Baca Koran babelpos Online - Babelpos

BANGKAKOTA (Bagian Satu)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP.

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

 

DI Pulau Bangka, kota-kota atau pusat peradaban kuno biasanya didirikan di daerah pantai dan dekat dengan muara sungai.

----------------

KARENA kota di Pulau Bangka pada umumnya berfungsi sebagai pelabuhan pendukung (feeder point) atau dalam bahasa Melayu Bangka sering disebut dengan pangkal atau pengkal. Pelabuhan pendukung (feeder point) merupakan pusat perdagangan lokal kecil yang melayani entrepot-entrepot (tempat penyaluran barang) dan pusat pengumpulan regional yang penting (Elvian, 2011:93). Pengkal atau pangkal menangani produk khusus dari zona ekonomi tertentu. Berbeda dari entrepot, distribusi dari pelabuhan pendukung ditentukan oleh dekatnya tempat ini ke daerah-daerah sumber atau zona pemasok. Pelabuhan pendukung memperlihatkan ciri-ciri sangat dekat dengan tempat pusat asal produksi barang-barang dan kerap kali terdapat di pertemuan aliran sungai di daerah pedalaman dan muara sungai kecil di pantai (Trisulistyono, dkk, 2003:V). Hasil-hasil kerajinan seperti tikar kajang; hasil hutan seperti rotan, kayu gaharu, madu, lilin madu, kemeyan, damar, pinang, dan opih pinang, kayu wangi species Gonstylus Bankanus; hasil pertanian dan perkebunan seperti padi, umbi-umbian, sayuran dan Lada (Sahang); serta hasil pertambangan seperti Timah dan Besi dibawa melalui jalur sungai atau melalui jalan darat dari pusat-pusat penghasil ke pangkal atau pengkal kemudian komoditas-komoditas tersebut dibarter (disilor) atau diperjualbelikan bagi kebutuhan masyarakat maupun pedagang yang membutuhkan dan komoditas yang dianggap penting laku di pasaran dunia dibawa ke entrepot-entrepot dan pelabuhan utama di luar Pulau Bangka.

Pengertian kota yang sederhana sebagai pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi dan kebudayaan (pusat peradaban), berkembang di Pulau Bangka pada awalnya di daerah-daerah di wilayah pesisir Barat Pulau Bangka, seiring dengan berkembangnya pusat-pusat peradaban besar di Pantai Timur Pulau Sumatera dan peran strategis Selat Bangka dan Selat Malaka bagi jalur perdagangan dunia. Kota-kota kuno di Pesisir Barat Pulau Bangka tersebut seperti di Kotakapur (abad 5-7 Masehi), dalam pengaruh Kedatuan Sriwijaya; Wilayah Menduk, Kuala Menduk, Cempurak, Depak dan Jeruk serta wilayah Punggur dalam pengaruh Keprabuan Majapahit (abad 13-14 Masehi); Kotawaringin, Bangkakota (abad 17 Masehi), Jebus, Sungaiselan, dan Toboali (sekitar abad 18 Masehi), dalam pengaruh Kesultanan Johor, Minangkabau, Banten dan Palembang Darussalam. 

Dalam sistem kelautan Indonesia, kawasan Selat Bangka merupakan bagian dari kesatuan wilayah perairan yang meliputi Laut Cina Selatan dan Selat Malaka, khususnya yang dibatasi oleh pantai Timur Sumatera dan pantai Kalimantan Barat, jadi yang mencakup pulau alur-alur pelayaran di sela-sela Kepulauan Riau dan Lingga serta Kepulauan Bangka dan Belitung. Sesungguhnya perairan ini berperan sebagai penghubung antara “negeri di atas angin” (yakni sub negeri benua India di sebelah Barat Laut, Persia dan negeri Arab), pulau Jawa dan pulau-pulau Nusantara lainnya di sebelah Timur (“negeri di bawah angin”), dan Muangthai, Vietnam, serta Asia Timur di sebelah Utara. Oleh sebab itu sejak dahulu kala penguasaan perairan tersebut merupakan tujuan utama dari setiap kekuatan politik yang muncul di sini dari masa ke masa (Lapian, 1992:144). Pantai Timur Sumatera dan pantai Barat Bangka serta selat Bangka berada dalam posisi yang sangat menguntungkan dalam jalur pelayaran dan perdagangan dimasa lampau, ketika dunia pelayaran masih bergantung pada sistem angin muson yang berubah-ubah arah tujuannya setiap Enam bulan. Tak pelak lagi di kawasan ini lalulintas dari segala arah bertemu untuk menantikan angin yang cocok agar para pelayar bisa melanjutkan perjalanannya. Dan, tidaklah mengherankan jika pantai ini dianggap sebagai “Pantai Niaga yang disenangi” (the favoured commercial coast) di kawasan Barat Indonesia, sebagaimana yang telah diuraikan secara panjang lebar oleh O.W. Wolters dalam karyanya tentang masa sebelum Sriwijaya. Kota-kota sebagai pusat peradaban di Pulau Bangka, yang awalnya berada di Pesisir Barat Pulau Bangka kemudian mulai bergeser ke wilayah Pesisir Timur Pulau Bangka seperti Kota Belinyu, Sungailiat, Baturusak, Merawang, Pangkalpinang dan Koba pada awal dan pertengahan abad 18 Masehi, seiring dengan berkembangnya distrik-distrik penghasil Timah produktif yang dikelola oleh Sultan Kesultanan Palembang Darussalam (masa VOC) dan pada masa kekuasaan bangsa asing kulit putih (Bangsa Inggris dan Belanda). 

