“Lebih baik uangnya kita pakai untuk keseharian kita," jawab Bak.
“Kau dan adik-adikmu butuh biaya untuk sekolah,” imbuhnya.
Jawaban Bak kali ini menambah rasa kagumku kepadanya. Bak rela mengorbankan kesenangan dan kebahagiannya demi untuk masa depan keluarga. Padahal beberapa waktu yang lalu aku tidak sengaja mendengar Bak berbicara dengan Mak, akan sangat bahagia jika memiliki keruntung yang baru.
“Tapi bagaimana kalau nanti ikannya banyak yang jatuh, Bak?”
Merespons pertanyaanku, Bak hanya menaikkan bahunya.
“Berarti itu bukan rezeki kita,” kata Bak.
Jawaban terakhir Bak membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jawaban terakhir itu seolah memberikan pelajaran bahwa rezeki itu sudah diatur oleh yang memberi rezeki. Jawaban terakhir itu seolah menasbihkan bahwa sekuat apapun kita mencari rezeki, jika belum ditakdirkan untuk kita maka tidak akan dapat, namun jika sudah ditakdirkan sebagai rezeki kita, pasti akan menghampiri.
“Nah…sudah selesai”
Bak memandangi keruntung yang baru saja diperbaikinya. Aku salut dengan Teknik menyulam Bak, keruntung yang tadinya dikuasai oleh lubang, sekarang tampak rapi dan seperti baru lagi. Dan yang paling penting adalah keruntung itu bisa digunakan lagi. Dengan bangga Bak memperhatikan keruntungnya dari segala sisi. Sesekali Bak tampak tersenyum kecil. Tampaknya Bak sangat puas dengan hasil kerjanya.
**
Hari ini aku duduk sendirian di teras rumah. Keruntung warna merah punya Bak masih tergelatak di bawah sebuah pohon randu. Keruntung itu sudah tidak terawat lagi. Tulisan yang ada sudah mulai pudar diserang oleh panasnya matahari dan tajamnya air hujan. Beberapa lubang di sisi kanan dan kiri serta alasnya benar-benar sudah menguasai keruntung.