Transformasi Pondok Pesantren
Syamsul Bahri.-Dok Pribadi-
Oleh: Syamsul Bahri
Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
PONIK pesantren sebagai cikal bakal pendidikan di Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun bangsa. Sejak prakemerdekaan pondok pesantren menempatkan diri menjadi aktor pendidikan dan pembangun bangsa. Kekhasan pondok pesantren yang dimiliki menjadi nilai tambah sebuah proses pendidikan yang mampu mendidik secara optimal, dari teori sampai aplikasi semua didapatkan. Pendidikan pesantren memberi pelayanan dua puluh empat jam pada santri, hal ini memungkinkan ter-cover-nya kebutuhan pendidikan bagi masyarakat.
Berkumpulnya santri dan kyai dalam satu tempat memungkinkan adanya pendidikan keteladanan yang berlangsung efektif. Jika dibandingkan dengan pendidikan formal yang dibatasi oleh ruang dan waktu, pondok pesantren memiliki kekuatan penuh dalam mendidik. Keteladanan kyai dalam pemecahan masalah kehidupan bisa dilihat secara langsung oleh santri, sehingga pendidikan karakter, pembekalan skill berlangsung alami dan terus menerus.
Santri yang mayoritas pada usia labil tentunya akan mudah memperoleh idola yang tepat dari sosok kyai. Seperti Nabi Muhammad ketika mendidik dengan suri teladan, begitupun ketika menyampaikan pendidikan dasar-dasar akidah. Ternyata keteladanan inilah yang menjadikan umat Islam berjaya pada masa itu. Pendidikan pesantren masih kental dengan itu, hal ini yang membedakan dengan pola pendidikan lainnya yang mana kefiguran pendidik dikesampingkan.
Tren adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang atau lebih guru yang dikenal dengan sebutan kyai. Materi pendidikan pondok pesantren bermuara pada satu arah yaitu penguasaan kitab kuning. Kitab-kitab klasik ini terdiri dari nahwu, shorof, fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, tauhid, tasawuf, etika, tarikh dan balaghah.
Materi ini menjadi menu utama pondok pesantren yang ada di Indonesia, terutama pesantren salafi/tradisional yang bertahan hingga sekarang. Pondok pesantren ini memiliki spesialisasi tersendiri disesuaikan dengan keterampilan keilmuan yang dikuasai sang kyai. Misalnya ada pondok pesantren yang hanya mendalami ilmu fikih, mendalami ilmu tasawuf, mendalami tahfizhul qur’an dan banyak lagi macamnya.
Sudjoko Prasojdo, dalam bukunya Profil Pesantren, menyebutkan bahwa pondok pesatren merupakan suatu bentuk pendidikan keislaman yang melembaga di Indonesia. Pondok pesatren terdiri atas dua kata yaitu pondok dan pesantren. Kata pondok (kamar, gubug, rumah kecil) dipakai dalam bahasa Indonesia dengan menekankan pada kesederhanaan bangunan.