PERAHU SEKAK (GOBANG) (BAGIAN DUA)
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’Akhmad Elvian, DPMP
Sejarawan dan Budayawan
Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
ORANG Sekak tinggal di Perau Gobang, bersama dengan peralatan kerja dan kehidupannya.
-------------
SEPERTI perangkap bubu, pengait kecil atau tunek, garuk atau cakur, tombak kecil atau penikam, tombak besar atau tirok, tombak begigi tiga atau rampang, mate tali atau seruit, dan pisau serta penunusuk. Orang Sekak tidak suka memelihara kucing dan anjing di dalam perahunya, mereka umumnya memelihara burung kuntul karang atau Cako. Kehebatan Orang Laut Pribumi Bangka, Orang Sekak dalam peperangan membantu Depati Amir dengan menggunakan Perau Gobang atau Perau Lepa dapat dipelajari dalam Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, Bundel Bangka Nomor 41. Dalam laporan dinyatakan bahwa, serangan orang Sekak dari pulau Belitung dan pulau Lepar sebagai perompak telah memberikan alasan untuk mengirimkan ke pulau ini beberapa “kapal uap atau kapal api Tjipanas, Bromo, Borneo, Unrust dan Etna”. Memang perahu-perahu perang bersenjata (kruwis) tidak digunakan untuk menghukum para pelaku pidana ini, tetapi informasi telah diperoleh mengenai kondisi di pulau-pulau ini yang dengan kelemahan kita dianggap sangat penting. Dalam konteks pertempuran di Laut Jawa membantu Depati Amir, Orang laut Pribumi Bangka Orang Sekak yang merupakan pejuang-pejuang laut dalam laporan Belanda (Nerlandosentris), mereka dipersepsikan sebagai gerombolan Bajak Laut (Zeerovers) atau perompak.
Kapal-kapal perang uap milik Pemerintah Hindia Belanda dikirim untuk berpatroli mengamankan perairan pulau Bangka dan Belitung. Kapal-kapal perang uap/api ‘Bromo’ disandarkan di selat Gaspar dekat pesisir Timur Bangka, sedangkan kapal perang uap/api Tjipanas, Borneo, Unrust dan Etna disandarkan di Teluk Kelabat. Kapal perang uap/api Onrust dan Tjipanas bersama dua perahu bersenjata (kruwis) ditugaskan untuk mengejar orang-orang Lingga yang menggunakan perahu bercap kerajaan Lingga yang membantu Depati Amir menyerang Pos-pos militer Belanda di pesisir Utara pulau Bangka yaitu wilayah pesisir di Teluk Kelabat, di Teluk Jebus, dan di pantai Timur laut perairan Sungailiat. Catatan tentang perahu bercap kerajaan Riau Lingga menunjukkan, bahwa luasnya jangkauan pengaruh perjuangan Depati Amir dalam wilayah laut di bagian Barat Hindia Belanda, termasuk juga wilayah pesisir Timur Sumatera yang menjadi kawasan tidak aman pada masa-masa berkecamuknya peperangan antara Tahun 1848-1851. Orang Darat pribumi Bangka atau orang Bukit/gunung (hill people) juga menjadikan laut atau bahari sebagai halaman muka dari kampung halaman atau pemukimannya. Baik kampung yang dikepalai oleh batin maupun pangkal-pangkal (13 Pangkal) tempat kedudukan demang yang didirikan sebagai pelabuhan pengumpul (feeder point), selalu berorientasi pada pesisir dan bahari. Untuk menjaga wilayah kampung dan pangkal dibangunlah kota-kota atau benteng /parit pertahanan. Kota-kota awalnya didirikan hampir di seluruh wilayah pesisir Barat pulau Bangka terutama untuk pengamanan parit-parit penambangan Timah sebagai sumber kekayaan maupun untuk keamanan penduduk terutama dari serangan dan perampasan oleh bajak laut (zeerovers).
Sejak Bangka berada dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam melalui perkawinan politik antara Sultan Abdurrahman dengan puteri Bupati Nusantara, juwaraja kesultanan Banten di Bangkakota (Tahun 1666), pulau Bangka ditetapkan sebagai wilayah Sindang. Menurut Husni Rahim (1998) sebagaimana dikutip Fakhriati, daerah Sindang adalah daerah perbatasan dengan daerah Kepungutan. Daerah Sindang ini mengakui sultan, tapi mereka diberi kebebasan mengatur daerahnya sendiri. Daerah Sindang disebut juga daerah sekutu dipimpin oleh seorang depati (raja kecil) yang bebas (vryheren), tidak diberi pajak dan tidak pula membayar upeti, tetapi berkewajiban melindungi perbatasan daerah kesultanan dari serbuan orang luar. Baru kemudian, kepada daerah Sindang diwajibkan tiban-tukon sebagai tanda raja. Dalam peraturan hukum, daerah Sindang diperkenankan memiliki peraturan perundang-undangan sendiri, misalnya “Úndang Undang Sindang Merdika” (Fakhriati, dkk, 2010:94).
