Budeng
Rusmin Sopian.-dok-
Di saat cahaya rembulan sudah diatas kepala, di teras rumah Marfuah, wajah Markudut tampak lesu. Wajah lelaki muda itu menampakkan sebuah kegalauan jiwa. Tidak biasanya dimana keceriaan selalu menjalari raganya saat berada di rumah Marfuah.
Selama ini, saat berada di teras rumah sang penari itu, jiwanya selalu berbungkus kebahagiaan. Jiwanya dibaluri kegembiraan.
Ucapan yang disampaikan Marfuah malam itu, telah membuat hatinya luka. Teriris-iris. Jiwanya mati. Tidak ada lagi yang membahagiakan dirinya.
"Kite dak mungkin kawin. Umor kite. Gawe aku dan keluarga mu adalah penyebab semue itu," terang Marfuah kepada Markudut.
"Jadi Ka menolak cinta ku ok?," tanya Markudut.
Marfuah tersenyum. Memandang ke arah Markudut. Senyum penuh pesona ditaburkannya. Senyum yang selalu membuat lelaki berbunga-bunga. Tak terkecuali Markudut.
"Denger ok orang bujang. Hidup neh bukan soal cinta bae. Ada faktor lain yang dak pacak muet kite hidup same-same. Ape agik untuk berumah tanggak," jawab sang penari.
Hati Markudut pun terkoyak saat mendengar kalimat itu.