Di rantau kamu akan menemukan saudara baru. Di seberang kita akan menemukan orang-orang yang menyayangi kita, bahkan melebihi saudara sedarah. Di tempat jauh adalah gudangnya ilmu, apalagi kau meraihnya sampai ke negeri Cina. Di sanalah jendela dunia akan terbuka, tidak hanya menghamba pada acara Dunia Dalam Berita TVRI.
Saat mudik saya menemukan fakta yang sama, orang-orang akan melakukan sungkem. Itulah yang harus kita jaga, membuat tradisi lebaran tak luntur. Mulai dari urutan paling tua, ayah dan ibu akan sungkem pada kakek dan nenek. Setelahnya, saya akan sungkem pada ayah, ibu, atau paman.
Jiwa merantau membuat tradisi tahunan serasa indah, yaitu mudik. Anak muda seperti kami bahagia ketika waktu itu datang. Tangan kami seperti lepas dari rantai dan borgol. Bahagia kala mudik lebaran mirip keluar dari tahanan.
“Berarti kamu tidak senang bulan puasa? Kalau lebaran datang kamu bahagia, berarti kamu kesal dengan Ramadan?”
Tentu saya menjawab tidak, “Saya bahagia dengan puasa. Puasa adalah ladang pahala, tempatnya melatih diri dari hawa nafsu dan sabar.”
Kalau bulan puasa bisa bicara, ia akan menjawab “Preettt!!””
Dalam hati yang jujur memang saya sangat kesal dengan bulan puasa. Kami tak bisa ngopi di pagi hari. Bekerja pun terasa lemas karena menahan lapar dan haus.
Tetapi andai pahala puasa itu diperlihatkan seperti emas sebesar gunung, mungkin tanpa disuruh pun orang akan puasa. Sayangnya pahala itu tidak terlihat, maka banyak orang justru merayakan ketika Ramadan itu pergi.
##