Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Waspada! Rupiah Terus Melorot!!

Ilustrasi-screnshot-

INI tidak bisa lagi dianggap biasa! Waspada rupiah terus melorot!

--------------------

NILAI tukar yang sudah menduduki posisi lebih dari Rp 18.000/Dolar Amerika Serikat (AS), mulai disorot banyak pihak.  Terutama pengamat ekonomi.

Terdepresiasinya nilai tukar rupiah ini terbilang sudah melampaui ambang batas psikologis dan fundamental, terutama kepada pasar dan sektor industri di Indonesia.  Bahkan Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyoroti akan adanya potensi kenaikan haga barang impor yang ditransmisikan ke harga barang secara umum.

"Ada imported inflation (inflasi dari barang yang berkaitan dengan impor). Pelaku usaha akan menaikkan harga dari barang secara umum, dan menyebabkan inflasi dari sisi biaya," ujarnya.

Efeknya adalah daya beli masyarakat terancam terus tertekan, terutama bagi sektor kelas menengah yang memang banyak terpapar barang yang berkaitan dengan impor.  Ketika daya beli melemah, maka yang terjadi adalah permintaan barang secara agregat akan mengalami penurunan. Dan itu semakin memukul daya beli masyarakat secara umum.

Istana Koordinasi Intens

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membantah jika pemerintah baru melakukan koordinasi saat rupiah melemah.  Ia memastikan pemerintah terus melakukan rapat secara intens guna membahas kebijakan stabilitas rupiah.

"Kita rapatnya intens," kata Prasetyo.

Bahkan, kata Pras, pemerintah juga secara intens melakukan pertemuan terhadap pelaku otoritas ekonomi.  Namun demikian, ia menyebut meskipun hasilnya belum langsung terlihat pada pergerakan nilai tukar rupiah, bukan berati pemerintah tak melakukan koordinasi.

"Ya kan ya bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens terus belum menghasilkan seperti yang kita harapkan, kemudian kita tidak ada komunikasi kan nggak begitu juga," paparnya.

Prasetyo menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi banyak faktor sehingga tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu kebijakan atau langkah tertentu.  Karena itu, diperlukan kerja sama erat antara otoritas fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi.

"Ini kan semua bagian dari upaya. Naiknya nilai tukar Rupiah itu kan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor, faktor variabelnya juga banyak gitu. Kemandirian kita secara ekonomi itu juga mempengaruhi kekuatan mata uang kita gitu," ungkapnya.

"Ada beberapa yang masih ketergantungan impor, itu juga akan mempengaruhi," sambungnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan