Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Puasa: Destruksi Penyakit Hati (Rakus)

Nilawati.-Dok Pribadi-

 

Dengan tidak makan dan minum berati melatih dan mendidik diri menjadi orang baik dengan berbuat kebaikan (amar ma'ruf) sekaligus menghindari dan mencegah dari perbuatan jahat (nahi munkar) sehingga yang ada dalam diri orang yang berpuasa hanyalah kebaikan. Dengan demikian pada intinya berpuasa untuk meraih kebaikan. Dan kebaikan dapat meningkatkan derajat takwa bagi yang berpuasa serta mampu menghindari diri dari perbuatan mungkar. Begitu juga taqwa pada hakikatnya juga kebaikan yang lebih ditujukan kepada berbuat kebaikan sesama manusia bahkan dengan semua makhluk Allah dan lingkungan alam.

 

 

Untuk mencapai predikat keshalehan dan takwa itu tentu akan melewati beragam potensi negative yang menjadikan manusia tak luput dari kealpaan dan kenistaan karena selain dianugerahi akal fikiran manusia juga dibekali oleh Allah SWT dengan nafsu, termasuk dalam hal ini adalah keingingan tamak (keserakahan). Dan hal ini pun sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS, sejarah manusia selalu ditandai dengan keserakahan dan ketamakan. 

 

Apa yang diperebutkan oleh Qabil, putra Adam AS adalah simbol keserakahan pertama dalam sejarah manusia. Sejak saat itu, keserakahan Qabil turun-temurun dalam darah manusia berikutnya yakni anak cucu Nabi Adam AS.  Keserakahan menyebabkan makhluk-makhluk lain punah di tangan manusia. Burung-burung yang dahulu di kampung sering berkicau, sekarang sangat susah ditemui. 

 

Gajah telah mulai sirna, bahkan harimau yang dikenal sebagai raja hutan juga pelan-pelan ditelan ketamakan manusia dan ketamakan saat berpuasa juga seperti semua makanan selalu dilahap habis dan menjadikan puasa sebagai ajang balas dendam. Dalam diri manusia yang dianugerahi oleh Tuhan kemampuan berpikir telah dikotori oleh keserakahan duniawi.

Hasrat yang memenuhi pikiran manusia mencederai peradaban manusia itu sendiri. 

 

Perang yang terjadi saat ini antara Amerika Dan Iran juga salah satunya  dipicu tidak lain dan tidak bukan oleh ketamakan manusia (Human Greed) yang dikemas  dalam kepentingan strategis, ekonomi dan politik. Ketamakan dan keserakahan akan menenggelamkan pemahaman bahwa dirinya tidak lain adalah ciptaan Tuhan. 

 

Manusia yang tamak dan serakah dimungkinkan dirinya tidak memahami tentang kenyataan bahwa dirinya hanyalah ciptaan Tuhan. Pengendalian keserakahan yang mulai senja dalam peradaban manusia berupaya dibangkitkan melalui puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Dalam hal ini penulis merangkum bahwa puasa itu mengindikasikan dalam sifat rakusnya manusia dalam mendapatkan hikmah puasa yang terkait dengan pengendalian ketamakan dan keserakahan dalam diri manusia.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan