Dalam tradisi tasawuf, ada gagasan tentang membersihkan diri dari “berhala-berhala batin”: kesombongan, kerakusan, iri hati, dan cinta dunia yang berlebihan. Dalam konteks ini, thawaf bisa dipahami sebagai simbol perjalanan melawan ego. Setiap putaran bukan sekadar langkah fisik, tetapi latihan untuk keluar dari diri yang sempit menuju kesadaran yang lebih luas. Yang menarik, thawaf juga memiliki pesan sosial yang sangat kuat. Saat thawaf, semua orang bergerak dalam ritme yang sama. Tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, atau kekayaan. Semua memakai pakaian sederhana dan menghadap pusat yang sama.
Ada pesan egalitarian di sana yang menegaskan bahwa manusia pada dasarnya setara di hadapan nilai yang lebih tinggi. Pesan ini terasa sangat relevan di tengah dunia hari ini yang semakin timpang dan terfragmentasi. Ketimpangan ekonomi melebar, polarisasi sosial mengeras, dan solidaritas kolektif melemah. Masyarakat modern seperti kehilangan “pusat bersama”. Setiap kelompok hidup dalam orbitnya masing-masing.
Di tengah situasi seperti itu, thawaf menghadirkan kritik sekaligus harapan. Ia mengingatkan bahwa hidup yang sehat membutuhkan pusat nilai yang jelas. Gerak tanpa orientasi hanya akan melahirkan kelelahan kolektif.
Ada satu hal menarik lagi dari thawaf yaitu gerakan yang dinamis, tetapi mengelilingi sesuatu yang diam. Ka’bah tetap di tempat, sementara manusia bergerak mengitarinya. Dari sini kita dapat belajar bahwa di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, manusia tetap membutuhkan prinsip-prinsip yang tidak berubah. Tanpa prinsip, manusia mudah hanyut oleh tren. Hari ini ikut satu arus, besok ikut arus lain. Hidup menjadi reaktif, bukan reflektif.
Karena itu, thawaf kehidupan bukan ajakan untuk meninggalkan dunia, melainkan ajakan untuk kembali menata orientasi hidup di dalam dunia. Kita tetap bekerja, berpolitik, berbisnis, berkarya, dan berinteraksi sosial. Tetapi semua itu perlu memiliki pusat nilai yang sehat agar hidup tidak berubah menjadi sekadar putaran tanpa makna.
Pada akhirnya, mungkin problem terbesar manusia modern bukan karena ia terlalu banyak bergerak, tetapi karena ia lupa apa yang sedang ia kelilingi. dengan demikian, thawaf menjadi refleksi yang sangat relevan bahwa hidup bukan sekadar tentang bergerak cepat, melainkan tentang memastikan ke mana seluruh gerak itu diarahkan. Wallahu’alam bisshowab. (Sumber kemenag.go.id dengan judul yang sama)