Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Lempah Terakhir Mak

Nurul Fitriana.-Dok Pribadi-

Cerpen Nurul Fitriana

 

Jika tahu hari itu lempah terakhir yang Mak buat untuk Jul, tentu saja ia akan menghabiskannya tanpa sisa. Sayangnya, Jul tak menerima tanda-tanda sebelum kepergian Mak selama-lamanya. Di hari itu, seperti biasa ia pergi ke tambang untuk melimbang. Bermodal ember, piringan, dan karpet ia mencari sisa-sisa timah yang ada di sakan milik penambang lain. Tak pernah terbayangkan oleh Jul bahwa sepulang dari tambang ia melihat keramaian merapat di bibir warung dan rumahnya. Para tetangga berpakaian hitam, dan beberapa di antaranya bermata basah. Seketika dadanya berdebar hebat. Langkah Jul menjadi berat, samar-samar lantunan ayat suci Al-Qur’an mulai merapat dan mendekat. 

Dari tiga anak Mak, Jul satu-satunya anak yang gagal. Kakak pertama merantau ke Jakarta dan sudah jadi kepala cabang di salah satu perbankan milik negara. Tentu saja sudah menikah, punya anak yang bersekolah, dan juga mobil mewah. Kakak Jul yang kedua bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu instansi pemerintah daerah dan lulus pada percobaan pertama. Yuk Lis selalu jadi kebanggaan Bak karena anak wanita satu-satunya, menikah dengan seorang pengusaha permata, dan tentunya punya rumah besar di dekat kota. Sementara Jul sendiri, hanya seorang lulusan SMA yang enggan berkuliah, ia lebih memilih untuk bekerja sesuai keinginannya. Jul yakin betul bila sukses tak perlu kuliah. Ia bertekad untuk membuktikan kepada siapa saja yang menentang, terkhusus keluarganya. 

Sempat suatu hari Bang Yan menasihati Jul perihal tujuan hidupnya. Jelas, seperti yang dibayangkan, Jul akan menyanggah dengan beribu alasan.

“Terkadang, di usia hampir 25 ini kau harus tahu rasanya menikmati hasil dari usahamu,” kata Bang Yan.

“Bagaimana mau menikmati hasil kalau usahaku selalu gagal?”

“Itu karena kau tidak mau kuliah!”

“Loh, Yuk Lis kuliah 4 tahun tapi yang dipakai daftar PNS ijazah SMA juga.” Jawab Jul dengan nada sinis. 

Karena tak ada ujungnya, percakapan mereka ditutup dengan wajah yang saling menekuk. Sama halnya, ketika ada kesempatan seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan. Jul selalu menunjukkan sikap acuh tak acuh pada tiap topik perbincangan. Terlebih, ia selalu saja mengeluh tiap kali melihat lauk yang dimasak Mak. 

“Lempah lagi?” 

“Ini kan kesukaan abangmu, kapan lagi bisa makan dan kumpul sama kita,” Jawab Mak 

“Masalahnya lempah kuning ini setiap hari, Mak. Coba sesekali ikannya tenggiri!” 

Mendengar itu, kakak-kakaknya hanya menggelengkan kepala. Mereka paham bila adiknya keras kepala. Perlawanan yang selalu dilontarkan hanya sebagai bentuk ketidaksepakatan atau cara Jul untuk dapat menerima perhatian dari Mak maupun Bak. Jul bahkan sesekali menyindir kakak keduanya setelah ia tahu bahwa surat rumah Mak dan Bak yang mereka tempati saat ini menggunakan nama Lisna sebagai kepemilikan. Bagi Jul, Mak dan Bak terlalu pilih kasih pada tiap anaknya. Berkali-kali Mak mencoba menjelaskan, namun Jul justru semakin merasa kesal dan tak terima.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan