Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Bullying dan Pelecehan Berawal dari Medsos

Bullying .dan Pelecehan Berawal dari Medsos-Tim-

PANGKALPINANG -  Yayasan Nur Dewi Lestari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menyelenggarakan Focus Group Discussion ( FGD) dengan tema "Mitigasi dan Mereduksi Bullying dan Pelecahan Seksual  di Dunia Pendidikan di Wilayah Provinisi Babel".

Kegiatan ini berlangsung di Hotel Manunggal Pangkalpinang, Kamis, (09/10/2025). Pemilik Yayasan Nur Dewi Lestari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Nurmala Dewi Hernawati berharap melalui Focus Group Discussion ( FGD)  ini dapat semakin mendorong pemahaman dan pentingnya memberikan peran kepada semua pihak untuk secara bersama-sama memitigasi dan mereduksi bullying dan pelecahan seksual khususnya juga di lingkungan dunia pendidikan atau sekolah.

"Ada bentuk - bentuk perilaku bullying termasuk bullying verbal, yang justeru sangat berbahaya dan dikhawatirkan berujung kepada bullying fisik.Maka dari itu melalui FGD ini kita ingin mereduksi supaya bullying ini bisa semakin terus berkurang di Babel ini," ujar Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini.

Nurmala Dewi Hernawati juga menyebut banyak kasus bullying yang terjadi diawalnya berasal dari meniru tontonan di youtube, medsos dan sejenisnya. Sehingga sepanjang tahun 2025 kasus bullying di Babel juga ikut meningkat di lingkungan sekolah bahkan di pondok pesantren.

Dikatakannya, bahwa sampai sekarang laporan yang kita terima ada 50 kasus. Dan sejauh ini untuk penanganannya, apabila bisa diselesaikan di sekolah maka akan diselesaikan, demikian pun kalau ranahnya sudah ke hukum pidana seperti pelecahan seksual, pembunuhan dan sebagainya, termasuk kalau ada oknum guru terlibat maka tidak pandang bulu semua akan ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku.

"Kalau sudah sampai ke ranah hukum pidana, maka kita akan dampingi hingga pengadilan, dan sampai proses diadili bagi pelaku, kita juga melibatkan ahli psikholog supaya bagi korbanya tidak trauma, karena traumanya akibat bullying ini penanganannya butuh yang sangat lama," ujar Nurmala Dewi.

Sementara itu, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Kepulauan Bangka Belitung, Iptu Windu juga menyampaikan informasi tentang konsekuensi hukum bagi pelaku bullying, serta strategi pencegahan dan penanganan bullying di lingkungan dunia pendidikan. Ia menyambut baik terhadap FGD ini dan memang perlu dilakukan untuk memitigasi dan mereduksi dari perilaku bullying maupun pelecahan seksual. 

Iptu berharap dengan hadirnya para guru dan tenaga didik baik di sekolah umum maupun pihak pondok pesantren di FGD ini, semoga dapat memberikan pesan kepada  tenaga didik, tentunya untuk bisa memitigasi, meruduksi perilaku bullying maupun pecehan sesual, yang akhir-akhir ini  semakin banyak terjadi di di sekolah.

Pihak Polda Babel memberikan pencerahan dalam perspektif hukumnya, agar para tenaga didik bisa memahami,  mengevaluasi dan memberikan pemahaman kepada murid-muridnya walaupun kadang juga harus banyak maklum ketika memberikan nasehat karena masih anak-anak dan bukan dalam perilaku orang yang sudah dewasa.

"Kalau seandainya yang dilakukan guru selama itu tidak berbenturan dengan aturan hukum, maka mungkin tidak akan jadi masalah, sebab kalau kita berbicara kolerasi hukum terkait apa yang dilakukan pihak sekolah khususnya dan selama itu sesuai dengan jalur aturan yang benar, tidak melanggar aturan yang di atasnya, maka tidak masalah demi kebaikan anak. Sebab anak adalah amanah yang harus didik dengan benar, agar kelak mampu menjadi generasi yang memang diharapkan dapat meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang," harap Windu.

Mewakili Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk (DP3ACSKB) Provinsi Kepulauan Babel,  Basirwan menyambut baik atas dilaksanakannya FGD ini dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan khususnya dalam memberikan perlindungan hak anak dari berbagai bentuk kekerasan verbal maupun fisik termasuk bullying.

Karena berbagai kasus perilaku bullying dewasa ini semakin mengkawatirkan termasuk di lingkungan dunia pendidikan. Ia mengaku khawatir karena di era ini para siswa tingkat SD saja sudah bisa melakukan bullying kepada sesama temannya di sekolah, padahal tanpa disadari bahwa hal tersebut dapat memberikan dampak menyakitkan bagi teman yang menjadi korban bullying.

Namun hal ini justeru bisa terjadi dimana saja dalam berbagai bentuk ancaman dan sejenisnya. "Padahal dampak dari perilaku bullying ini cukup besar, karena bisa menyebabkan korban depresi, menurunkan daya belajar bahkan ada yang nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Sehingga hal inilah yang harus dijaga dari para generasi muda, terlebih di tengah dunia perkembangan kemudahan gadget saat ini," ujar Kepala Sub Bagian Tata Usaha  DP3ACSKB itu. (bbp)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan