PERAHU SEKAK (GOBANG) (BAGIAN EMPAT)
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’Akhmad Elvian, DPMP
Sejarawan dan Budayawan
Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
SEBELUM masa Kolonial, Orang Sekak atau Orang Laut masih tinggal di perahu Gobang.
----------------
MENURUT C. Chou, sedikitnya ada Sembilan Kelompok Orang Laut atau Orang Sekak Bumiputera Bangka Belitung, yaitu Orang Mantung, Orang Teluk Kampa, Orang Baturusa, Orang Pulau Lepar, Orang Pulau Liat, Orang Pulau Mendanau, Orang Pulau Seliu, Orang Tanjungpandan, dan Orang Teluk Pring (Chou,2010:26).
Berdasarkan penelitian A. Iwabuchi (2013,14) sedikitnya ada Lima kelompok Orang Sekak atau Orang Laut Bumiputera Bangka Belitung dulunya yang mendiami Rumah Perahu Gobang dan telah tinggal di darat yaitu kelompok Teluk Kelabat, yang di Belinyu dan sekitarnya, di Kampung Kelabat atau Jebu Laut, kemudian kelompok Semujur yang tinggal di Kampung Baskara Bhakti dan Kedimpel, selanjutnya Kelompok Lepar, yang tinggal di Kampung Kumbung pulau Lepar dan di kampung Pongok pulau Leat/Liat. Sedang Dua kelompok lagi yaitu Kelompok Tanjungpandan, tinggal di Kampung Laut dan kampung Juru Seberang serta kelompok Gantung Manggar yang sekarang tinggal di Selinsing dan sekitarnya dan di Manggar.
Perampokan terhadap wilayah Pulau Bangka umumnya dilakukan oleh Bajak Laut dari luar perairan Bangka Belitung, bukan dilakukan oleh Orang Sekak atau Orang Laut Bumiputera Bangka Belitung. Bajak laut yang menamakan diri Lanun atau Irranun atau Illanun berasal dari Lanao, membangun Pangkalan di sisi Utara sungai Kepo, yang disebut Benteng Moeloet, rakyat Bangka sangat ketakutan dan banyak yang melarikan diri ke wilayah pesisir Timur Bagian Tengah pulau Bangka. Dalam Kaart van het Eiland Banka 1819, pada sisi Utara sungai Kepoh, tampak sketsa lokasi benteng sebagai pangkalan bajak laut yang menamakan dirinya Lanun atau Illanun yang merampok di pulau Bangka antara Tahun 1792-1795 Masehi.
Melalui benteng inilah bajak laut Illanun melancarkan serangan dari Kapo Lama di pesisir Timur pulau Bangka memutar secara ekstrem ke wilayah pesisir Barat pulau Bangka dan menjarah kawasan Toboali dan kampung-kampung di sekitarnya. Penjarahan dan perampokan bajak laut Illanun kemudian meluas juga di wilayah Pesisir Timur pulau Bangka ke wilayah Koba, Kurau, Pangkol dan kemudian menyerang daerah pedalaman di Paku, tempat penduduk mengusahakan Besi. Perampokan bajak laut terhadap wilayah Paku, menyebabkan penduduk lari ketakutan dan bersembunyi di dalam hutan, penambangan Besi di wilayah Paku kemudian terbengkalai dan tidak dilakukan lagi oleh masyarakat. Kondisi masyarakat yang dirampok umumnya dijadikan sebagai budak. Para budak yang dirampok bajak laut sangat menyedihkan, seperti digambarkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi: “...orang yang empunya hamba-hamba itu kelakuannya seperti binatang yang tiada bermalu dan tidak takut kepada Allah...” (Abdullah, 1966:224,225). Menjadi budak menyebabkan seseorang tidak merdeka dan berada dalam stratifikasi sosial yang paling rendah. Umumnya penduduk pulau Bangka untuk menghindari perampokan bajak laut menyingkir dari kampung-kampung mereka di pesisir dan tepian sungai ke wilayah pedalaman di rimba pulau Bangka dan hidup dalam kesengsaraan.
