Ketika mudik, saya terbawa kenangan masa kecil. Anak-anak di seberang jalan mencari jajanan ke rumah warga. Dengan tawa riang, mereka mengharap mendapat banyak jajanan. Satu dua gerombolan bocah dengan senyum riang akhirnya sampai jua di rumah kami. Dengan hangat mereka menciumi tangan bunda setelah misi mereka berhasil, yaitu mendapat kue dan jajanan yang lumayan banyak.
Orang di kampung kami biasa menyebutnya dengangan putieng-putieng, semacam kebiasaan atau tradisi anak-anak berburu jajanan selepas buka puasa. Mereka mencari jajanan dan makanan ringan ke rumah-rumah. Apalagi di momen spiritual seperti halnya Ramadan, paling tidak mereka semakin semangat berpuasa esok harinya. Tradisi putieng-putieng di kampung kami telah hidup turun temurun, biasanya kami melakukan di ujung bulan puasa.
Betapa bahagia anak-anak itu, mungkin hal itu yang saya rasakan ketika masih bocah. Polos, tak paham segala konflik dan beban. Dunia yang bebas, sebebas ikan di ujung-ujung samudera. Ikan-ikan yang menyelami lautan bebas. Anak yang tak merasa sedikitpun pusingnya masalah orang dewasa.
Si Laras dengan pelastik merahnya ikut putieng-putieng. Ia merasa sedih karena banyaknya makanan kecil hanya separuh pelastik saja. Laras sedikit terisak, sembari mencicip kue cokelat dengan bungkus bergambar superhero terbang berbaju biru. Jajanan miliknya dirampas segerombol anak-anak lelaki.
Anak bungsu di keluarga kami itu sendu. Saya bertanya dan menunjuk segerombolan anak laki-laki sedang memakan jajanan Laras di depan surau, mereka kabur. Gerombolan anak lelaki itu takut nanti jajanan Laras akan saya rebut kembali. Laras melihat jauh di halaman rumah, sebagian jajanannya telah melayang.
Anak lelaki kecil bernama Topik masuk ke dalam rumah. Ia menghampiri Laras dengan jajanan dua plastik besar hasil berpetualang saat putieng-putieng, Topik berbagi jajananya dengan Laras. Akhirnya si Laras bisa makan jajanan sepuasnya. Ia tak lagi risau karena hasil buruan putieng-putiengnya melayang.
Tak lama kemudian si Topik datang membawa jurnal ramadan. Si juara kelas teman Laras itu harus menerima kenyataan kedua ortunya tidak mudik karena bekerja di Jakarta. Si bintang kelas itu tinggal bersama pamannya. Lebaran esok sudah kedua kalinya orang tua Topik tidak mudik. Ia tak menyerah, meski harus membantu pamannya bekerja serabutan.
Ia kirimkan foto-foto kue putieng-putieng ke orang tuanya di Jakarta. Saya mengajari nenek mengoperasikan gawai, beliau yang ketinggalan zaman menjadi sadar, jarak dan waktu sudah bukan lagi masalah, tapi mudik tak dapat digantikan dengan kebahagiaan apapun saat lebaran. Berbahagialah saya karena masih bisa mudik dan berkumpul bersama orang tua. Mudik adalah simbol kebahagiaan. Penanda perubahan zaman yang tak lagi sama dari waktu ke waktu. ***