Malam Seribu Bulan
Syafi'i.-screenshot-
Syafi'i
Inspektur III, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama
Mengapa Allah memberikan lailatul qadr kepada umat Nabi Muhammad? Mengapa waktu tibanya dirahasiakan? Apa makna dibalik firman Allah lailatul qadr lebih baik daripada seribu bulan? Itulah sejumlah pertanyaan yang sering muncul di kalangan umat Islam.
Benar bahwa pada setiap Ramadan terdapat satu malam yang sangat istimewa, yang disebut lailatul qadr. Keistimewaannya karena lailatul qadr memiliki keutamaan melebihi seribu bulan. Artinya, seseorang yang mendapatkan keutamaan malam ini dia telah meraih kebaikan yang nilainya setara dengan 83 tahun lebih 4 bulan, bilangan yang melebihi usia rata-rata umat Muhammad SAW.
Oleh karena itu, setiap mukmin dianjurkan untuk berlomba meraih kemuliaan malam al-Qadr.“Carilah lailatul qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan” (H.R. Bukhari dan Muslim bersumber dari Aisha bint Abu Bakr).
Al-Qadr dalam frase lailat al-qadr memiliki banyak arti: kemuliaan dan keagungan; penetapan takdir; serta kesempitan. Dinamakan "kemuliaan dan keagungan" karena kedudukannya sangat mulia, nilainya lebih baik daripada seribu bulan, dan pada malam itu Allah menurunkan rahmat dan keberkahan yang besar.
Disebut "penetapan takdir" karena, seperti kata Al-Tabari dan Al-Qurtubi dalam memahami Q.S. Ad-Dukhan/44: 3-5, pada malam itu Allah SWT menetapkan berbagai urusan untuk satu tahun ke depan: rezeki, ajal, dan berbagai peristiwa kehidupan. Disebut juga sebagai "kesempitan" karena merujuk pada Q.S. al-Qadr/97: 4, pada malam itu malaikat turun ke bumi secara masif, sehingga bumi terasa “penuh sesak” (Al-Alusi, 1996).
//Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadr