dari titik yang menguntungkan kapal-kapal Bugis dapat mempertahankan garis pantai Utara pulau Bangka sebagai milik mereka. A test of Sultan Mahmud’s resolve came toward the end of 1729 when a Bone prince, Arung Mappala, arrived on Bangka from Banjarmasin. Using a combination of persuasion and force, he was able to assert his authority over about four hundred Bugis who were then mining tin on Bangka. He made his base on Tanjung Ular, a high, rocky point protected from sea attacks by a reef, from which vantage point Bugis ships were able to preserve the northern coastline as their own (Andaya, 1993:187). Sultan Mahmud Badaruddin I mempertahankan pulau Bangka melalui Toboali (benteng di Oud/Oud Toboali yang dalam Kaart van het Eiland Banka zamengesteld  in 1845-1846 door H.M. Lange terletak antara sungai Tagak dan Bacoon/Bakung dan Bukit Nangka) dengan mengerahkan 5.000 pasukan dan 130 Kapal. Atas bantuan VOC (Abraham Patras), pada Tahun 1731 Masehi, Arung Mappala berhasil diusir dari Tanjung Ular melalui serangan dari laut, selanjutnya Arung Mappala kembali ke Banjarmasin dan 100 pasukannya tertawan. Pasukan VOC (Abraham Patras) selanjutnya melewati darat menyerang benteng Raden Klip di Paku dan Raden Klip kemudian lari ke pulau Madura. Pasukan VOC selanjutnya dari Paku dan Bangkakota menuju Koba. Sepanjang perjalanan mereka menghancurkan benteng-benteng Sultan Anom dan akhirnya pada bulan Agustus 1731 Masehi, berhasil menghalau Sultan Anom dengan 500 pengikutnya dari Koba ke pulau Belitung. Pada Tahun 1735 Masehi, Sultan Anom Alimuddin kembali menyerang Palembang; Ia ditangkap dan dibunuh (Schuurman, 1898:9n). Tanpa bantuan VOC (Abraham Patras), Sultan Mahmud Badaruddin I, bisa saja kehilangan pulau Bangka dan seluruh kekayaan Timah dan Ladanya, termasuk Gambir dan Kapas. Bantuan yang diberikan VOC tidak cuma-Cuma akan tetapi dengan syarat harus membayar semua biaya perang yang telah dikeluarkan, dan sultan wajib "membasmi" semua tanaman Gambir dan tanaman Kapas di pulau Bangka. Kebijakan ini yang mengakibatkan tanaman Gambir dan Kapas tidak lagi dihasilkan di pulau Bangka. Sultan Palembang dan VOC kemudian hanya mengeksplorasi mineral Timah di pulau Bangka.

Selanjutnya pada masa antara Tahun 1792 Masehi pulau Bangka mengalami kesulitan karena diserang oleh bajak laut. Diceritakan kembali dari Tuhfat al-Nafis: Sejarah Melayu dan Bugis, karangan Al-Marhum Raja Ali al-Haji Riau (ed. Munir bin Ali), Singapura: Malaysia Printers, 1965: “Panglima Raman merampok dari Bangka ke Jawa, membawa banyak tahanan dan membawa mereka ke Lingga. Pada saatnya orang-orang Bangka datang untuk menikmati hidup di Lingga dan mereka mendirikan kebun-kebun dan kampung-kampung dan tidak mau kembali lagi. Kadang-kadang kerabat mereka berasal dari Bangka tidak melalui perampokan tetapi secara sukarela dan menyerahkan diri kepada sultan Mahmud, dengan demikian kemudian Lingga menjadi padat penduduknya”. Sangat mungkin yang dimaksudkan dengan orang Bangka yang datang secara sukarela ke Lingga adalah keluarga Abang Tawi di Mentok yang dihukum sultan Palembang. Mereka pindah ke Lingga dipimpin oleh Abang Abdoelraoef, putera Abang Tawi. Saat itu hampir separuh penduduk Mentok telah siap berangkat pindah ke Lingga, akan tetapi sultan kemudian mengutus seorang Arab bernama Said Ali Bin Syeikh membujuk sebagian keluarga jauh Abang Tawi untuk tetap tinggal di Mentok. Orang Mentok yang pindah ke Lingga dibantu oleh Panglima Raman dan kemudian ditempatkan di pulau Singkep. Orang-orang Mentok keluarga abang Tawi, kemudian secara sembunyi-sembunyi banyak membawa orang-orang dari Sungailiat dan Merawang untuk menambang Timah di Singkep. Pada Tahun 1793 Masehi, Panglima Raman menaklukkan Koba (Horsfield, 1848:52;224).***

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan