Tekan Kemiskinan Ekstrem dengan Program Stimulus
Tekan Kemiskinan Ekstrem dengan Program Stimulus.-Antara-
KOBA - Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menggencarkan berbagai program stimulus ekonomi dan intervensi sosial, untuk menekan angka kemiskinan ekstrem di daerah itu.
Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman di Koba, Senin, mengatakan program stimulus difokuskan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar memiliki daya tahan dan keberlanjutan usaha. “Program bersifat stimulus ini tentu saja untuk menggerakkan roda perekonomian, terutama para pelaku UMKM,” kata Algafry.
Pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) juga mendorong penguatan sektor perikanan dari hulu hingga hilir, mulai dari pembenihan, budi daya ikan air tawar, hingga pengolahan produk berbahan baku ikan yang melibatkan keluarga nelayan.
Pemkab Bangka Tengah juga memperkuat intervensi sosial melalui pemantauan langsung ke masyarakat, terutama kelompok, rentan seperti ibu hamil dan menyusui, guna memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terjaga.
Upaya tersebut juga didukung dengan penyaluran bantuan nutrisi seperti susu secara masif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dalam aspek pendataan, pemerintah daerah bekerja sama dengan BPS guna memperoleh data terbaru terkait kemiskinan ekstrem sekaligus mengidentifikasi akar penyebabnya.
Pemerintah daerah juga akan melakukan pemutakhiran data kemiskinan ekstrem berbasis lapangan sebagai dasar intervensi menuju target nol persen pada 2026.
Algafry mengatakan penanganan kemiskinan ekstrem mesti dilakukan secara kolaboratif lintas OPD agar intervensi yang diberikan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. “Namun, yang pasti kemiskinan ekstrem menjadi bagian dari fokus kami, terutama dalam aspek pencegahan,” ujarnya.
Berbagai upaya tersebut, kata dia, merupakan bagian dari dukungan pemerintah daerah terhadap target pemerintah pusat untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada 2026.
Dalam konteks kebijakan nasional, kemiskinan ekstrem merupakan kondisi ketika pengeluaran masyarakat berada di bawah garis kemiskinan paling rendah, yakni hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar minimum. Secara global, indikator ini juga mengacu pada standar sebesar 2,15 dolar AS per kapita per hari (paritas daya beli).
Menurut Algafry, pencapaian target nol persen kemiskinan ekstrem membutuhkan proses bertahap dan tidak dapat dilakukan secara instan, meskipun tren penurunannya mulai terlihat. “Tidak bisa serta-merta angkanya langsung turun, paling tidak secara grafik sudah menunjukkan tren menurun,” ujarnya. (ant)