Tidak semua perampokan yang dilakukan oleh bajak laut terhadap pulau Bangka yang disebutkan dalam catatan atau laporan Belanda adalah murni perampokan oleh bajak laut. Serangan bajak laut yang dilakukan oleh Kerajaan Lingga justru dengan tujuan menaklukkan Palembang, mengusir VOC dan menguasai sumber-sumber kekayaan Timah di pulau Bangka. Dalam pandangan eropasentris dan nerlandosentris, serangan yang berasal dari kerajaan Lingga dipimpin oleh Panglima angkatan perang Lingga, bernama Raman atau Rahman yang juga sering dalam literatur Eropa disebut dengan kepala perompak laut. Salah satu sebab khusus penyerangan adalah “permintaan” dari Abang Abdoel Raoef putera Abang Tawi yang dihukum mati oleh Sultan Palembang Muhammad Bahauddin karena fitnah dari Tumenggung Kertamenggala yang menuduh Abang Tawi membangun benteng di Kampung Patemun, Teluk Rubiah untuk menyerang Palembang (sebelum meminta izin pembangunan benteng ke sultan Palembang, Abang Tawi telah pergi ke Trengganu dan juga telah pergi menghadap kepada Yang Dipertuan Sultan Lingga). Panglima Raman menaklukkan Koba (Horsfield, 1848:52,224), beberapa lama kemudian menaklukkan dan menguasai Pangkalpinang selama berbulan-bulan. Seorang Arab bernama Abdullah Djalil, kemudian berhasil mengusir panglima Raman dan mengembalikan Pangkalpinang ke dalam kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam. Hanya wilayah Mentok yang tidak diserang oleh Panglima Raman, karena di Mentok masih banyak bermukim keluarga dari Abang Abdoel Raoef atau keluarga dari Abang Tawi yang menjadi sekutu Lingga.
Hubungan yang erat antara Bangka dan Lingga dalam konteks politik, sosial dan ekonomi kemudian terajut karena depati dari tanah Bangka Depati Djeroek, bernama Depati Karim atau Depati Anggoer ikut membantu Panglima Raman dari Lingga berperang melawan VOC dan Palembang. Depati Karim luka-luka dan gugur, puteranya yang masih kecil bernama Bahrin kemudian dipelihara dan dididik Panglima Raman di Lingga (Bakar, 1969:21). Epp seorang Jerman yang datang ke Bangka (Tahun 1836) sebagaimana dikutip Heidhues (2008:90) menyatakan: Bahrin dibesarkan sebagai seorang pemuda oleh panglima Rahman, seorang pemimpin orang Laut di pulau Lingga. Untuk meredakan ketegangan antara Lingga dan Palembang, pada Tahun 1803, diangkatlah Bahrin putera Depati Karim oleh Sultan Kesultanan Palembang Darussalam Mahmud Badaruddin II (masa pemerintahan Tahun 1803-1821), sebagai seorang depati di pulau Bangka untuk wilayah Djeroek. Depati Bahrin dikenal sebagai pemimpin Bangka yang dekat dengan Lingga dan dekat juga dengan Palembang.
Sultan Kesultanan Palembang Darussalam, Muhammad Bahauddin (Tahun 1776-1803), kemudian mengirimkan beberapa orang kerabat dekatnya yaitu Raden Keling, Raden Ahmad, Raden Badar, Raden Ali dan Raden Sa’bah untuk mengamankan pangkal Toboali beserta perairannya di wilayah bagian Selatan pulau Bangka dari keganasan bajak laut (Belanda:zeerovers). Raden Keling dan puteranya Raden Ali kemudian menetap di pangkal Toboali sebagai kepala pemerintahan dan kepala rakyat di pangkal Toboali dan pulau Lepar atas nama Pangeran Adiwijaya. Kemungkinan besar, benteng di kampung Penutuk dengan Tiga meriam yaitu Si Kumbang, Si Perling dan Si Penyengat merupakan meriam yang dipasang untuk pertahanan dari serangan bajak laut.
Pada masa kekuasaan Inggris di pulau Bangka (Tahun 1812-1816) perampokan terhadap wilayah di pulau Bangka masih terjadi. Pada bulan Maret 1813, residen Inggris sedang mempersiapkan untuk mengirim salah satu kapal penjelajah perusahaan, dengan tujuan untuk membawa secara paksa Raden Kling ke Minto. Beberapa hari sebelum kapal berlayar, Raden Kling beserta puteranya Raden Ali membawa Sembilanbelas laskar kapal besar Abercromby, yang sebelumnya telah dihancurkan oleh perompak di lepas pantai Billiton (Belitung) (Wieringa, 1990:122). Para laskar melaporkan, bahwa mereka telah diberi makan dan diperlakukan dengan baik oleh Raden Kling dan pengikutnya.