Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Puasa: Destruksi Penyakit Hati (Rakus)

Nilawati.-Dok Pribadi-

Pertama, kewajiban puasa di bulan Ramadan mengajarkan kepada umat Islam tentang pentingnya memahami bahwa manusia adalah lemah ketika ditimpa lapar dan dahaga. Ketika dirinya lemah, pada saat itu individu yang melaksanakan puasa seharusnya menyadari tentang ketidakhebatan seorang manusia. 

 

Apa yang terjadi jika seorang manusia tidak makan dan minum selama 10 hari? Bukan lagi lemah fisiknya, mungkin pada saat itu ajal menjemputnya. Lalu, pada titik ini, puasa mengajarkan tentang ketidakberdayaan yang dihadapi manusia ketika tidak makan dan minum. Dengan demikian, muslim yang berpuasa seharusnya menyadari bahwa tidak ada yang hebat dalam dirinya.

 

Manusia hanya ciptaan Tuhan yang tidak perlu menyombongkan diri di kalangan manusia, apalagi di hadapan Tuhan sang Pencipta. Ketamakan biasanya muncul karena dirinya merasa lebih hebat dibanding yang lainnya. Ketamakan dan keserakahan muncul dari rahim kesombongan dan keangkuhan. Kedua, puasa mengajarkan bahwa manusia harus membersihkan pikirannya dari ketamakan dan keserakahan yang mungkin berkembang dalam pikirannya yang tak terbatas. 

 

Semua bahan makanan yang terlezat dan minuman terenak tersedia namun tak akan dimakan dan diminum jika belum waktunya berbuka. Pada saat berbuka, semua makanan dan minuman segala jenis yang tersedia ternyata tidak semuanya mampu ditampung dalam perut manusia. Pada saat itu, setiap muslim yang berbuka seharusnya merenung, tidak ada gunanya tamak dan serakah sebab secara fisik tubuh manusia tidak mampu menampung ketamakan dan keserakahan terhadap dunia. 

 

Tuhan menciptakan fisik manusia terbatas. Sementara ketamakan dan keserakahan tidak terbatas. Manusia ingin mendapatkan sesuatu, setelah sesuatu itu didapat dia ingin sesuatu lagi yang lebih. Ketika itu diperoleh, sesuatu lagi yang lebih hebat ingin dikejar. Begitu seterusnya, tak terbatas. 

 

Ketiga, puasa mengajarkan tentang pentingnya kesejahteraan jiwa. Dewasa ini, sebagian besar orang mengalami kesejahteraan fisik. Tingkat kesejahteraan masyarakat mengalami perbaikan. Banyak orang yang sakit atau meninggal bukan karena kelaparan, namun karena kekenyangan. Sakit diabetes, kolestrol hingga obesitas merupakan tipikal penyakit yang timbul karena kekenyangan. Namun, kesejahteraan fisik tersebut kurang berkorelasi dengan kesejahteraan jiwa.

 

Kesejahteraan fisik yang diperoleh tidak mampu mengendalikan ketamakan dan keserakahan. Orang yang mengalami stres dan perilaku abnormal justru meningkat akibat dari ketidaksejahteraan jiwa ini. Konsumsi narkoba juga sangat meresahkan akhir-akhir ini. 

 

Puasa mengajarkan kepada kita bahwa perilaku dan jiwa harus stabil.  Kesejahteraan jiwa yang ditandai oleh pikiran dan jiwa yang bebas dari tamak dan serakah harus dibersihkan. Jika tidak, maka penyakit turunan dari tamak dan serakah akan berkembang biak dalam jiwa dan pikiran manusia. Penyakit turunan dari tamak dan serakah adalah iri, dengki dan hasad. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan