Ngaji Fasolatan: Tradisi dan Inovasi
Fauzi-Dok Pribadi-
Oleh Fauzi Guru Besar/Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto
Fasolatan dikenal luas sebagai salah satu panduan belajar tata cara salat yang telah digunakan ngaji oleh banyak kelompok masyarakat, pesantren, dan majelis taklim di Indonesia. Fasolatan memuat urutan ibadah mulai dari wudu, tayamum, bacaan salat, hingga doa-doa setelahnya. Dengan demikian, ngaji Fasolatan tidak hanya menjadi materi ajar, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan peradaban yang menghubungkan masa lalu yang penuh hikmah dengan masa depan yang penuh perkembangan pendidikan Islam di Nusantara.
Setidaknya sejak awal abad ke-20, teks Fasolatan telah diajarkan sebagai materi dasar di musalla, surau, langgar, rumah kiai kampung, dan pesantren, bahkan menjadi “kitab pegangan” generasi awal santri. Nilainya bukan hanya sebagai pedoman teknis, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai adab, kesabaran, dan kesungguhan dalam beribadah. Dalam praktiknya, metode ngaji Fasolatan biasanya dilakukan secara bandongan (guru membaca dan menjelaskan, santri mendengarkan sambil mencatat) atau sorogan (santri membaca di hadapan kiai atau ustaz untuk mendapatkan penegasan dan koreksi).
Kini, Kementerian Agama RI tengah berupaya mengembangkan tradisi ini ke arah yang lebih sistematis melalui penyusunan kurikulum, silabus, dan modul pembelajaran Fasolatan. Materi yang dirancang tidak hanya fokus pada aspek teknis ibadah, tetapi juga mengangkat dimensi spiritual seperti khusyuk, keikhlasan, dan kesadaran diri, serta dimensi sosial seperti pentingnya salat berjamaah sebagai sarana mempererat ukhuwah. Langkah ini tentu patut mendapatkan dukungan dan apresiasi agar kualitas dan standarisasi umat muslim dalam belajar dan mengajar materi salat dapat terwujud, yang pada akhirnya akan melahirkan kualitas peribadatan umat Islam.
Seiring perubahan zaman, gerak mobilitas masyarakat yang tinggi, ritme hidup urban yang cepat, dan pengaruh teknologi membuat pembelajaran ibadah memerlukan metode yang lebih adaptif dan inovatif. Di sinilah inovasi Kementerian Agama RI menjadi relevan: mengubah kekayaan tradisi ini ke dalam format pembelajaran terstruktur yang dapat diakses lintas generasi dan latar belakang. Pengembangan kurikulum Fasolatan berbasis modul modern tidak dimaksudkan untuk menghilangkan nuansa tradisionalnya, melainkan memadukan dua kekuatan: penguatan tradisi dan kebaruan strategi.
Penting ditekankan bahwa belajar salat bukan hanya belajar bagaimana teknis praktik salat, tetapi juga pendalaman sejatinya mengapa salat menjadi tiang agama, apa makna terdalam dari setiap gerakan dan bacaan, serta implikasinya pada tata laku keseharian.
Pendekatan Kontekstual dan Inklusif
Penguatan tradisi ngaji Fasolatan di era modern memerlukan pendekatan kontekstual dan inklusif agar tetap relevan bagi seluruh lapisan masyarakat. Kontekstual berarti materi dan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi, budaya, dan kebutuhan peserta dengan tetap mengacu pada standar yang kredibel. Di pesantren misalnya, metode bandongan dan sorogan yang mengandalkan interaksi langsung masih efektif; sementara di sekolah umum, majelis taklim perkotaan, atau komunitas digital, pendekatan bisa menggunakan media visual, simulasi, atau platform pembelajaran daring yang interaktif.