Prabowo Selamatkan Tom Lembong & Hasto
Pengamat Potlitik Rocky Gerung Soal Langkah Prabowo.-screnshot-
PRESIDEN RI, Prabowo Subianto membuat langkah politik mengejutkan dengan mengajukan permintaan abolisi dan amnesti untuk dua tokoh penting: Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto.
-----------------------
LANGKAH ini, menurut pengamat politik Rocky Gerung, menjadi penanda perubahan arah kekuasaan dan realignment dalam konstelasi politik nasional. Prabowo secara resmi telah meminta persetujuan DPR untuk memberikan abolisi kepada Tom Lembong, mantan Menteri Perdagangan yang divonis empat tahun penjara.
Selain itu juga ada amnesti kepada Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, yang dijatuhi hukuman tiga tahun enam bulan. DPR pun telah menyetujui permintaan tersebut.
Gempa Politik di SOLO
Rocky Gerung menyebut keputusan Prabowo sebagai "gempa politik kecil" yang resonansinya terasa hingga geng Solo, yakni mengarah pada Presiden sebelumnya, Joko Widodo. Ia menilai bahwa langkah ini bukan hanya keputusan hukum, tetapi juga manuver politik besar yang merefleksikan niat Prabowo memisahkan hukum dari rivalitas politik.
Menurut Rocky, keputusan membebaskan Hasto dan Tom Lembong mencerminkan respons Presiden terhadap opini publik dan tekanan terhadap sistem peradilan. Rocky Gerung menyebut vonis terhadap kedua tokoh itu sebagai bentuk kriminalisasi yang didasari motif politik.
Sinyal Perubahan
Lebih lanjut, Rocky menafsirkan kebijakan ini sebagai sinyal realignment antara Prabowo dan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Ia meyakini bahwa dengan terselesaikannya persoalan Hasto, hubungan politik antara PDIP dan pemerintahan Prabowo akan semakin erat.
"Kelihatannya Ibu Mega tidak ingin berada di posisi oposisi, melainkan mendukung secara kritis," kata Rocky.
Ia juga menyebut bahwa di forum internal PDIP seperti Kongres di Bali, arah dukungan terhadap Prabowo akan semakin jelas.
Jokowi Melemah
Rocky menyoroti dampak psikologis keputusan ini terhadap "Geng Solo", kelompok kekuasaan yang sebelumnya sangat erat dengan Presiden Jokowi. Ia menilai bahwa kekuasaan Jokowi kian melemah, bukan karena serangan langsung, tetapi karena perubahan iklim politik dan tekanan publik, termasuk dari masyarakat internasional.
“Presiden Prabowo ingin menunjukkan bahwa ini era baru—bukan kelanjutan dari era Jokowi. Publik ingin melihat politik Prabowo yang otentik,” ujar Rocky.