Berita tertulis tentang Pulau Bangka setelah Prasasti Kotakapur kemudian disebut sebagai daerah taklukan Majapahit diperoleh dari hikayat raja-raja Pasai. Kejayaan Majapahit atas Pasai (Tahun 1350 Masehi) mendorong Sang Nata melakukan perluasan daerah taklukan. Ia minta kepada Patih Gajah Mada bersama dengan Tumenggung Macan Negara, Demang Singa Perkasa, dan Senapati Ing Alaga untuk menaklukkan sebagian Sumatra: Ujung Tanah, Tioman, Bangka, Belitung, Riau, dan Bintan serta sebagian Kalimantan: Sambas, Mempawah, Sukadana, Kota Waringin, dan Banjar. Selain itu, bala tentara Majapahit juga berlayar ke arah Timur menaklukkan beberapa wilayah di Timur seperti Bima, Sumbawa, Selaparang, Bali, dan Blambangan. Semua kerajaan itu menyatakan takluk kepada Majapahit dan secara teratur menyerahkan upeti kepada Sang Nata Majapahit (Hill, 1960:100-102 ; Jones, 1987:71). Pada masa Majapahit berkuasa di Pulau Bangka Dua Pateh yaitu Patih Tali di wilayah Menduk dan Pateh Panjang Jiwa di wilayah Jeroek.

Pada masa selanjutnya setelah Tumenggung Dinata kembali ke Pulau Jawa, di Pulau Bangka berkembang beberapa daerah yang dipimpin oleh patih atau pateh dan Proatin yaitu di Jeruk dengan patih Raksa Kuning dan hulubalang Selangor dan patih di Menduk dengan nama patih Ngincar dan di daerah Depak dengan nama patih Kembar empat yaitu pertama bernama Layang Sedap,  kedua bernama Mengadun, ketiga bernama Mengirat dan keempat bernama Sekapucik dan di tanah Cempurak seorang patih bernama patih Ngabehi dan satu lagi patih Singa Panjang Jongor yang tinggal dan membuat kota di kuala Menduk (Wieringa, 1990:59-62). Pulau Bangka ditinggalkan Tumenggung Dinata karena pulau Bangka pada masa ini hanya menghasilkan hasil-hasil hutan seperti rotan, damar, madu, lilin madu, kemenyan, opih pinang serta hasil anyaman seperti tikar kajang. Upeti berupa barang-barang hasil hutan dan anyaman tersebut kurang menarik bagi raja Majapahit. 

Pada masa setelah VOC yang bersekutu dengan kesultanan Aceh dan kesultanan Johor menaklukkan Malaka dari tangan Portugis pada bulan Januari Tahun 1641, pulau Bangka diserang oleh bajak laut raja Tidoeng. Pasukan bajak laut dari raja Tidoeng diduga berasal dari salah satu daerah dari empat muara sungai Berau yang bernama Muara Tidung di Kalimantan Timur. Bajak laut raja Tidoeng, menyerang dan merampok pulau Bangka sehingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada penduduk (Elvian, 2016:3). Daerah pertama yang diserang bajak laut raja Tidoeng adalah daerah kekuasaan pateh Ngincar di Menduk dan daerah kekuasaan pateh Ngabehi di Cepurak. Rakyat dua daerah ini banyak yang mati dan sebagian melarikan diri ke hutan. Selanjutnya wilayah kekuasaan pateh Raksakoening di Jeruk dan wilayah kekuasaan pateh Gambir (Kembar) di wilayah Depak ikut juga diserang oleh bajak laut raja Tidoeng. Satu-satunya wilayah pateh yang tidak diserang oleh bajak laut raja Tidoeng adalah wilayah pateh Singa Pandjang Djongor yang berkuasa di wilayah Kuala Menduk.

