Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Pengiyok

Syabaharza.-Dok Pribadi-

Oleh: Syabaharza

LELAKI berambut gondrong itu sering dipanggil pengiyok. Entah sejak kapan penamaan itu melekat pada dirinya. Kondisinya yang acak-acakan semakin mengesahkan bahwa ia tidak pernah merawat dirinya. Rambutnya yang panjang namun tidak pernah kenal dengan sisir itu semakin membuat wajahnya tertutup. 

 

Jika ia menatap maka sangat sulit ditebak ke mana arah pandangannya. Dari sela-sela rambut panjangnya masih terlihat samar-samar kumis dan janggut yang tidak kalah liarnya. Baju yang melekat di badannya compang-camping dengan beberapa lobang bekas sobekan di beberapa bagian. Celana yang dipakainya juga sudah amburadul. Jika melihat kakinya akan sungguh sangat memprihatinkan, kuku hitam dan panjang sangat nyata terlihat.

 

Warga desa sudah lama mengenal lelaki yang tinggal sendiri di sebuah gubuk kecil itu, tetapi warga sengaja mengucilkannya karena kebencian yang sangat luar biasa terhadapnya. Warga muntab disebabkan oleh keluarga lelaki itu. 

 

Konon dahulu keluarga lelaki itu sering menipu dan berbohong ketika bergaul dengan warga desa. Imbasnya menimpa lelaki itu. Ketika seluruh anggota keluarganya meninggal, lelaki itu langsung dimarginalkan. Sehingga lelaki itu hanya bisa tinggal di gubuk reot peninggalan orang tuanya tersebut. 

 

Mungkin saja ia menganggap gubuknya itu bagai sebuah istana yang nyaman untuk ia tinggali. Atau mungkin saja ada suatu kenangan yang tidak bisa ditinggalkan dan dilupakannya dalam gubuk itu. Pernah suatu ketika lelaki diusir keluar desa, tetapi beberapa hari kemudian ia kembali lagi ke peristirahatannya itu. Karena sikap keras kepala lelaki itulah yang membuat warga desa seolah tidak peduli lagi dengan kehidupannya.

 

Di tengah keapatisan warga terhadap lelaki itu, ada satu orang yang selalu rutin mengunjunginya setiap sore bakda Asar. Orang itu bernama Seraul. Hampir setiap sore, Seraul datang kepada lelaki itu. 

 

Anehnya lelaki itu selalu menyambut Seraul dengan baik. Bahkan terkadang kedua lelaki itu lupa waktu jika sudah bertemu. Warga desa tidak tahu dan mungkin saja tidak ingin tahu apa yang dilakukan dan diperbincangkan kedua lelaki itu. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan