Politik Gagak Bersuara Murai
Ahmadi Sopyan-screnshot-
“Bagaimana menjadi pemilih cerdas?” kepada sang penanya saya jawab:
“Pemilih cerdas adalah orang yang bisa membedakan mana alkohol mana teh botol, mana arak mana teh kotak, mana dokter mana sales skincare, mana roti mana tai. Sebab dimasa sekarang ini, di Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka, banyak burung Gagak berkamuflase suara murai”.
“Tapi Bang, kita bingung karena banyak kawan-kawan kita yang muda justru bukan bersikap kritis, tapi malah jadi timses calon?” gerutu salah satu mahasiswi. Kepada mahasiswi ini saya jawab dengan pepatah Melayu: “Dimana anjing menyalak, disitu biawak memanjat”
***
SEMAKIN pesatnya perkembangan zaman dan canggihnya teknologi serta semakin modernnya peradaban dunia, maka semakin instan pula perilaku masyarakat kita. Perilaku instan itu ternyata membuat anak negeri semakin “kreatif” dalam “menciptakan” atau mengolah sesuatu dengan cara-cara yang instan pula guna mencapai apa yang diharapkan.
Tidak hanya Supermie, bubur, atau bumbu masak yang dikenal instan, tapi perilaku-perilaku instan ini di negeri ini pun kian hari kian merajalela. Untuk menjadi seorang tokoh tak perlu banyak berkarya ditengah masyarakat, tak perlu susah payah menanam investasi sosial, tapi cukup dipoles, tampil beberapa kali di media online, lalu ngoceh tak jelas alias dengan sedikit arahan berupa nasehat selanjutnya dibuat kalimat “seorang tokoh”. Begitupula untuk menjadi pengurus sebuah organisasi atau partai, tak perlu juga mengawali diri dengan menjadi kader militan apalagi bersusah payah mengikuti kaderisasi dari nol. Tapi cukup dengan uang dan popularitas atau nama besar, termasuk keturunan, jabatan di sebuah organisasi atau partai bisa dipesan.
Selanjutnya untuk menjadi seorang wakil rakyat pun bisa diperoleh dengan instan. Dalam kehidupan sehari-hari tak usah banyak berbuat kepada masyarakat, tak usah sering muncul dalam berbagai kegiatan, tak perlu memberikan ini itu dan sebagainya, toh pemilu masih jauh. Ketika sudah mendekati Pemilu, barulah menjadi Sinterklas atau Dewa Penolong dengan cukup membagikan oleh-oleh kepada masyarakat setiap bertandang. Blusukan dan silaturrahmi seakan-akan menjadi sifat dasar walaupun semuanya adalah palsu.
Virus perilaku instan yang membuahkan kepalsuan ini juga menjangkiti generasi muda kita. Perkenalan singkat yang diteruskan dengan tindakan tabu suka sama suka sudah bukan rahasia lagi di kalangan remaja kita yang baru mulai mekar. Populernya lagu “Pacar Satu Malam” dan “Keong Racun” adalah fenomena sosial di tengah generasi muda kita. Bait lagu “Dasar kau keong racun, baru kenal ngajak tidur…..” ini membuktikan bahwa cara-cara instan telah menular bebas ditengah generasi muda kita. Akhirnya fenomena kawin cerai yang dulu sangat dihindari bahkan bisa membuat malu keluarga besar kini menjadi fenomena yang sudah biasa ditengah masyarakat modern.
Pada akhirnya, perilaku palsu yang kian marak dalam berbagai bidang dan profesi adalah salah satu penyebab rusaknya demokrasi yang berujung pada tatanan negara, termasuk orang-orang yang akan memimpin negeri ini, yaitu di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka. Jangan pernah tertipu suara Murai, tapi sesungguhnya adalah Gagak.
***
PROSES demokrasi sekarang ini belum mampu menghadirkan pemimpin sejati. Kepemimpinan menjadi komoditas yang dapat diperjual-belikan. Akibatnya mereka yang punya kelebihan energi (uang) yang menang. Kita saksikan adegan gerak politikus tanpa ideologi dan kebijakannya tanpa kaidah filosofi. Mereka dengan mudah loncat dari satu partai berganti lain partai, yang penting bisa nongkrong ditempat tinggi.
Akhirnya banyak kemudian calon pemimpin yang dilekatkan dengan citra tertentu. Figur ini merakyat karena suka blusukan dan cengengesan sebagaimana rakyat umumnya. Lain lagi dengan sosok yang satunya, misalnya dekat dengan ulama, atau pemimpin yang satu lagi tercitra sebagai sosok dermawan. Itu semua menjadi ingatan kolektif yang didapat masyarakat atas citra pemimpin atau calon pemimpinnya. Yang pada akhirnya, tak bisa mengelak bahwa elektabilitas didahului oleh populernya seseorang lewat citra yang melekat pada dirinya.
Begitulah wajah demokrasi saat ini. Para pemilih dihadapkan dengan beragam citra yang bertaburan di berbagai media, baik media mainstream berupa kanal cetak dan elektronik, maupun alat peraga yang berhamburan di jalanan. Beberapa diantaranya memang mengalami kesulitan untuk membedakan mana yang benar-benar pemimpin dan mana yang sekedar menampilkan pencitraan palsu.
Pada akhirnya bukan hanya Ayu Ting Ting yang tertipu oleh janji dan harapan palsu dengan lagu “Alamat Palsunya”, tapi semua kita sudah bercengkerama erat dan sudah kian akrab dengan kepalsuan. Tak hanya barang atau benda yang bisa dipalsukan seperti rambut palsu, alis mata palsu, bibir palsu, tapi juga sudah kian marak pemimpin palsu, wakil rakyat palsu, tokoh palsu, aktivis palsu, artis palsu, bintang iklan palsu, pacar palsu, paspor palsu, uang palsu, hadits palsu, ayat palsu, oli palsu, suara palsu, alis mata palsu, bibir palsu, ijazah palsu, titel palsu, gelar palsu, surat palsu, akun twitter palsu, facebook palsu, polisi palsu, tentara palsu, dokter palsu, obat palsu, pejabat palsu, ustadz palsu, pendeta palsu, nabi palsu, dukun palsu, bahkan gigi palsu pun masih dipalsukan.
Waaaah…, kepalsuan di negeri ini sudah merajalela. Saran saya segera pulang ke rumah, periksa isteri atau suami Anda dengan detail, jangan-jangan palsu juga!