Dari Citra ke Kepercayaan Publik
Aziz Saleh.-Dok Pribadi-
Kementerian Agama adalah salah satu contoh menarik. Dalam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2024, Kemenag meraih predikat “informatif” dengan nilai 94,52—capaian yang menunjukkan konsistensi dalam transparansi dan keterbukaan data. Di ajang lain, Top Government Public Relations (GPR) Awards, Kemenag juga menerima penghargaan atas inisiatif komunikasinya. Skor kepatuhan pelayanan publik versi Ombudsman sebesar 88,53 memperkuat kesan bahwa reformasi komunikasi di lembaga ini bukan sekadar kosmetik, melainkan kerja sistemik yang berdampak pada mutu layanan.
Dampak positifnya tampak dalam dua hal. Pertama, meningkatnya kesadaran bahwa komunikasi publik bukan fungsi tambahan, tetapi bagian dari pelayanan. Kedua, perubahan budaya internal: dari sekadar menyampaikan informasi menjadi membangun dialog. Tingginya indeks kepuasan layanan di sejumlah kantor wilayah Kemenag menunjukkan bahwa komunikasi yang baik memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi.
Namun capaian ini juga mengandung pengingat: penghargaan tidak boleh membuat humas berhenti belajar. Tantangan terbesar humas pemerintah bukan pada banyaknya penghargaan yang diterima, tetapi pada seberapa dalam ia menanamkan makna pelayanan di hati publik. Di sinilah kehumasan menemukan rohnya—bukan sebagai alat pencitraan, melainkan sebagai jembatan empati antara pemerintah dan rakyatnya.
Di era digital, tantangan humas pemerintah kian kompleks. Derasnya arus informasi dan disinformasi menuntut strategi komunikasi yang adaptif. Krisis informasi kini bukan karena kekurangan komunikasi, melainkan komunikasi yang tidak menyesuaikan diri dengan ekosistem digital. Humas pemerintah perlu memahami algoritma media sosial, dinamika warganet, serta etika komunikasi digital yang membangun kepercayaan publik. Sayangnya, sebagian masih terjebak dalam pola komunikasi satu arah dan belum memanfaatkan data analitik untuk membaca opini publik secara real time.
Selain itu, koordinasi kehumasan di lingkungan pemerintah masih bersifat sektoral. Pesan pembangunan sering terdengar tumpang tindih, bahkan kontradiktif. Karena itu, perlu dibangun sistem koordinasi kehumasan nasional yang terintegrasi di bawah satu pusat narasi pemerintah—dengan orientasi pelayanan publik, bukan promosi kelembagaan.
Komunikasi publik dan kehumasan sering dianggap serupa, padahal keduanya berada di dua ranah yang saling melengkapi. Komunikasi publik adalah ruang besar tempat negara berbicara kepada warganya—menjelaskan kebijakan, membuka informasi, dan mengajak partisipasi.
Kehumasan adalah nadinya; ia mengelola cara berbicara, nada pesan, dan jembatan emosi antara pemerintah dan masyarakat. Komunikasi publik memberi arah, kehumasan memberi bentuk. Di titik temu itulah reputasi dan kepercayaan publik dibangun—bukan semata lewat publikasi, tetapi melalui keterbukaan dan konsistensi.