Remaja Putri: Tak Pe-de Kini, Jaya Nanti
Kristia Ningsih.-screenshot-
Akan tetapi, apakah itu semua porsi utama para pelajar putri? Rasa-rasanya tidak. Media sosial kita tidak kekurangan pemengaruh yang berjoget-joget: mereka dapat uang dari itu. Akan tetapi, kalau remaja putri yang berjoget-joget? Bukannya dapat uang, bisa saja malah dapat peluang jadi korban kejahatan siber.
Segala aktivitas media sosial remaja yang kerap kita lihat saat ini kebanyakan justru tidak ada kaitannya dengan dunia mereka. Langka pemandangan wajah polos, tak banyak pikir selain belajar yang selalu sibuk ekskul kha remaja. Ujung-ujungnya, lagi-lagi pemilik media sosial yang diuntungkan dan kita yang tak dapat apa-apa.
Inilah sebab banyaknya video perbandingan. Misalnya, ketika anak-anak di Cina sudah berlatih menjahit luka dengan kulit manusia tiruan, dibandingkan dengan anak-anak kita yang guru laki-laki dan murid laki-laki dengan seragam sekolah berjoget ‘mendayu’ dengan bangganya. Menyakitkan! Mau menyanggah, tapi itu memang faktanya.
Yang menjadi poin tulisan ini, mari jangan sampai kita beri contoh pada generasi muda bahwa ketidakpercayaan diri adalah pemakan porsi besar hidup kita. Seberapapun menyedihkannya dan buruknya rasa rendah diri itu, jangan sampai kita buta. Surat At-Tin ayat ke-4 mengingatkan, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." Artinya, kalau kita belum menerima ketidaksempurnaan diri, yakinkanlah bahwa akan ada hikmah 'sempurna' di baliknya kelak.
Jikapun setelah bertahan dan berusaha, hasil masih tak sesuai harapan, kita boleh simak Ustaz Abduh Tuasikal. Menurut beliau, bila seseorang sabar terhadap musibah yang telah Allah tetapkan, maka derajatnya terangkat, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni (muslim.or.id).
Tafsiran tersebut selaras dengan Surat Yusuf ayat ke-87 yang juga mengingatkan kita: “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.” Dilanjutkan dengan Surat Al–Insyirah [94]: 5–6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Sebaliknya, dengan segala keterbatasan diri yang tetap berkarya dan akhirnya sukses, kembali ingat: semuanya atas izin Allah. Bukan karena 'aku' yang berusaha, maka 'aku' sukses. Semoga kita dapat memanajemen insecurities sekaligus menghindari ujub keakuan (merasa besar, merasa hebat).
Segala sesuatu yang tampak menyedihkan dan tidak keren hari ini, bisa saja ia justru yang menjadi jalan lurus untuk masa depan kita. Tak perlu justru sibuk dengan menutup-nutupinya, menyangkalnya, atau lebih parah lagi, haus validasi sibuk menjelaskan latar belakang pembenaran kekurangan diri kita. Sibukkan diri dengan berkarya, berdaya tentu saja dalam koridor yang tepat. ***