Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Lansia di Babel: Menua dalam Keterpaksaan

Sohidin.-Dok Pribadi-

 

Namun mari menengok lebih dalam ke balik statistik itu: bagaimana sesungguhnya kehidupan para lansia yang kita bicarakan ini? 

 

Dua aspek utama yang sangat erat kaitannya dengan penuaan penduduk adalah kesehatan dan ketenagakerjaan. Di Babel, lebih dari separuh lansia (54,80 persen) masih menyandang status kepala rumah tangga—artinya mereka tetap memikul beban ekonomi keluarga di usia senja. Di sisi lain, 5,79 persen hidup sendirian. Angka yang kecil, tetapi menyimpan potensi kerentanan yang besar: kesepian, ketidakberdayaan, dan kurangnya perlindungan sosial.

 

Masalah kesehatan menjadi bayang-bayang harian yang nyata. Hampir setengah dari lansia mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir. Ironisnya, satu dari lima lansia masih aktif merokok. Gaya hidup yang belum berubah, sistem kesehatan yang belum merangkul sepenuhnya, dan usia yang terus bertambah—kombinasi ini menjadi resep menuju kerapuhan fisik yang mempercepat penurunan kualitas hidup.

 

Tekanan ekonomi membuat banyak lansia tidak punya pilihan selain terus bekerja. Namun dunia kerja yang mereka hadapi bukanlah ruang yang nyaman. Sebanyak 77,08 persen lansia bekerja di sektor informal—tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian upah, dan sangat rentan terhadap eksploitasi. Pendidikan menjadi penghalang besar: tiga dari empat lansia bekerja hanya lulusan SD atau bahkan tidak tamat sekolah dasar. Hanya 4,83 persen yang punya pendidikan tinggi.

 

Pekerjaan yang mereka jalani pun bukan pekerjaan ringan. Rata-rata jam kerja mingguan lansia di Babel mencapai 32,37 jam. Bahkan 1 dari 5 lansia bekerja lebih dari 48 jam seminggu—setara dengan jam kerja penuh pegawai muda di kota besar. Bayangkan tubuh renta dipaksa menanggung beban fisik berkepanjangan di usia senja. Dan semua itu mereka jalani demi penghasilan rata-rata sekitar Rp 2,6 juta per bulan—jauh di bawah UMR Babel 2024 yang sebesar Rp 3,64 juta. Lebih dari separuh dari mereka bahkan hanya berpenghasilan di bawah Rp 2 juta.

 

Dengan penghasilan seperti itu, tak heran jika 76,46 persen lansia di Babel masuk kategori ekonomi menengah ke bawah. Sebanyak 40,33 persen di antaranya bahkan berada di kelompok 40 persen termiskin. Mereka bekerja bukan karena ingin tetap produktif, tetapi karena tak punya ruang untuk berhenti. Tak ada dana pensiun, tak ada tabungan, dan tak ada kemewahan untuk menikmati masa tua. Hanya ada kebutuhan harian yang tak kunjung lunas.

 

Karena di balik setiap angka, ada manusia, ada cerita, dan ada masa depan yang bisa kita bentuk bersama.

Kondisi lansia di Bangka Belitung—dan di banyak daerah lainnya—menunjukkan bahwa penuaan penduduk bukan hanya isu statistik, tetapi soal keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan. Kita dihadapkan pada kelompok masyarakat yang telah bekerja sepanjang hidupnya, namun terpaksa tetap bekerja di usia tua karena negara dan sistem belum cukup melindungi mereka.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan