Di Bawah Bianglala

Di Bawah Bianglala

Jumat 31 Oct 2025 - 19:33 WIB
Reporter : Admin
Editor : Budi Rahmad

“Iya betul kata siput tua, lebih enak kalau tidak ada lagi sampah di daerah ini,” kucing orange yang manis menimpali pertanyaan siput tua.

 

“Kalau tidak ada lagi yang buang sampah sembarangan, aku tidak bisa lagi mendapatkan tulang-tulang ayam seperti dulu,” jawab anjing hitam masih dengan gerak-geriknya menggaruk ketiak. 

Sesekali anjing itu mencium ketiak yang digaruknya tadi. Begitulah aktifitasnya selama musyawarah. Dia bergantian menggaruk ketiak kiri kemudian ketiak kanannya. Seolah rasa gatal itu tidak sirna walau sudah digaruk berulang kali.

 

Mendengar alasan anjing, siput tua dan kucing orange hanya menganggukkan kepala. Mereka berdua sudah faham kenapa si anjing tidak setuju dengan pembangunan wahana megah tersebut. 

 

“Aku juga tidak setuju,” tukas tikus curut yang sering tinggal di selokan. Ia berucap sambil mengeluarkan bunyi khasnya, mericit. 

 

Tikus curut itu berbadan kecil, dengan luka lecet di kaki kirinya akibat terkena beling waktu dikejar manusia tempo hari. Mulut muncungnya dihiasi kumis tipis berjumlah enam helai.

 

“Dulu aku sangat mudah mencari rezeki lewat got yang ada di sekitar sini. Sekarang semua selokan dan parit sudah ditutup oleh orang itu.” 

 

Semua peserta rapat menoleh ke arah sebuah baliho besar yang ditunjuk tikus curut tadi. Di sana terpampang gambar seorang pejabat sedang tersenyum dengan tulisan jargon di bawahnya. Mereka mafhum bahwa memang pejabat yang di baliho itulah yang memprakarsai lahirnya wahana megah tersebut.

 

“Kalau aku sangat mendukung adanya wahana itu” giliran kucing orange yang manis mengungkapkan pendapatnya. Sambil ia menggerakkan pantat dan ekornya seperti hendak menggoda pejantan. Sangat kemayu kalau kata orang Jawa.

Tags :
Kategori :

Terkait