Mudik
Marhaen Wijayanto.-Dok Pribadi-
Cerpen Marhaen Wijayanto
Sekali waktu saya berjalan menyusuri kampung, tempat asal saya dilahirkan. Mudik kali ini saya menapaki jejak masa kecil yang kini terasa indah dan tak terulang kembali. Selepas mudik tahun kemarin, setahun bukanlah waktu yang lama untuk dilalui. Sejauh apapun kaki kita melangkah ke perantauan, pasti kan kembali di hari yang dinanti apalagi tiga hari lagi puasa selesai.
Kembali ke mesin waktu itu, ketika saya masih kecil, manusia harus bersentuhan langsung jika ingin dekat. Tidak ada jarak satu mili pun yang jadi alasan untuk bertemu sapa. Itu yang kita rindu. Sedangkan orang-orang zaman sekarang terlalu larut dalam perjumpaan semu. Katanya kenal, tapi belum pernah saling bertemu. Katanya akrab, tetapi tak tahu berbicara dengan siapa itu. Sekat pemisah itu bernama telepon genggam dan internet.
Beda lubuk, beda pula ikannya. Katanya mudik tak perlu bertemu dengan orang tua langsung, tetapi cukup dengan saling sapa dari jarak jauh. Dengan mudahnya kita bisa saling memaafkan tanpa harus bertemu dan berada di tempat yang sama. Saat kita memegang benda canggih berbentuk kotak kecil, lalu orang yang berbicara dengan kita tampak dari benda itu, anggaplah itu sebuah pertemuan.
Mudik sekarang beda dengan masa kecil dulu. Zaman lampau, pertemuan lebih berharga meski telah berkabar melalui surat atau ucapan lewat kartu pos. Arti pertemuan zaman dahulu ya berjumpa langsung, bukan lewat kabel atau sinyal. Kita pernah berada pada masa, di kala jabat tangan dan tegur sapa tak tertandingi dengan teknologi. Kala sungkem dan salam menandai mudik yang sebenarnya, bukan ucapan lewat video jarak jauh.
Mudik tiga puluh tahun lalu berbeda. Menawarkan gambar abu-abu di album foto yang kusam. Menertawakan mudik zaman sekarang yang serba canggih. Tidak pulang, tapi video call saja. Saya pernah jadi saksi, sebuah masa yang membully perayaan mudik zaman modern.
Saat debu dan asap menyapa jalanan di kampung. Masa di kala listrik belum menjangkau rumah-rumah. Satu kampung ramai-ramai menonton televisi yang satu desa hanya satu orang yang punya. Tertawa bersama, kala film warkop DKI mengocok perut atau kita mesti memutar tiang antena yang berasal dari bambu, karena sinyal siaran masih kurang pas.
Sekarang jalanan kampung kami sudah sangat bagus, berbeda dengan debu mengepul berasal dari pengais timah di masa lalu. Tiga puluh tahun adalah waktu yang indah, sama sekali tak terpikirkan akan kita rindukan sekarang.