Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Ramadan, Kejujuran, dan Hipokrisi Dunia Kerja

Sigit Eliyadi.-Dok Pribadi-

Oleh Sigit Eliyadi 

Penghulu pada KUA Sekadau Hulu

 

 

PUASA Ramadan selalu hadir sebagai ritus tahunan yang sarat makna. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan sunyi tentang kejujuran. Dalam kesendirian, saat tak ada mata manusia yang mengawasi, seseorang tetap menahan diri dari seteguk air. Di situlah esensi puasa menemukan maknanya: kejujuran yang lahir dari kesadaran, bukan semata karena pengawasan.

 

Pertanyaan mendasarnya kemudian menggugat kita: apakah kejujuran itu hanya kita rawat selama Ramadan? Ataukah ia mampu menembus ruang-ruang lain dalam kehidupan, terutama dunia kerja yang penuh godaan, kompromi, dan berbagai bentuk justifikasi?

 

Ramadan kerap dipuji sebagai madrasah kejujuran. Namun, sebagaimana proses pendidikan, keberhasilannya tidak diukur dari kehadiran selama proses berlangsung, melainkan dari perubahan perilaku setelahnya. Jika selepas Ramadan praktik manipulasi, ketidakjujuran administratif, dan berbagai bentuk penyimpangan kecil masih berlangsung, maka patut kita bertanya: sudahkah kita benar-benar “lulus” dari madrasah tersebut?

 

Kejujuran yang Bersifat Personal

Puasa mengajarkan bentuk kejujuran yang sangat personal. Ia tidak membutuhkan saksi, tidak bergantung pada pengawasan, dan tidak pula ditopang oleh sistem. Seseorang bisa saja berpura-pura berpuasa di hadapan publik, tetapi diam-diam membatalkannya. Namun faktanya, sebagian besar orang tidak melakukan itu.

 

Hal ini menunjukkan bahwa puasa bekerja pada wilayah batin. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa terdapat dimensi yang lebih tinggi daripada sekadar hukum sosial, yakni dimensi spiritual. Pada titik ini, kejujuran tidak lagi semata terkait dengan takut pada sanksi manusia, melainkan pada integritas diri di hadapan Allah Swt.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan