Baca Koran babelpos Online - Babelpos

GEDUNG NASIONAL TOBOALI (Bagian Lima)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh: Dato’Akhmad Elvian, DPMP

Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung

Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

 

DARI Dua Gedung Nasional yang ada di Pulau Bangka dan Satu Gedung Nasional di Pulau Belitung yang dibangun dengan semangat kembalinya Bangka dan Belitung dalam Wilayah Republik Indonesia, Gedung Nasional Toboali adalah Gedung Nasional pertama yang selesai dibangun pada Tahun 1951. Angka Tahun 1951 tertulis sangat besar dan jelas pada fasad depan gedung. 

----------

GEDUNG Nasional Pangkalpinang yang pembangunannya dipimpin oleh Wedana Pangkalpinang, baru selesai dibangun Tahun 1953. Keterlambatan pembangunan Gedung Nasional Pangkalpinang dikarenakan pada saat yang bersamaan masyarakat Pangkalpinang sedang membangun Masjid Jamik (priode pertama Tahun 1950-1954). Pembangunan Dua bangunan monumental di Pangkalpinang tersebut dilakukan atas swadaya dan swadana masyarakat khususnya kewedanaan Pangkalpinang dan masyarakat Pulau Bangka umumnya.  Gedung Nasional yang terakhir selesai dibangun adalah Gedung Nasional Belitung di Kota Tanjungpandan yang mulai dibangun pada Tahun 1953 dan baru diresmikan pada tanggal 9 Agustus 1958. Menelisik dimensi waktu, pembangunan Dua Gedung Nasional di Pulau Bangka dan Pulau Belitung  tampak bahwa, pembangunan Gedung Nasional dilakukan pada masa-masa akhir operasional perusahaan pertambangan Timah milik Belanda, baik Banka Tin Winning maupun Billiton Mactshappij. Dengan semangat nasionalisme juga, perusahaan Banka Tin Winning dan Billiton Mactshappij kemudian dinasionalisasikan pada tanggal 28 Februari 1953. Semangat nasionalisme juga merasuki pekerja-pekerja perusahaan tambang timah, misalnya pada rancangan arsitektur pada Masjid Jamik Pangkalpinang oleh Hadi Susilo dan Gedung Nasional Toboali oleh Muhammad Yusuf Bahir, yang merupakan karyawan pada penambangan Timah Belanda, termasuklah sumbangan sarana dan prasarana serta dana bagi pembangunan gedung oleh karyawan penambangan Timah.  

Setelah selesai dibangun, Gedung Nasional Toboali menjadi tempat berbagai pertemuan termasuk untuk pertunjukan dan hiburan oleh masyarakat Toboali. Gedung ini menjadi saksi bisu bagaimana partai-partai besar hasil Pemilu Tahun 1955 mempropagandakan partai politik, terutama untuk mempertahankan dan meningkatkan pengaruh politiknya di tengah masyarakat. Persaingan yang sangat tampak adalah antara Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang merupakan organisasi di bawah kendali (onderbow) PKI berusaha menyampaikan propaganda-propaganda politik komunisme di wilayah kewedanaan Bangka Selatan terutama di Kota Toboali, salah satunya dengan mengadakan pertunjukan Tonil. 

Ancaman dan bahaya komunisme telah disampaikan oleh Wakil Presiden Muhammad Hatta jauh-jauh hari saat Wakil Presiden berada di pengasingan Pesanggrahan Gunung Menumbing (Exile from Menumbing). Dalam Arsip ANRI ditemukan Surat berkop Wakil Presiden REPUBLIK INDONESIA, Muhammad Hatta yang ditujukan kepada L.N. Palar, Perwakilan Republik Indonesia di PBB, New York. Surat 3 halaman berkop Wakil Presiden REPUBLIK Indonesia, diketik dan ditandatangan oleh Mohd. Hatta di Menumbing bertanggal 2 Mei 1949, sedangkan tembusan surat ditujukan kepada J.M. A.A. Maramis, Menteri Luar Negeri a.i. Rep. Indonesia  di New Delhi, selanjutnya arsip surat tersebut diketik warna merah REPUBLIC  OF INDONESIA kemudian di bawahnya diketik Date reed dan ditulis tangan  tanggal 5/14/49 dan di bawahnya berurutan Palar, Sumitro, Sudjatmoko, Sudarpo, Basoeki, J.Mintz, B.Belt dan tulisan Remark: dan surat diawali dengan Salam Metdeka,. 

Isi surat terkait dengan ancaman komunisme adalah…..Kemadjuan komunis jang achir di Tiongkok telah mulai berpengaruh atas sikap orang Tionghoa di Indonesia jang – menurut biasanja–mudah sekali merobah sikap, dan memberi harapan kepada F.D.R. Menurut penjelidikan kita mereka bersiap-siap menantikan kedatangan tentera Mao She Tung di Indonesia , jang menurut, anggapan mereka akan berdjalan via Viet Nam, Siam, Malaya d.s. Kejakinan itu memperkuat aktivitet mereka, dan karena itu pula mereka menentang kembalinja Pemerintah Republik ke Jogja.

