Fatherless: Ketika Kapitalisme Merenggut Ayah dari Rumah
Wahyu Dwi Cahyanti-Dok Pribadi-
Oleh : Wahyu Dwi Cahyanti, S.Pd
Fenomena fatherless kini kian meluas. Banyak anak tumbuh tanpa kehadiran ayah bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Mereka kehilangan figur pelindung, pembimbing, dan teladan yang seharusnya hadir di rumah.
Padahal, kehadiran ayah sangat krusial bagi pembentukan karakter dan kestabilan emosi anak. Berbagai penelitian menunjukkan, anak yang tumbuh tanpa peran ayah (fatherless) cenderung mengalami krisis identitas, gangguan emosi, perilaku agresif, serta kesulitan membangun hubungan sosial. Tidak sedikit yang kemudian mencari figur pengganti di luar rumah dan terjerumus dalam pergaulan bebas, narkoba, atau kekerasan.
Dampaknya tidak berhenti pada individu. Fenomena fatherless perlahan membentuk generasi rapuh mudah putus asa, lemah secara mental, dan kehilangan arah hidup. Dari sinilah, masyarakat pun mulai kehilangan ketahanan moral dan sosial.
Data Kompas (2024) mencatat, sekitar 15,9 juta anak Indonesia atau 20,1% dari total anak di bawah 18 tahun hidup tanpa peran ayah. Dari jumlah itu, 4,4 juta anak benar-benar tinggal tanpa ayah, sementara 11,5 juta lainnya hidup bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu. Kondisi ini menciptakan jarak emosional yang dalam antara ayah dan anak, menimbulkan kehilangan figur yang seharusnya menjadi sumber kasih, arahan, dan perlindungan.
Fenomena ini bukan sekadar masalah keluarga, tetapi gejala sistemik. Ia mencerminkan bagaimana kapitalisme telah menjerat laki-laki menjadi mesin ekonomi, bukan pemimpin keluarga. Sistem ini perlahan merenggut ayah dari rumah, memisahkan mereka dari ruang pembinaan anak, dan menjadikan keluarga berjalan tanpa arah.
//Ayah yang Tersandera Sistem
Dalam sistem kapitalisme, para ayah terperangkap dalam lingkaran kerja tanpa akhir. Demi bertahan hidup di tengah biaya hidup yang kian tinggi, mereka terpaksa menukar waktu bersama keluarga dengan jam kerja panjang. Akibatnya, fungsi ayah sebagai qawwam (pemimpin), pelindung, dan pembimbing keluarga kian memudar.