Puisi, Nurani, dan Keberagaman
Abdul Wachid.-Dok Pribadi-
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto
Puisi, bentuk ekspresi paling halus dalam ranah kata, telah lama hadir di tengah Islam Nusantara. Ia bukan sekadar saksi estetika bahasa, tapi denyut nurani, penjaga keberagaman, dan sarana untuk merawat damai. Dalam tradisi pesantren hingga tarekat, qasidah, nadzam, dan syair-syair sufi menjadi medium spiritual yang menyebarkan cinta, empati, dan penghormatan antar-umat. Di tengah zaman di mana polarisasi kerap dibangun lewat ujaran, kembali pada puisi menjadi urgensi budaya sekaligus tindakan spiritual.
Puisi dalam Tradisi Islam Nusantara
Jauh sebelum “puisi” modern dikenal, tradisi lisan dan tulisan Islam telah mengakar melalui bentuk-bentuk seperti, Qasidah: syair pujian panjang yang menyanjung Allah, Nabi, atau kyai, dibawakan dalam majelis pengajian.
Nadzam: puisi pendidikan fiqh atau tasawuf, untuk memudahkan hafalan dengan irama ritmis. Syair sufi: ungkapan cinta ilahi, kerinduan kekasih pada Tuhan, seperti karya Syaikhona Kholil Bangkalan.
Di pesantren, santri menghapal nadzam-nadzam seperti Nidzāmu al-Waẓāʼif dan Manẓūmah al-ʿArabīyah, bukan hanya untuk kecakapan linguistik, tetapi juga penghayatan spiritual. Menurut M. Quraish Shihab, syair Islami adalah wahana “menyentuh batin dan membuka ruang dialog dengan Tuhan”, karena kehadiran puisi bukan hanya estetika, tapi ibadah yang hidup.
Puisi sebagai Penjaga Empati dan Keberagaman
Puisi mampu merawat keberagaman dengan menumbuhkan empati. Membaca syair cinta ilahi secara bersama dalam pengajian membawa rasa kesatuan yang melampaui etnis atau politik. Qasidah yang memuji Allah, bukan apik untuk eksklusivitas, tetapi mengajak siapa saja duduk berdampingan, tidak peduli dari desa atau kota, Jawa atau Madura, NU atau yang lain.