Sekarang listrik di kampung kami bukanlah barang mahal. Apalagi setelah orang-orang mengenal internet, dari anak kecil sampai lansia semakin keranjingan dengan benda yang bernama gawai. Hingga ABG atau jompo tak ada lagi bedanya karena filter.
Belum lagi ledakan mercon, dari ukuran kecil-kecil hingga sebesar ember. Dar, der, dor bersahutan bersaing dengan takbir hari raya yang terlantun. Meski sederhana, paling tidak itulah perayaan “besar” bagi kami para pemudik tuk menyambut kemenangan.
Nenek kemarin bertanya, “Itu kok ada kotak rokok bisa ngomong sendiri?”
Nenek belum paham kalau benda itu bukan bungkus rokok, tapi gawai. Orang biasa menyebutnya hape. Beliau rupanya masih tertinggal tiga puluh tahun ke belakang. Wajar, karena kesehariannya hanya seputaran mengunyah sirih. Beliau tak menyadari perputaran bumi yang sudah mencapai bermilyar-milyar kali. Sehingga setelah mudik sebanyak tiga puluh kali pun, nenek masih berada di mudik tahun ke satu.
Untung saja nenek tahu kalau Indonesia sudah berganti beberapa presiden. Ada presiden seniman, presiden prajurit, teknokrat, ulama, presiden wanita, bahkan pengusaha mebel pun ada. Untung saja beliau tak mengibarkan bendera Belanda. Paling tidak nenek masih menonton panjat pinang atau balap karung pertanda kita negara merdeka.
Kampung kami adalah penyumbang urbanisasi terbesar di pulau ini. Jadi wajar, saat Idul Fitri kampung kami riuh bak pasar tumpah bubar. Yang tadinya malam hari adalah milik belalang dan burung hantu, kali ini ratusan mobil memenuhi jalanan dari ujung barat hingga timur.
Mengapa memilih urbanisasi? Karena di kampung kami lebih sering paceklik daripada panen. Lebih sering, orang mengeluh sembari mencari kutu daripada berbicara prospek ekonomi ke depan. Lebih sering kawin cerai, dibandingkan investasi.
Sejak zaman dahulu, tradisi merantau adalah identitas turun temurun. Entah bekerja atau sekadar kuliah seperti saya, pergi dari desa adalah yang terbaik. Itulah yang membedakan kampung kami dengan daerah lain di pulau ini. Jika ingin maju, maka merantaulah, asal jangan lupakan tempat di mana kamu pulang yaitu kampung halaman.