Kalau Pemerintah Republik jang sekarang tertawan sebagian, tidak diperkuat kedudukannja dengan kembalinja ke Jogja dengan kekuasaan jang penuh, dan Belanda meneruskan politiknja memperlemah kedudukan kami, maka nanti satu-satumja penjelesaian jang akan tertjapai jaitu kemenangan kaum Komunis djuga di Indonesia. Mansur, Malik, Sultan Hamid, Achmad Kusumonegoro d.l.l. itu tidak akan dapat menahan gelombang Komunisme.

Untuk mengantisipasi pengaruh penyebaran komunisme, salah satu upaya yang dilakukan oleh pendukung nasionalis di Toboali yang bergabung dalam Partai PNI adalah melakukan pertunjukan Tonil tandingan di Gedung Nasional Toboali. Setiap LEKRA sebagai onderbow PKI tampil, akan disusul dengan penampilan Lembaga Pemuda Marhaenis. Persaingan ini tidak hanya terjadi di panggung Gedung Nasional Toboali, akan tetapi melebar dalam aspek lain di kehidupan keseharian masyarakat. Saat itu pemain tonil Lembaga Pemuda Marhaenis antara lain, Karim Siddik, Abang Abdullah, Umar S, Arrahim Abbas dan Bakri Jais, bahkan sempat diancam untuk dibunuh oleh PKI (hasil wawancara dengan tokoh masyarakat Arrahim Abbas berusia 82 tahun di Toboali pada tanggal 23 Juni 2023). Sejak berakhirnya Pemerintahan Orde Lama dan diganti dengan Pemerintahan Orde Baru, ditandai dengan banyaknya aktivis PKI dan pengikutnya ditangkap dan dilenyapkan. Sejak itulah tidak ada lagi rivalitas dalam pertunjukan Tonil di Gedung Nasional Toboali. Selanjutnya Gedung Nasional Toboali kembali dimanfaatkan sebagai tempat pertunjukan seni, tempat berlangsungnya pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat, tempat latihan olahraga dalam ruangan dan bahkan dijadikan sebagai tempat resepsi pernikahan. 

Bangunan Gedung Nasional Toboali sangat strategis menghadap ke arah Selatan dan berada di tepi Jalan Jenderal Sudirman. Secara administrasi masuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Toboali Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Gedung Nasional Toboali berdiri di atas tanah dengan panjang 40 meter dan lebar 35 meter atau luas lahan mencapai 1.400 m². Terdiri dari bangunan utama dan bangunan penunjang. Bangunan utama Gedung Nasional Toboali arsitekturnya dipengaruhi gaya arsitektur Jengki yaitu gaya arsitektur modernis pascaperang yang berkembang di Indonesia setelah kemerdekaan, populer antara akhir 1950-an hingga awal 1960-an, sebagai bentuk perlawanan terhadap arsitektur gaya Eropa. Bentuk pasad depannya berbentuk punden berundak  sebagai ciri bangunan arsitektur tradisional Nusantara. Semangat Nasionalisme sangat kental mempengaruhi pemikiran sang arsitek karena mereka mengambil alih tugas para arsitek Belanda yang umumnya ada di perusahaan penambangan Timah Belanda. 

Bangunan utama Gedung Nasional Toboali terbuat dari bahan utama batu bata berplester, bercat warna putih dan atap kombinasi pelana-perisai dengan lubang angin besar di kedua sisinya. Bangunan utama memiliki panjang 32 m dan lebar 14 m dengan luas mencapai 448 m². Dalam bangunan utama terdapat panggung dan 2 toilet dalam di belakang panggung. Lebar panggung 11 m dan tinggi 0,3 m. Ada 5 pintu, terdiri pintu utama dan pintu samping. Pintu utama memiliki lebar 1,65 m, tinggi 3,20 m, 2 daun pintu setinggi 2,15 m dan 2 lubang angin/vertilasi. Pintu samping sisi penonton (P1) memiliki lebar 1,65 m, tinggi 3,20 m, 2 daun pintu setinggi 2,15 m dan 2 lubang angin/vertilasi. Pintu samping sisi panggung (P2) memiliki lebar 1,65 m, tinggi 3,20 m, 1 daun pintu setinggi 2,15 m dan 2 lubang angin/vertilasi. Total ada 9 jendela dengan masing-masing berdaun 2 dan berukuran lebar 2,20 m dan tinggi 2,40 m. 4 jendela berada di dinding belakang, 2 di dinding kanan,  2 di dinding depan dan 1 jendela di dinding kiri. Bangunan utama ditompang 36 kolom yang menonjol diluar dengan bentuk segitiga miring. Di salah satu kolomnya, tepatnya di kolom ke-4 dari kanan atau kolom pinggir teras yang menyatu dinding bangunan utama, terdapat tulisan di bagian bawah kolom yakni MYB, kepanjangan Muhammad Yusuf Bahir, sang arsitek. Selain atap utama berbentuk kombinasi perisai dan pelana, terdapat atap yang menempel di dinding luar bangunan utama yang berfungsi sebagai hiasan dan melindungi jendela dan pintu dari air hujan. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan