Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Ajakan Tuan Mahmud Almarhaen

Marhaen Wijayanto.-Dok Pribadi-

Hanya kapan ayah pulang, Bunda belum tahu. Sudah dua bulan lebih tanpa ada kabar berita dari Tuan Mahmud Almarhaen. Tentu dengan segala firasat, kami berdoa agar semua baik-baik saja. Siang malam, utamanya ketika salat, kami panjatkan doa agar ayah segera datang.

 

Sekarang sudah jam sepuluh malam. Kami sekeluarga bersiap tidur. Rumah kami semakin sunyi, berbalut kerinduan pada ayah. Tak lupa sebelum terlelap saya mendoakan agar ayah selamat sampai rumah. Tapi semenit dua menit di halaman rumah kami  terdengar suara truk. Kemudian berhenti, dan puluhan kaki terdengar berderap, sepertinya mereka berbaris.

 

“Tok tok tok . . .”

Ketukan pintu itu saya kenal. Jika dilihat dari iramanya, saya sama sekali tidak asing itu adalah ketukan pintu dari . . . .

“Assalamualaikum . . .”

“Assalamualaikum . . .”

Nah itu suara Tuan Mahmud Almarhaen dan  . . .

 

Ayah kali ini datang bersama pasukan satu kompi. Perawakan pasukan itu berpostur tinggi. Rata-rata mereka berkulit putih dan rapi. Di dada, mereka menenteng senapan laras panjang. Panji-panji bertuliskan kaligrafi berbentuk senapan terbawa serta. Setelah berbaris dan membubarkan diri, mereka tergeletak sembarangan di rumah. Ada yang di halaman, di serambi, bahkan ada yang tidur sambil duduk saja. 

 

“Barang semalam kita akan menginap hingga menjelang subuh kami akan kembali berlayar.”

 

Kali ini ayah berbaju loreng abu-abu. Tampak logo berbahasa Arab. Ketika saya baca perlahan di sana ada kalimat bahasa asing Sepāh-e Pāsdārān-e Enqelâb-e Eslâmī. Saya mengenal tulisan itu karena sekadar berasal dari ajaran mengaji. Tapi saya tak memahami makna dari tulisan itu. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan