Ajakan Tuan Mahmud Almarhaen
Marhaen Wijayanto.-Dok Pribadi-
Dengan mobil buatan Eropa Tuan Mahmud membuat ayah membuka mata, jika ingin uang banyak kita harus beranjak dari tempat tinggal. Kita mesti membuang jauh-jauh rasa nyaman. Merantau adalah jalan terbaik jika kita ingin hidup enak.
“Kampung halaman hanyalah tempat lahir, namun jika kita ingin hidup, perantauan adalah pilihan terbaik. Di dekat rumah hanya ada rupiah, tetapi di timur tengah, kita bisa mengumpulkan real, dolar, bahkan emas berlian pun kita bisa dapat!”
Dengan narasi-narasi dolar dan real, berangkatlah ayah bersama Tuan Mahmud Almarhaen. Bunda tentu mengizinkan. Pertama, minyak adalah primadona dunia. Sebagai guru IPS di sekolah yang hampir tutup, bunda tahu itu. Apalagi kepala sekolahnya adalah pengamat politik timur tengah.
“Sebenarnya ujung pangkal konflik di wilayah timur tengah adalah minyak!”
Sebuah perang bisa terjadi karena ada si Adi Kuasa ingin menguasai minyak dengan berbagai cara. Di Amerika Selatan, dalam waktu tiga jam, seorang presiden bisa dikudeta dengan mudahnya. Si Adi Kuasa itu menginginkan pemimpin yang bisa dikendalikan, bahkan dijadikan boneka.
Masalah minyak memang akan jadi perkara yang tak ada habisnya. Minyak menjadi komoditi , kotak pandora, bahkan seperti uang yang mengalir dari dalam tanah. Karena minyaklah, bangsa di barat rela berbaku hantam, kirim mengirim serangan, saling bunuh, mengadu domba, mirip tetangga sebelah yang ribut dengan istri karena ketahuan punya pasangan baru.
Semenjak timah sepi, ayah terlunta-lunta. Rambutnya yang dulu klimis atau kadang diwarnai, sekarang berubah gondrong dan gimbal. Perawakannya yang dulu padat berisi, kini menjai kurus mirip orang sakit tifus atau virus anjing gila.
Ketika ajakan ke jual beli minyak di timur tengah seolah jadi solusi di tengah dompet yang kering keronta. Ajakan Tuan Mahmud Almarhaen disambut bunda dengan riang. Semua ini karena ajakan Tuan Mahmud Almarhaen. Ia muncul di saat ayah benar-benar membutuhkan uang.