Migrasi Jangka Panjang dan Keterkaitan Etnik di Bangka
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’Akhmad Elvian, DPMP
Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung
Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
DALAM sistem kelautan Indonesia, kawasan pantai Sumatera merupakan bagian dari kesatuan wilayah perairan yang meliputi Laut Cina Selatan dan Selat Malaka.
----------------
KHUSUSNYA yang dibatasi oleh pantai Timur Sumatera dan pantai Kalimantan Barat, jadi yang mencakup pulau pada alur-alur pelayaran di sela-sela Kepulauan Riau dan Lingga serta Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Sesungguhnya perairan ini berperan sebagai penghubung antara “negeri di atas angin” (yakni sub negeri Benua India di sebelah Barat Laut, Persia dan negeri Arab), Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusantara lainnya di sebelah Timur (“negeri di bawah angin”), dan Muangthai, Vietnam, serta Asia Timur di sebelah Utara. Oleh sebab itu sejak dahulu kala penguasaan perairan tersebut merupakan tujuan utama dari setiap kekuatan politik yang muncul di sini dari masa ke masa (Lapian, 1992:144). Kawasan tersebut semakin ramai ketika wilayah Kepulauan Bangka dan Belitung sangat kaya akan mineral Timah (Pahang) dan sebagai penghasil Lada Putih (Sahang). Ahli epigrafi Louis Charles Damais (1995:85), dalam bukunya Efigrafi dan Sejarah Nusantara: Jakarta: Pusat Penelitian Arkenas, mengatakan, sumber-sumber kesusasteraan dari luar negeri khususnya India yang menyebut tentang Sumatera, antara lain dari Kitab Milindapanca yang ditulis sekitar abad I Sebelum Masehi, dan Kitab Mahaniddesa yang ditulis sekitar abad III Masehi menyebut nama-nama pulau, seperti Jawadwipa (Pulau Jawa), Swarnabhumi (Pulau Sumatera), dan Vangkadwipa atau Wangkadwipa. Pulau (Dwipa) yang dalam Bahasa Sanksekerta disebut Vangka atau Wangka berarti Pulau penghasil Timah.
Akibat letak Kepulauan Bangka Belitung berada di negeri di antara angin, dan terbuka dengan dunia luar, maka terjadi migrasi jangka Panjang ke wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan bentuk pemukiman penduduk pribumi Bangka memilki ciri tersendiri sebagai wilayah yang terbuka seperti didiskripsikan oleh Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka
M.H. Court: Pemukiman penduduk asli umumnya dibentuk berbentuk bujur sangkar, rumah Batin, atau kepala, berada di pusat (maksudnya di posisi tengah), dan seluruh sisi kampung dibatasi oleh pagar atau benteng. Kampung merupakan pemukiman yang nyaman dan rapi, meskipun kecil, dan umumnya rumah mengangkat beberapa kaki dari tanah (maksudnya rumah panggung). Orang-orang kampung karena merupakan bagian dari masyarakat yang tinggal di pulau (terbuka), mereka cenderung, memiliki semangat dan kemampuan untuk mempertahankan diri dari terobosan (serbuan) bajak laut (Court, 1821:203).
Migrasi awal yang kemudian menjadi pembentuk awal kebudayaan dan peradaban di Pulau Bangka adalah Orang Darat dan Orang laut berasal dari migrasi gelombang kedua pesebaran bangsa Austronesia yang disebut Deutro Melayu (Melayu Muda) (Elvian, 2012:11). Bangsa ini menyebar ke Asia Tenggara seiring dengan pesebaran kebudayaan zaman logam sekitar Tahun 500 Sebelum Masehi. Bangsa Deutro Melayu memiliki peradaban yang maju dalam bidang astronomi, pelayaran dan bercocok tanam serta tekhnologi perundagian. Pada masa ini sudah dikenal teknik peleburan, percampuran, penempaan dan pencetakan jenis-jenis logam seperti tembaga, timah, perunggu, besi dan bahkan emas. Temuan arkeologis terak (sisa pembakaran) logam dan peripih yang berisi perhiasan emas di candi situs Kotakapur Bangka sekitar abad VI Masehi mempertegas, bahwa bangsa Deutro Melayu juga menyebar ke Pulau Bangka (Elvian, 2011:95).
Karakteristik orang Darat atau orang Gunung didiskripsikan secara singkat oleh Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka: “The character of the Orang Goonoongs, or natives of Banca, may be expressed in a few Words. They are an honest, simple, tractable, and obedient people; in personal appearance much more attractive than the same description of people at Palembang” (Court, 1821:214), maksudnya: karakter Orang Goonoongs (orang Gunung), atau penduduk asli pulau Bangka, dapat diekspresikan dalam beberapa kata. Mereka adalah orang yang jujur, sederhana, penurut, dan patuh; dalam penampilan pribadi jauh lebih menarik daripada orang yang sama di Palembang.