Untuk mempertahankan wilayah Sindang, benteng pertama yang didirikan di pulau Bangka dilakukan pada Tanggal 13 Februari 1682 Masehi, Pangeran Aria, putera sultan Abdurrahman mendirikan Benteng di Bangkakota, di sungai bernama sama, dengan satu unit pasukan dari Makassar. Pembangunan Benteng ini terutama bertujuan untuk mengamankan jalur sempit pelayaran dan perdagangan di Selat Bangka yang terletak dekat dengan Bangkakota (Den Pangeran Aria, twee de soon des ouden konings van Palembangs, soude (volgens bericht) met goede informatie en belijt van zijn vader na’t eijlant Banca vetrocken zijn om aldaar aen een reviertje genaemt Banca Kotta een goede heghte pagger op te werpen en sigh met rooven te behelven, mitgaders alle vijtge weeckene en omswervende Maccassaren van alle platsen, onder belovte van bescherminge na derwaarts materwoon te loocken om door ...... Dagh-Register 13 Februari 1682 Vol.I, hal. 169).
Kondisi bentuk kampung daerah Sindang yang dikepalai batin biasanya bersegi empat atau bujur sangkar dan kampung dikelilingi oleh benteng pada sisi luar pemukiman, terbuat dari parit galian (benteng tanah) dan berpagar kayu. Kampung merupakan pemukiman yang nyaman dan rapi, meskipun kecil, dan umumnya rumah mengangkat beberapa kaki dari tanah (maksudnya rumah panggung), serta rumah batin berada di tengah. Orang-orang kampung karena merupakan bagian dari masyarakat yang tinggal di pulau, mereka cenderung, memiliki semangat dan kemampuan untuk mempertahankan diri dari terobosan (serbuan) bajak laut (Court, 1821:203). Sebagai salah satu contoh adalah kampung Serdang yang berjarak 17 paal (1 paal =1.851,85 m) dari Toboali, rumah-rumah sebagian besar memiliki penampilan yang baik, dibangun berbentuk persegi dan besar, di tengah kampung berdiri Balai yang besar terbuat dari kayu. Sejauh ini yang terbesar yang saya lihat di Banka (pulau Bangka). Kampung ini pada Tahun 1846 Masehi sangat teratur dan makmur. Mereka telah banyak menderita ketika kampung mereka di dekat sungai Kapo (maksudnya sungai Kepo) diserang kapal bajak laut (Lange, 1850:95). Tampaknya kampung Serdang awalnya berada dekat sungai Kepo dan dekat dengan muara sungai di Laut Jawa, terletak di lubuk Balaikambang, sekarang letaknya di antara Desa Serdang dan Desa Jeriji (daerah kekuasaan Batin Jiwad), karena diserang Bajak laut kampung Serdang kemudian dipindahkan oleh penduduknya ke lokasi kampung yang sekarang.
Dalam catatan H.M. Lange selanjutnya pada Het Eiland Banka en zijne aangelengenheden, 1850, hal. 30, tentang pulau Bangka yang selalu diserang oleh Bajak Laut dijelaskan Lange sebagai berikut: “De kusten van Banka zijn herhaaldelijk door zeeroovers verontrust geworden, en meermalen is de overlast, die van hen ondervonden werd , zeer groot geweest. Menschenroof is gewoonlijk hun voornaamste doel: met dat oogmerk begaven zij zich dikwerf met kleine vaartuigen (sampans), de rivieren of kreken opwaarts varende , diep landwaarts in , overvielen de kampongs en voerden de bewoners, die zich zeldzaam verdedigden, mede, wanneer ze niet ontvlugten konden. In 1830 of 1831 was de militaire kommandant van Banka, de kapitein de Quaij, met den luitenant Obermu Uer op het punt van in hunne handen te vallen. Op reis zijnde, hadden zij vernacht in de kampong Sekka, tusschen Blinjoe en Soengei-Leat. In den vroegen morgen werd dezekampong door de zeeroovers overvallen, de bewoners waren tot geene verdediging te bewegen, en daar zij volstrekt geen escorte bij zich hadden, gelukte het aan de beide genoemde ofl Scieren ter naauwernood, ongekleed. Maksudnya: Pantai Bangka telah menjadi bermasalah, telah berulang kali diserang oleh bajak laut, dan gangguan dari mereka 9bajak laut) sering kali ditemukan sangat hebat. Perampokan manusia biasanya menjadi tujuan utama mereka: untuk tujuan itu mereka sering berlayar dengan kapal kecil (sampan), memasuki sungai atau anak sungai yang sampai jauh menuju ke pedalaman, menyerbu kampung dan merampas sebagian penduduk, ketika mereka tidak bisa melarikan diri. Komandan militer pada Tahun 1830 atau 1831 dari Banka, Kapten de Quaij, dengan Letnan Obermuler akan jatuh ke tangan mereka. Saat bepergian, mereka menghabiskan malam di Kampung Sekka, antara Blinjoe dan Soengei-Leat. Di masa-masa awal ketika kampung ini dirampok oleh para perompak, penduduk tidak bisa dipindahkan ke benteng pertahanan apa pun, dan di sana mereka sama sekali tidak punya pendamping atau pelindung dan selama dua hari mereka dikepung. Mereka semua kemudian berhasil melarikan diri dengan meninggalkan apa yang mereka miliki dan bahkan melarikan diri dalam kondisi tidak memakai pakaian. (Bersambung).