Pasukan Belanda Dalam Menghadapi Perlawanan Depati Amir
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
DEPATI Amir, adalah pejuang tangguh dan berbahaya, perlawanannya di Bangka Tahun 1848-1851, mengguncang jagat Batavia,...
--------------
TIDAK kurang dari 250 tambang Timah Belanda berhenti beroperasi, dan sekitar 5000 pekerja tambang menganggur, berakibat kas negara Belanda dari Timah Bangka berkurang. Bangka dalam “staat van beleg” (negara dalam keadaan darurat), Empat Kompi pasukan dari Dua batalyon infanteri beserta 5 kapal perang uap canggih dikirim untuk menumpasnya. Iapun dikhianati, dikejar, dikepung dan ditangkap. Residen J.C Maan setelah 83 tahun perlawanan Depati Amir bahkan masih menyebutkan dalam vervolg Memorie van Overgave, Residen van Bangka en Onderhoorigheden van 8 Juni 1934-1 Juli 1938, ARA-DH,hal.7: In 1851 werd Amir door militaire patrouilles opgejaagd en gevangen genomen, dit is de laatste maal gewesest dat mat militairen tegen de Bangkaneezen is opgetreden”.
Kepalanya dihargai dengan jumlah fantastis: 1000 dolar Spanyol (Sp. matten). Dengan kekuatan militer dan barisan pemburu hadiah dan penghianat, Depati Amir ditangkap, ditahan di Markas militer Belanda, kemudian ditahan di kapal Api Unrust di Teluk Kelabat, seterusnya dihukum di Batavia dan selanjutnya pada 9 Maret 1851, dibuang ke Kupang, Keresidenan Timor dengan kapal Api Argo yang transit dulu di Surabaya dan kemudian dengan Kapal Api Banda menuju Pelabuhan Kupang. Depati Amir melalui perjuangannya, menjadi penyebab berbagai perubahan sosial pada masyarakat Bangka. Di Keresidenan Timor perjuangan dilanjutkan hingga akhir hayat, 28 September 1869, dalam bentuk Dakwah Islam, peninggalannya Masjid Baitul Qadim di Airmata dan Masjid Al Ikhlas di Bonipoi Kota Kupang.
Beberapa pernyataan dan pendapat tentang Depati Amir dari orang Eropa yang cukup objektif tercatat dalam literatur yang cukup lengkap dan mengantarkan sosok Depati Amir kemudian menjadi Pahlawan Nasional dari Kepulauan Bangka Belitung, mulai dari pernyataan Orang Jerman, Dr. F. Epp dalam bukunya “Schilderungen aus Hollandisch-Ostindien”, 1841 halaman 219 mengatakan: ”Der Depatti Barin zeigte sich hier als ein tuchtiger Guerillafuhrer, indem er und sein Sohn, der Depatti Amir, sich stets unsichtbar zu machen wussten, wenn sie in die Enge getrieben waren” (Depati Bahrin menunjukkan dirinya sebagai pemimpin gerilya yang ulung; Ia dan puteranya, Depati Amir, selalu dapat menghilang, bilamana mereka terdesak). Selanjutnya Epp dalam buku yang sama halaman 201: “Der Depatti Amir ist ein gefahrlicher Mensch von verdachtigem aeussern”, bahwa Depati Amir adalah seorang yang berbahaya dan raut wajahnya selalu mencurigakan.
Residen Belanda sendiri Saverijn Haesebroek dalam surat yang dikirimkan kepada Gubernur Jenderal, Belinju 26-1 1851/ XIV-A (ANRI:BL: 25-3-1851 No.13 hal.3) menyatakan dan mengakui: ...” bahwa pemberontak Amir banyak punya kepentingan besar, dan bilamana tak tepat waktu ambil tindakan keras (diubah menjadi Tindakan militer), pemerintah Bangka masih bertahun lamanya dengan kesulitan yang luar biasa dan akan mendapat kesulitan”. Kemudian W.A. van Rees, seorang petinggi militer Belanda, dalam buku yang ditulisnya: Wachia, Taykong en Amir, Rotterdam:H. Nijgh, 1859, pada halaman akhir 220 menyatakan: “Pasukan-pasukan yang didatangkan itu berturut-turut kembali ke Jawa. Mereka tidak dapat berbangga pada perwira-perwira perang yang gemilang, pada kemenangan yang diperoleh dalam asap mesiu dan genangan darah; mereka hanya menunjuk pada wajah-wajah mereka yang lesu, tak sehat pada anggota-anggota badan mereka yang kurus, pada tempat-tempat yang kosong dalam barisan mereka dan pada rumah sakit Mentok yang penuh sesak. Saat kembali, tidak ada kerumunan pengagum yang bersorak gembira dari ibu kota Hindia Belanda yang berbondong-bondong ke tempat pendaratan, dan jika surat kabar tidak mengumumkan dengan meriah berakhirnya pemberontakan, tentara Hindia Belanda tetap tahu bahwa kekuatan militer di Banka sekali lagi telah memenuhi tugasnya dan telah berkorban untuk kebesaran Belanda.”. Selengkapnya: “De expeditionnaire troepen keerden achtereenvol geus naar Java terug. Zij konden niet snoeven op glanzende wapenfeiten , op roemvolle overwinningen in wolken van kruiddamp en stroomen van bloed bevochten; zij wezen slechts op hunne ziekelijke gelaatstrekken en vermagerde ledematen, opde ledige plaatsen in hunne gelederen, en op het volle hos pitaal van Muntok. Stroomden er bij hunne terugkoinst geene jubelende scharen van bewonderaars uit N. I. hoofdplaats naar de ontschepingsplaats, kondigden de dagbladen niet met zwierigen ophef het einde eens opstands ,- het Indische leger wisttoch, dat de mili taire magt op Banka wederom haren pligt betracht en hareoffers gebragt had aan degrootheid van Nederland”. Terakhir Sang Residen Belanda F. van Olden yang dipecat karena gagal menumpas perlawanan Depati amir dalam bukunya De muiterij van Amir: “betapa sulitnya medan perang di pulau Bangka yang terdiri dari lembah, sungai, bukit, rawa-rawa, padang ilalang dan hutan belantara yang sulit ditembus sehingga menyulitkan upaya penangkapan Depati Amir”.
