MBG Sibuk Membagi, Lupa Mengukur
Chairul Aprizal.-Dok Pribadi-
Kuncinya bukan dibanyaknya makanan yang berhasil dibagikan tapi banyaknya permasalahan gizi yang berhasil ditangani. Pengukuran pemantauan adalah kunci. Yang perlu diukur adalah berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar lengan, kenaikan berat badan ibu hamil/balita, kehadiran serta edukasi gizi dalam pemantauan rutin.
Siapa yang dapat terlibat? Apabila dapur sebagai produksi dan distribusi maka posyandu dapat menjadi instrumen pengukuran dan pemantauan. Tanpa perlu menyediakan SDM atau unit baru. Posyandu terdiri dari berbagai integrasi lintas sektoral mulai dari kader kesehatan, tenaga kesehatan, pemerintah setempat (Desa/Kelurahan), serta puskesmas. Kader dan petugas kesehatan sebenarnya sudah memiliki sistem pemantauan tumbuh kembang yang sudah berjalan lama. Dari segi efektivitas program MBG maka terintegrasi dengan posyandu untuk pencatatan dan pemantauan perlu dilakukan.
Kalau selama ini program MBG (Makanan Bergizi Gratis) hanya berhenti di Output maka saatnya program ini menuju Outcome. Jangan bangga puluhan ribu porsi dibagikan, atau Ribuan masyarakat kenyang makan paket MBG. Penting sekarang untuk dilihat berapa siswa dapat lebih baik gizinya, berapa balita yang membaik status gizinya, berapa ibu hamil yang sehat dengan status gizi baik, dan berapa banyaknya kasus gizi buruk serta stunting yang menurun.
Program MBG tidak hanya memberikan rasa kenyang tapi juga manfaat gizi. Langkah besar yang patut diapresiasi ini harus benar-benar bermanfaat untuk masyarakat Indonesia. Sudah saatnya kesibukan bukan sekedar menghitung jumlah tapi mengukur perubahan gizinya.**