Sementara Orang Laut, penduduk pribumi Pulau Bangka atau sering disebut Orang Sekak Pengembara Laut (sea dweller), tergambar dari pantun yang mereka ucapkan pada lagu di tarian “Gajah Manunggang”: Genihmu Pait lah kalau adalah genih la mupait, Pahit genihlah mupait, Tolonglah bado kami di rantau, Budimu baik dikalau adalah budimu baik, Baik budilah mu baik, menjadi ngako kami kenangkan. Tari Gajah Manunggang dilakukan setelah kegiatan Besimbur dalam rangkaian tradisi Muang Patung atau Muang Jung orang Laut pribumi Bangka orang Sekak. Tarian Gajah Manunggang menggambarkan kehidupan orang Sekak dalam mengarungi ganasnya lautan sebagai tempat tinggal mereka, sebagaimana nenek moyangnya Bangsa Deutro Melayu yang memiliki peradaban maju dalam bidang astronomi dan pelayaran. Orang Laut mengenal penguasa laot dengan nama Bujang Awang dan Dayang Inak serta Bujang Bisuk atau Dayang Item. Tiap bagian wilayah kosmologis laut, pasti diatur oleh satu diantaraNya. Ada beberapa lokasi kosmologi yang kerap digunakan oleh orang Sekak melakukan tradisi Kuneng Nambek (upacara mengundang Arwah) dan tradisi Muang Patung atau Buang Jung (upacara rasa syukur kepada penguasa lautan agar hasil laut melimpah dan diberikan keselamatan selama berada di laut) yaitu di pulau Semujur Bangka Tengah, kampung Kumbung Bangka Selatan, tanjung Ru dekat teluk Kelabat dan pulau Gosong Cina di Belitung Timur.
Etnik group berikutnya yang migrasi ke Kepulauan Bangka dan Belitung adalah Orang Cina. Secara resmi mereka sengaja didatangkan ke pulau Bangka pada masa Kesultanan Palembang Darussalam diperintah Sultan Mahmud Badarudin I Jayo Wikramo (memerintah pada 1724-1757 Masehi) dan masa Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (memerintah pada 1757-1776 Masehi). Sultan mendatangkan pekerja-pekerja Cina untuk menambang Timah guna meningkatkan produksi Timah di pulau Bangka berasal dari Semenanjung Malaka, Vietnam, Laos, Kamboja dan Pattani. Sampai saat ini orang Tionghoa Bangka mewariskan dialek bahasa sendiri yaitu Chineesch dialecten (dialek Cina), dengan penutur hampir di seluruh wilayah distrik dan under distrik di pulau Bangka. Orang Tionghoa menyebut pulau Bangka dengan “Pangka-To” (To, berarti pulau), sebagian orang Hakka yang bekerja di tambang Timah yang masih terikat pada kontrak penambangan (Singkek) menyebut pulau Bangka dengan sebutan “Mong-Kap-San”. Wilayah Mong-Kap-San terdiri atas Delapan wilayah yang disebut dengan Pat-Kong-Mun, yaitu: 1) Buntu yang menyatakan tentang wilayah Mentok; 2) Nampong yang menyatakan wilayah Jebus; 3) Bli-Jong yang menyatakan wilayah Belinyu; 4) Liet-Kong yang menyatakan wilayah Sungailiat; 5) Liu-Sak yang menyatakan wilayah Batu Rusa atau Merawang; 6) Pin-Kong yang menyatakan wilayah Pangkalpinang; 7) Komuk yang menyatakan wilayah Koba; dan 8) Sabang yang menyatakan wilayah Toboali.
Migrasi terakhir di pulau Bangka adalah orang Melayu yang berasal dari Johor, Semenanjung Malaka, dan Siantan. Kedatangan Orang Melayu ke pulau Bangka juga menyebabkan terjadinya akulturasi dan asimilasi antara Orang Melayu dengan Orang Darat dan Orang Laut pribumi Bangka serta dengan Orang Cina. Asimilasi dan akulturasi menyebabkan terjadinya pembentukan budaya baru dan keberagaman budaya di pulau Bangka sebagaimana dijelaskan oleh M.H. Court, residen Inggris untuk Palembang dan Bangka, bahwa: “The native population of this district, both in appearance and character, does not accord with that of the more northern part of the island. A great intermixture of various classes of Malayese with the Orang Goonoongs, has not only occasioned a variation of countenance and manner in the people of this part of Banca, but has engendered, also, more intelligence, or perhaps, more properly speaking, cunning and duplicity, than we find amongst the untutored race to the northward” (Court, 1821:202). Terjemahan maksud M.H. Court kira-kira sebagai berikut: “Penduduk pribumi daerah ini (maksudnya di Selatan Bangka), baik penampilan maupun kepribadiannya tidak sama dengan orang-orang bagian Utara dari pulau (Bangka) tersebut. Percampuran yang kuat antara berbagai kelas orang Melayu dengan orang Gunung, telah menyebabkan tidak hanya keragaman wajah dan perilaku orang-orang Bangka ini, tetapi juga melahirkan orang-orang yang lebih intelek atau mungkin lebih culas, pandai bicara dan lebih munafik daripada orang-orang yang kurang terpelajar yang kami temukan ke arah bagian Utara (Bangka Utara)”. Hal ini menunjukkan telah terjadi percampuran antara orang Melayu dengan pribumi Bangka, baik di bagian Utara pulau Bangka maupun di bagian Selatan pulau Bangka yang melahirkan karakteristik masyarakat baru di Pulau Bangka.