Dalam berbagai sumber sejarah terutama dari Arsip Nasional Republik Indonesia diketahui tentang jumlah pasukan militer Belanda dalam mengatasi perlawanan Depati Amir, misalnya dari laporan komandan militer Belanda Mayor DW. Becking tentang komposisi dan jumlah pasukan yang berada di markas militernya di Bakem yaitu sebagai berikut:
Markas Besar dipimpin oleh dirinya sendiri yaitu Mayor Becking, dengan ajudan di Bakem, Letnan Satu Harrevelt, Petugas Medis Wildeman, dibantu Kepala Jaksa Aripien. Selanjutnya Garnisun terdiri atas 5 Perwira di antaranya Kapten Doorschodt, Letnan Satu van Kluyven, Letnan Dua Doerleben dengan 70 bintara dan prajurit.
Selanjutnya pada beberapa pos pos militer yaitu: di Poeding, yaitu 1 perwira Letnan Dua de Petit) dengan 25 bintara dan prajurit; di Nibong. 1 bintara dan 25 prajurit; Mabet, 1 bintara dan 22 prajurit; Wilayah Layang yang berhubungan dengan Teluk Kelabat dan jalur keluar pulau Bangka dengan pasukan 2 perwira yaitu Letnan Satu Dekker, Letnan Dua Veenhuyzen dengan 60 prajurit; selanjutnya untuk wilayah Tiangtara ditugaskan 1 perwira yaitu Van der Schriek, dengan 25 orang prajurit; untuk wilayah Ampang (sekarang Kelapa) tempat pos militer strategis yang kemudian diserang oleh pasukan Hamzah atau Tjing di bawah 2 perwira yaitu Kapitein Buys, dan Letnan Dua Schepens dengan 56 prajurit; kemudian untuk wilayah Trentang dengan 1 bintara dan 16 prajurit; wilayah Loemoet dibawah 1 bintara dengan 13 prajurit; Dingding-Papan terdiri atas 1 bintara dan 12 prajurit; Petaling dengan 1 perwira Van Kluyven dengan 12 Prajurit; selanjutnya daerah Tadjabla (maksudnya Tadjaubelah) dengan 1 bintara dan 15 Prajurit; Sed dengan 1 bintara dan 12 prajurit; selanjutnya di wilayah Moendar dengan kekuatan 1 bintara dan 11 prajurit.
Di samping pasukan militer tersebut terdapat detasemen barissan yang direkut militer Belanda, yaitu orang bumiputera berasal dari berbagai daerah di Hindia Belanda termasuklah para bekas tahanan Belanda, yang kemudian ditempatkan di semua pos militer. Beberapa pos di wilayah yang dianggap kurang penting hanya dijaga oleh barissan. Letak pos-pos militer Belanda dibuat sangat sederhana berbentuk bujur sangkar dan diberi pagar kayu keliling dari jenis kayu yang kuat dan keras di dalamnya didirikan beberapa rumah pondiok dari kayu. Perlindungan atau pos militer ini dianggap cukup efektif untuk menghadapi perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir. Pos-pos militer Belanda kemudian menjadi sasaran penyerangan dan pembakaran oleh pasukan Depati Amir dengan siasat perang gerilya.
Sesuai dengan masukan dan strategi militer dari Kolonel Buschens, komisaris dari Keresidenan Palembang yang diutus oleh Pemerintah Hindia Belanda pada bulan April 1850 untuk mempercepat menyelesaikan perang di Bangka, yaitu dengan pendirian pos pos militer di kampung kampung, kemudian dilakukan patroli militer secara terus menerus untuk mendesak Depati Amir dan pasukannya bergerak dari daerah Tampui dan Belah di kaki gunung Maras ke arah selatan menuju daerah sisi jalan raya atau jalan besar yang menghubungkan Mentok ke Pangkalpinang atau pada daerah yang hampir tidak ada penduduknya guna memutus mata rantai logistik dan persenjataan Depati Amir beserta pasukannya.