Catatan dari Balik Layar TKA SMPN 2 Dendang
Andy Muhtadin.-Dok Pribadi-
Oleh: Andy Muhtadin
Kepala SMP Negeri 2 Dendang
Layar monitor Chromebook itu berkedip-kedip pelan di ruang ujian SMP Negeri 2 Dendang. Di luar, langit mendung menggelayut, membawa kecemasan yang lebih dari sekadar soal-soal logika yang harus dipecahkan oleh 53 murid kelas IX. Hari itu, pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 bukan hanya sekadar rutinitas administratif semata, melainkan sebuah palagan pembuktian bahwa sejauh mana sistem pendidikan kita mampu berlari di atas kaki digitalnya sendiri.
Catatan dari balik layar di SMPN 2 Dendang ini menjadi mikrokosmos dari wajah besar asesmen nasional kita saat ini. Sebuah cerita tentang integritas yang di jaga ketat oleh penyelia melalui via Zoom, namun di saat yang sama pula harus tertatih karena keterbatasan sarana dan gangguan alam.
//Awalnya Menghakimi Sekarang Memetakan
Jika kita menarik benang merah sejarah masa lalu, rangkaian asesmen di Indonesia telah mengalami metamorfosis yang luar biasa, hingga saat ini. Pada era 80-an hingga awal 2000-an, kita mengenal adanya ujian EBTA dan EBTANAS. Era itu adalah era di mana ada "Rezim Skor Tunggal".
Untuk kelulusan seorang murid selama tiga tahun ia duduk di bangku sekolah setingkat SMP/MTS/SMA/SMK/MA dan 6 tahun lamanya bagi anak SD/MI, ditentukan hanya dalam hitungan hari melalui Nilai Ebtanas Murni (NEM) saja. Fokusnya adalah pada hafalan. Sebabnya sangat sederhana karena pemerintah butuh standarisasi masal yang mudah dikoreksi secara manual. Akibatnya, terjadi dehumanisasi pendidikan, murid di anggap robot penghafal materi pembelajaran.
Lalu memasuki era Ujian Nasional (UN) dan kemudian menjadi UNBK (Berbasis Komputer), teknologi mulai masuk. Namun, filosofinya masih tetap sama. Standarisasi yang bersifat menghukum (punitive). Sekolah yang nilainya rendah di cap gagal, yang pada akhirnya menimbulkan pemicu kecurangan sistemik demi gengsi sekolah dan suatu daerah.