Hal serupa juga terlihat dalam dunia akademik. Banyak orang mengejar gelar, publikasi, indeks sitasi, atau jabatan akademik, tetapi perlahan melupakan esensi ilmu itu sendiri. Pengetahuan kehilangan ruh transformatifnya. Akademisi sibuk mengejar angka, bukan makna. Kita menyaksikan orang-orang “berthawaf” mengelilingi metrik dan administrasi, bukan pencarian kebenaran.
Dalam kehidupan sehari-hari pun, situasi ini terasa dekat. Banyak orang hidup dalam rutinitas yang padat tetapi hampa. Bangun pagi, bekerja, lelah, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Semua dilakukan secara otomatis, nyaris tanpa refleksi. Kita bergerak terus, tetapi tidak benar-benar hadir dalam hidup yang sedang dijalani.
Di era konsumerisme, fenomena ini bahkan tampil dalam bentuk yang lebih simbolik. Mall, misalnya, sering menjadi ruang “thawaf” modern. Orang datang bukan selalu karena kebutuhan, tetapi karena dorongan psikologis untuk merasa “ada”. Kita berjalan mengelilingi etalase, merek, dan diskon seperti mengelilingi pusat makna baru.
Bedanya, jika thawaf dalam ibadah berpusat pada tauhid, maka thawaf konsumerisme berpusat pada komoditas. Merek menjadi identitas. Barang menjadi simbol status. Belanja bukan lagi sekadar aktivitas ekonomi, tetapi cara mencari pengakuan sosial. Dalam masyarakat modern, seseorang sering dinilai bukan dari siapa dirinya, tetapi dari apa yang ia miliki dan tampilkan.
Filsuf Prancis Jean Baudrillard pernah mengatakan bahwa masyarakat modern tidak lagi mengonsumsi barang karena kebutuhan, tetapi karena makna simboliknya. Orang membeli citra, membeli status, membeli rasa diterima. Karena itu konsumsi tidak pernah benar-benar selesai. Hasrat selalu diperbarui. Keinginan selalu diproduksi ulang. Akibatnya, manusia terus bergerak tanpa pernah merasa sampai.
Padahal, jika kita refleksikan kembali makna inti thawaf justru terletak pada kesadaran terhadap pusat itu sendiri. Dalam ibadah, Ka’bah bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol tauhid yang menegaskan bahwa seluruh hidup manusia seharusnya berorientasi pada sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.
Artinya, thawaf bukan hanya soal berjalan mengitari Ka’bah, tetapi tentang menata ulang orientasi hidup. Tentang memastikan bahwa semua aktivitas seperti pekerjaan, politik, ilmu, relasi sosial, tidak kehilangan nilai dasarnya.
Pertanyaan pentingnya kemudian: apa sebenarnya “Ka’bah” dalam hidup kita hari ini? Apakah pusat hidup kita masih nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, kemanusiaan, dan pengabdian? Ataukah diam-diam telah bergeser menjadi uang, popularitas, jabatan, dan validasi sosial? Pertanyaan ini penting karena manusia selalu bergerak mengelilingi sesuatu. Tidak ada hidup yang benar-benar netral. Persoalannya hanya satu yaitu pusat itu layak atau tidak untuk dijadikan orientasi hidup.