Kesultanan Johor dan Kesultanan Minangkabau yang pada masa itu sangat berpengaruh di kawasan pantai Timur Sumatera, Selat Bangka dan Selat Malaka, berusaha untuk mengamankan jalur perdagangan pada kawasan ini. Dua kesultanan besar tersebut menjalin ikatan kerjasama antara lain, Kesultanan Johor memberikan perlindungan terhadap orang-orang Minangkabau yang berada di Negeri Sembilan dan Kesultanan Minangkabau memberi perlindungan terhadap jalur perdagangan di Selat Bangka dan di kawasan pantai Timur Sumatera termasuk wilayah di perairan sekitar Pulau Bangka. Kesultanan Johor mengirim pasukannya dipimpin oleh Panglima Syarah dan Kesultanan Minangkabau mengirimkan asukannya dipimpin oleh Hulubalang Alam Harimau Garang. Setelah serangan dari darat dan laut, bajak laut Tidung berhasil dikalahkan, dan melarikan diri serta bertahan di Bukit Sambung Giri (daerah Merawang), sementara separuh hulubalang dan pasukannya bersembunyi di daerah Cengal. Pasukan Hulubalang Alam Harimau Garang terus menyerang pasukan bajak laut Tidoeng dan raja Tidoeng kemudian mati terbunuh. Satu-satunya pateh yang tidak diserang oleh bajak laut raja Tidoeng adalah pateh Singa Pandjang Djongor yang berkuasa di Kuala Menduk. Rupanya pateh Singa Pandjang Djongor telah melakukan kerjasama dengan bajak laut raja Tidoeng (memberika informasi dan jalan yang memudahkan bagi para bajak laut menguasai wilayah pulau Bangka). 

Dalam upaya menumpas Pateh Singa Pandjang Djongor yang merupakan kaki tangan bajak laut Tidoeng yang berasal dari kuala Menduk (sungai Menduk) yang lari ke Selatan pulau Bangka, Panglima Syarah beserta dengan pasukannya menelusuri wilayah pesisir Barat pulau Bangka ke arah bagian Selatan sungai Kotaberingin, sungai Menduk dan sungai Selan serta memasuki satu muara sungai yang bermuara di Selat Bangka antara Tanjung Berdaun dan Tanjung Berani. Pada suatu wilayah yang dianggapnya strategis untuk pertahanan, Panglima Syarah kemudian memerintahkan pasukannya membangun satu “koeboe atau kota atau benteng pertahanan” di tepi sungai yang kemudian berkembang dan diberi nama “Koeboebangka” atau “Kotabangka” (sekarang Bangkakota), sedangkan sungainya kemudian diberi nama sama dengan nama “Sungai Bangkakota”. Pateh Singa Pandjang Djongor terus dikejar dan kemudian meninggal di kampung Djeridji, makamnya dikenal masyarakat dengan sebutan “keramat Pandjang Jongor atau keramat Dentelor”. Panglima Syarah dan Hulubalang Harimau Garang setelah berhasil mengamankan Pulau Bangka dan perairannya kemudian menetap di Pulau Bangka. Panglima Syarah beserta sebagian pasukannya yang tidak kembali ke kesultanan Johor, menetap di Bangkakota dan Hulubalang Alam Harimau Garang beserta pasukannya menetap di Kotaberingin. Dua tokoh ini menjadi rajamuda kesultanannya di Bangka dan mereka mengatur adat istiadat serta menyebarkan agama Islam di Pulau Bangka. Pada masa ini terwujudlah keteraturan dalam kehidupan masyarakat di Pulau Bangka. Kehidupan perladangan dan kerajinan seperti tikar dan hasil hutan seperti kulit, kapur, opih pinang, madu dan lilin, gaharu dan damar menjadi komoditas  yang dihasilkan dari Pulau Bangka.(Bersambung/***)

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan