Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Remaja Putri: Tak Pe-de Kini, Jaya Nanti

Kristia Ningsih.-screenshot-

Oleh Kristia Ningsih

 

Era kini, rasa tak percaya diri jadi cuan buat sekelompok orang. Makin orang-orang tak pede, makin mereka bercuan. Alis tipis, ada sulam alis. Bibir tipis, ada sulam bibir. Ya kalau—maaf—gigi tonggos, estetika gigi memang solusi: untuk menormalkan. Kalau hidung sedikit melengkung, tiba-tiba pemiliknya merasa harus 'bedah' (padahal tak ada sinusitis, gangguan pernapasan, dll)—ini target empuk kelompok tersebut. 

 

Ini bukan tentang resek ngurusin hidup orang lain ataupun menjatuhkan suatu pihak tertentu. Akan tetapi, coba kita lihat sepenggal kisah berikut. Suatu masa sebelum ini, banyak remaja putri sebal sekali dengan jerawat atau ketiak yang selalu berkeringat. Meski masalah itu sudah diberi bantuan pun masih saja bikin malu. Lantas, tidak ada jalan lain selain menerimanya. Namanya juga masa pertumbuhan, sulit mengendalikan hormon.

 

Alhasil, seberapapun sebal dengan bruntusan wajah atau keringat—yang kalau sudah pukul 11 siang, tak mampu dibendung deodoran—mereka tetap harus fokus belajar. Jika tidak, siap-siap tak lulus setelah 12 tahun pendidikan. Saat itu, seolah di dunia ini, tak ada yang penting selain sekolah. Siapa yang berani main-main? Tak ada, kecuali remaja yang benar-benar bebal atau memang situasinya khusus.

 

Kala itu, bukan hanya tak percaya diri soal penampilan, juara nasional lomba mata pelajaran pun ada yang tak lulus Ujian Nasional. Rata-rata para remaja juga tak percaya diri dengan kemampuan akademiknya. Namun, seberapapun gamangnya, para remaja itu tetap menerjang demi masa depan. 

 

Hasilnya, entah lulus entah tidak, generasi saat itu memiliki satu uncek (bahasa daerah Babel artinya kelebihan atau kekuatan): mental pantang menyerah. Dengar-dengar, salah satu teman seangkatan penulis yang tak lulus pun, ada yang bekerja di kejaksaan. Sungguh sikap ksatria—ia tidak berputus asa dan tetap ‘bertarung lebih keras’ pada ronde sesudah SMA, sebelum bekerja.

 

Nah, andai saja waktu itu para remaja sibuk dengan mempercantik diri, mempromosikan diri di media sosial, apa hasilnya akan sama? Mungkin tidak. Memang, kepalsuan foto diri pakai filter saat ini bisa disebut kreativitas digital. Mengenal trik rias dapat disebut beauty enthusiast: semua jadi ilmu bermanfaat. 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan