Jika dahulu pondok pesantren tertutup dengan dunia luar, berbeda dengan pesantren kekinian yang justru memiliki kerja sama dengan banyak pihak luar. Banyak contoh pondok pesantren yang sudah bekerja sama dengan lembaga luar demi untuk memajukan dan mengubah image di masyarakat terhadap pondok pesantren.
Untuk lebih mendukung transformasinya pondok pesantren juga harus mau membuka diri terhadap masukan dan ide-ide dari semua kalangan. Pondok pesantren jangan merasa alergi terhadap masukan yang sifatnya memang konstruktif. Jangan sampai ada pondok pesantren yang ngotot mempertahankan kultur mereka, tapi ternyata kultur itu sendiri akan merusak trust masyarakat.
Semisal adanya masukan dari wali santri demi kemajuan pondok pesantren tentu harus diakomodir. Intinya komunikasi dua arah harus dilakukan oleh pondok pesantren. Yang harus dilakukan selanjutnya oleh pondok pesantren dalam rangka memuluskan transformasinya adalah memperbaiki manajemennya. Seperti sudah dimaklumi dan menjadi commonsense bahwa pesantren lekat dengan figur kyai dengan berbagai sebutannya misal Buya di Sumatera Barat, Ajengan di Jawa Barat, Bendoro di Madura dan Tuan Guru di Lombok serta banyak lagi sebutan lainnya.
Kyai dalam pesantren merupakan figur sentral otomotif dan merupakan pusat seluruh kebijakan dan perubahan. Kyai berkedudukan sebagai tokoh sentral dalam tata kehidupan pesantren, sekaligus sebagai pemimpin pesantren. Dalam kedudukan ini nilai kepesantrenannya banyak tergantung pada kepribadian kyai sebagai suri teladan dan sekaligus pemegang kebijaksanaan mutlak dalam tata nilai pesantren.
Peran kyai memang tidak akan tergantikan, namun peran stakeholder yang lainnya juga tidak kalah urgen. Adanya tenaga administrasi yang kompeten, ustadz/ustadzah yang profesional, dukungan dari eksternal yang kuat akan semakin memperlancar transformasi pondok pesantren. Jika semua stakeholder dari “dipekerjakan” sesuai dengan tupoksinya, maka transformasi pondok pesantren ke arah yang lebih baik akan benar-benar paripurna.
Terbukti hanya pondok pesantren yang mau berubah, yang akhirnya mampu bertahan dan eksis hingga kini. Dari materi klasik menjadi ditambah materi ketrampilan, dari tertutup menjadi terbuka dengan seluruh elemen maupun lembaga masyarakat yang memiliki tujuan yang sama yaitu membangun bangsa melalui pendidikan. Perubahan pelayanan pendidikan pondok pesantren, yang awalnya hanya terpaku pada kitab kuning yang akhirnya berubah menjadi pondok pesantren yang ber-dunia formal serta berteknologi.***