Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Guru Ngaji Kampung

Syabaharza-Dok Pribadi-

CERPEN SYABAHARZA 

 

HIRUK pikuk suara bising sayup-sayup terdengar dari rumah yang mulai reyot di ujung desa. Suara itu berasal dari anak-anak yang sedang bermain. Walaupun saat itu bukan waktunya bermain dan bersenang-senang. Mereka terlihat sangat riang dan gembira. 

 

Aneka kegiatan mengiringi tawa riang anak-anak itu. Ada yang berlarian ke sana kemari. Ada yang memukulkan ranting pohon ke dinding rumah bahkan ada yang bermain selepetan sarung. Di teras rumah itu terlihat seorang lelaki tua sedang menikmati suasana sore yang syahdu itu. 

 

Dari penampilannya bisa diterka lelaki tua itu adalah tenaga pengajar bagi anak-anak yang sedang bermain tadi. Lelaki tua yang biasa dipanggil pak guru itu tampak serius memandang anak-anak yang sedang bermain. Raut wajahnya seperti memikirkan masa depan yang rumit.

 

Aktivitas anak-anak tersebut sudah biasa dilakukan sebelum memulai belajar membaca huruf-huruf hijaiah. Waktu sebelum magrib seperti itu biasanya mereka manfaatkan untuk bermain, karena pengajian biasanya dimulai bakda magrib. Setidaknya ada dua alasan pengajian dimulai setelah magrib. Pertama mengaji setelah magrib dianggap akan lebih khusuk, kedua karena guru mengaji mereka baru pulang dari bekerja menjelang magrib.

 

Sebenarnya di samping bermain-main sebelum belajar, ada nilai positif yang dianut oleh anak-anak tersebut. Anak-anak tersebut sudah diajarkan untuk menyiapkan terlebih dahulu perlengkapan untuk belajar. Walaupun tidak pernah didoktrin oleh gurunya, tapi anak-anak itu seolah sudah mafhum dengan tanggung jawab mereka. Sehingga ketika pengajian akan dilaksanakan semua perlengkapan pengajian sudah paripurna.

 

Mulai dari tikar purun sebagai alas mereka. Lampu petromaks untuk penerangan sampai rehal-rehal mereka siapkan tanpa komando, sehingga ketika pengajian dimulai sang guru hanya tinggal mengajar saja. Begitu juga ketika pengajian selesai semua dibereskan oleh anak-anak tersebut. Tikar purun dilipat dan diletakkan lagi ke tempatnya, rehal-rehal disusun rapi seperti sedia kala. Hal itulah yang membuat sang guru tetap setia untuk mengajar walau tanpa dibayar sepeser pun.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan