Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Wartawan Profesi Menantang dan Mulia

Syamsul Bahri.-Dok Pribadi-

Terlepas dari perbedaan defenisi wartawan di atas, tentunya kita sepakat jika wartawan itu adalah sebuah profesi yang menantang dan mulia. Memilih menjadi seorang wartawan tentunya bukan hal mudah. Memilih sebagai profesi wartawan sudah pasti banyak berkorban. Mulai dari meninggalkan keluarga, meninggalkan waktu bersama teman bahkan terkadang mempertaruhkan nyawa demi sebuah berita. 

 

Di sinilah tantangannya ketika memilih profesi sebagai wartawan. Tantangan yang lebih ekstrem lagi terkadang wartawan mengalami perlakuan yang tidak baik bahkan tidak sedikit yang mendapat ancaman. Dalam catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) selama 1 Januari-31 Agustus 2025 ada 60 kasus kekerasan terhadap jurnalis dan media, termasuk teror, intimidasi dan serangan digital ke website dan akun media sosial media. 

 

Selanjutnya dalam tulisannya, Samesto Nitisastro, mengungkapkan bahwa Rosihan Anwar, seorang tokoh pers, sejarawan, sastrawan, dan budayawan Indonesia, mengatakan, tugas wartawan adalah mencerahkan, dan bukan mengeruhkannya. Menunjukkan jalan, dan bukan menyesatkannya. Menentang kezaliman, dan bukan membenarkannya. Membebaskan rakyat, dan bukan membelenggunya. Sementara, menurut Presiden pertama RI, Soekarno, tugas wartawan antara lain menjaga peradaban. Suatu peradaban besar tak akan bisa turun atau tenggelam, kecuali apabila peradaban itu merusak diri sendiri dari dalam. 

 

Lebih lanjut Samesto Nitisastro menyatakan apabila mencermati apa yang disampaikan Rosihan Anwar dan Soekarno, kita bisa melihat betapa mulia dan terhormat profesi wartawan. Wartawan harus mempunyai kecerdasan lahir dan batin, berwawasan luas, perilaku yang baik, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral serta kejujuran. Kebebasan wartawan memang dilindungi undang-undang. 

 

Namun, jika kebebasan itu diartikan sebagai pembenaran untuk melakukan banyak hal yang tidak terpuji, akhirnya dunia jurnalistik di Indonesia menjadi tercemar. Oleh karena itu penertiban wartawan abal-abal yang menodai dunia pers di Indonesia merupakan suatu keniscayaan dan harus disikapi secara serius oleh semua pemangku kepentingan. Media-media besar dan profesional harus terus-menerus memberikan edukasi kepada masyarakat. (Kompas.id).

 

Oleh karena itu, wartawan dan pers harus tetap kuat dan tegar dalam menjalankan tugas mulianya. Tantangan sudah pasti ada namun tugas mulia jangan sampai ditinggalkan. Bertepatan dengan hari pers nasional (HPN) dan HUT PWI tahun 2026 ini, masyarakat pasti mendoakan ketangguhan wartawan Indonesia. Sesuai dengan tema HPN 2026 “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”. **

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan