Baca Koran babelpos Online - Babelpos
Kamis, 30 Apr 2026
Network
Beranda
Headline
Pangkalpinang
Politika
Daerah
Bangka
Bangka Tengah
Bangka Selatan
Bangka Barat
Belitung
Belitung Timur
Komunikasi Bisnis
Advetorial
Kolom
Catatan Politik
Bahasa
History
Taring
Soccer
Lainnya
Gadget
Hiburan
Literasi
Kesehatan
Nasional
Opini
Pendidikan
Network
Beranda
Literasi
Detail Artikel
Mudik
Reporter:
Admin
|
Editor:
Budi Rahmad
|
Jumat , 27 Mar 2026 - 16:14
Marhaen Wijayanto.-Dok Pribadi-
mudik cerpen marhaen wijayanto sekali waktu saya berjalan menyusuri kampung, tempat asal saya dilahirkan. mudik kali ini saya menapaki jejak masa kecil yang kini terasa indah dan tak terulang kembali. selepas mudik tahun kemarin, setahun bukanlah waktu yang lama untuk dilalui. sejauh apapun kaki kita melangkah ke perantauan, pasti kan kembali di hari yang dinanti apalagi tiga hari lagi puasa selesai. kembali ke mesin waktu itu, ketika saya masih kecil, manusia harus bersentuhan langsung jika ingin dekat. tidak ada jarak satu mili pun yang jadi alasan untuk bertemu sapa. itu yang kita rindu. sedangkan orang-orang zaman sekarang terlalu larut dalam perjumpaan semu. katanya kenal, tapi belum pernah saling bertemu. katanya akrab, tetapi tak tahu berbicara dengan siapa itu. sekat pemisah itu bernama telepon genggam dan internet. beda lubuk, beda pula ikannya. katanya mudik tak perlu bertemu dengan orang tua langsung, tetapi cukup dengan saling sapa dari jarak jauh. dengan mudahnya kita bisa saling memaafkan tanpa harus bertemu dan berada di tempat yang sama. saat kita memegang benda canggih berbentuk kotak kecil, lalu orang yang berbicara dengan kita tampak dari benda itu, anggaplah itu sebuah pertemuan. mudik sekarang beda dengan masa kecil dulu. zaman lampau, pertemuan lebih berharga meski telah berkabar melalui surat atau ucapan lewat kartu pos. arti pertemuan zaman dahulu ya berjumpa langsung, bukan lewat kabel atau sinyal. kita pernah berada pada masa, di kala jabat tangan dan tegur sapa tak tertandingi dengan teknologi. kala sungkem dan salam menandai mudik yang sebenarnya, bukan ucapan lewat video jarak jauh. mudik tiga puluh tahun lalu berbeda. menawarkan gambar abu-abu di album foto yang kusam. menertawakan mudik zaman sekarang yang serba canggih. tidak pulang, tapi video call saja. saya pernah jadi saksi, sebuah masa yang membully perayaan mudik zaman modern. saat debu dan asap menyapa jalanan di kampung. masa di kala listrik belum menjangkau rumah-rumah. satu kampung ramai-ramai menonton televisi yang satu desa hanya satu orang yang punya. tertawa bersama, kala film warkop dki mengocok perut atau kita mesti memutar tiang antena yang berasal dari bambu, karena sinyal siaran masih kurang pas. sekarang jalanan kampung kami sudah sangat bagus, berbeda dengan debu mengepul berasal dari pengais timah di masa lalu. tiga puluh tahun adalah waktu yang indah, sama sekali tak terpikirkan akan kita rindukan sekarang. sekarang listrik di kampung kami bukanlah barang mahal. apalagi setelah orang-orang mengenal internet, dari anak kecil sampai lansia semakin keranjingan dengan benda yang bernama gawai. hingga abg atau jompo tak ada lagi bedanya karena filter. belum lagi ledakan mercon, dari ukuran kecil-kecil hingga sebesar ember. dar, der, dor bersahutan bersaing dengan takbir hari raya yang terlantun. meski sederhana, paling tidak itulah perayaan “besar” bagi kami para pemudik tuk menyambut kemenangan. nenek kemarin bertanya, “itu kok ada kotak rokok bisa ngomong sendiri?” nenek belum paham kalau benda itu bukan bungkus rokok, tapi gawai. orang biasa menyebutnya hape. beliau rupanya masih tertinggal tiga puluh tahun ke belakang. wajar, karena kesehariannya hanya seputaran mengunyah sirih. beliau tak menyadari perputaran bumi yang sudah mencapai bermilyar-milyar kali. sehingga setelah mudik sebanyak tiga puluh kali pun, nenek masih berada di mudik tahun ke satu. untung saja nenek tahu kalau indonesia sudah berganti beberapa presiden. ada presiden seniman, presiden prajurit, teknokrat, ulama, presiden wanita, bahkan pengusaha mebel pun ada. untung saja beliau tak mengibarkan bendera belanda. paling tidak nenek masih menonton panjat pinang atau balap karung pertanda kita negara merdeka. kampung kami adalah penyumbang urbanisasi terbesar di pulau ini. jadi wajar, saat idul fitri kampung kami riuh bak pasar tumpah bubar. yang tadinya malam hari adalah milik belalang dan burung hantu, kali ini ratusan mobil memenuhi jalanan dari ujung barat hingga timur. mengapa memilih urbanisasi? karena di kampung kami lebih sering paceklik daripada panen. lebih sering, orang mengeluh sembari mencari kutu daripada berbicara prospek ekonomi ke depan. lebih sering kawin cerai, dibandingkan investasi. sejak zaman dahulu, tradisi merantau adalah identitas turun temurun. entah bekerja atau sekadar kuliah seperti saya, pergi dari desa adalah yang terbaik. itulah yang membedakan kampung kami dengan daerah lain di pulau ini. jika ingin maju, maka merantaulah, asal jangan lupakan tempat di mana kamu pulang yaitu kampung halaman. di rantau kamu akan menemukan saudara baru. di seberang kita akan menemukan orang-orang yang menyayangi kita, bahkan melebihi saudara sedarah. di tempat jauh adalah gudangnya ilmu, apalagi kau meraihnya sampai ke negeri cina. di sanalah jendela dunia akan terbuka, tidak hanya menghamba pada acara dunia dalam berita tvri. saat mudik saya menemukan fakta yang sama, orang-orang akan melakukan sungkem. itulah yang harus kita jaga, membuat tradisi lebaran tak luntur. mulai dari urutan paling tua, ayah dan ibu akan sungkem pada kakek dan nenek. setelahnya, saya akan sungkem pada ayah, ibu, atau paman. jiwa merantau membuat tradisi tahunan serasa indah, yaitu mudik. anak muda seperti kami bahagia ketika waktu itu datang. tangan kami seperti lepas dari rantai dan borgol. bahagia kala mudik lebaran mirip keluar dari tahanan. “berarti kamu tidak senang bulan puasa? kalau lebaran datang kamu bahagia, berarti kamu kesal dengan ramadan?” tentu saya menjawab tidak, “saya bahagia dengan puasa. puasa adalah ladang pahala, tempatnya melatih diri dari hawa nafsu dan sabar.” kalau bulan puasa bisa bicara, ia akan menjawab “preettt!!”” dalam hati yang jujur memang saya sangat kesal dengan bulan puasa. kami tak bisa ngopi di pagi hari. bekerja pun terasa lemas karena menahan lapar dan haus. tetapi andai pahala puasa itu diperlihatkan seperti emas sebesar gunung, mungkin tanpa disuruh pun orang akan puasa. sayangnya pahala itu tidak terlihat, maka banyak orang justru merayakan ketika ramadan itu pergi. ## ketika mudik, saya terbawa kenangan masa kecil. anak-anak di seberang jalan mencari jajanan ke rumah warga. dengan tawa riang, mereka mengharap mendapat banyak jajanan. satu dua gerombolan bocah dengan senyum riang akhirnya sampai jua di rumah kami. dengan hangat mereka menciumi tangan bunda setelah misi mereka berhasil, yaitu mendapat kue dan jajanan yang lumayan banyak. orang di kampung kami biasa menyebutnya dengangan putieng-putieng, semacam kebiasaan atau tradisi anak-anak berburu jajanan selepas buka puasa. mereka mencari jajanan dan makanan ringan ke rumah-rumah. apalagi di momen spiritual seperti halnya ramadan, paling tidak mereka semakin semangat berpuasa esok harinya. tradisi putieng-putieng di kampung kami telah hidup turun temurun, biasanya kami melakukan di ujung bulan puasa. betapa bahagia anak-anak itu, mungkin hal itu yang saya rasakan ketika masih bocah. polos, tak paham segala konflik dan beban. dunia yang bebas, sebebas ikan di ujung-ujung samudera. ikan-ikan yang menyelami lautan bebas. anak yang tak merasa sedikitpun pusingnya masalah orang dewasa. si laras dengan pelastik merahnya ikut putieng-putieng. ia merasa sedih karena banyaknya makanan kecil hanya separuh pelastik saja. laras sedikit terisak, sembari mencicip kue cokelat dengan bungkus bergambar superhero terbang berbaju biru. jajanan miliknya dirampas segerombol anak-anak lelaki. anak bungsu di keluarga kami itu sendu. saya bertanya dan menunjuk segerombolan anak laki-laki sedang memakan jajanan laras di depan surau, mereka kabur. gerombolan anak lelaki itu takut nanti jajanan laras akan saya rebut kembali. laras melihat jauh di halaman rumah, sebagian jajanannya telah melayang. anak lelaki kecil bernama topik masuk ke dalam rumah. ia menghampiri laras dengan jajanan dua plastik besar hasil berpetualang saat putieng-putieng, topik berbagi jajananya dengan laras. akhirnya si laras bisa makan jajanan sepuasnya. ia tak lagi risau karena hasil buruan putieng-putiengnya melayang. tak lama kemudian si topik datang membawa jurnal ramadan. si juara kelas teman laras itu harus menerima kenyataan kedua ortunya tidak mudik karena bekerja di jakarta. si bintang kelas itu tinggal bersama pamannya. lebaran esok sudah kedua kalinya orang tua topik tidak mudik. ia tak menyerah, meski harus membantu pamannya bekerja serabutan. ia kirimkan foto-foto kue putieng-putieng ke orang tuanya di jakarta. saya mengajari nenek mengoperasikan gawai, beliau yang ketinggalan zaman menjadi sadar, jarak dan waktu sudah bukan lagi masalah, tapi mudik tak dapat digantikan dengan kebahagiaan apapun saat lebaran. berbahagialah saya karena masih bisa mudik dan berkumpul bersama orang tua. mudik adalah simbol kebahagiaan. penanda perubahan zaman yang tak lagi sama dari waktu ke waktu. *** ---------- marhaen wijayanto, penulis kelahiran boyolali, jawa tengah. menyelesaikan jenjang pendidikan dasar di boyolali dan strata satu di universitas pgri semarang. saat ini sedang menunaikan tugas sebagai kepala sd negeri 7 simpang teritip, bangka barat, kepulauan bangka belitung. untuk berkomunikasi dengan penulis bisa melalui wijayantomarhaen9@gmail.com
1
2
3
4
»
Last
Tag
Share
Koran Terkait
Kembali ke koran edisi Babel Pos 28 Maret 2026
Berita Terkini
Sebelum Kantor Dilalap Jago Merah, Kadishub Babel M Haris Diancam?
Headline
4 jam
Hari ini, Kajati Babel Resmi Berganti
Headline
5 jam
Ketetapan Pengadilan, Balok Timah Milik PT Rajawali Rimba Jadi Barang Temuan
Headline
5 jam
Oknum Polisi yang Eks Ajudan Bupati Jadi Tersangka Pengeroyokan dr Fauzan
Headline
6 jam
Jago Merah Lalap Dinas Perhubungan Provinsi Babel
Headline
6 jam
Civitas Akademika UIN Raden Fatah Palembang Lakukan Penelitian di Bangka
Bangka
9 jam
Edukasi Pencegahan DBD Tekan Potensi Penyebaran Penyakit
Bangka Tengah
9 jam
Dinpemdes Gelar Bimtek SISKEUDES Versi 2.0.9
Bangka
9 jam
Pemprov Babel Harap Penguatan Konsep Kota Humanis dan Ruang Publik
Bangka
9 jam
Jemaah Calon Haji Asal Belitung Bertolak ke Tanah Suci
Belitung
9 jam
Berita Terpopuler
Mau Kuliah di Al-Azhar Kairo Mesir? Ini Syarat dan Caranya...
Headline
11 jam
Jemaah Terus Berdatangan di Madinah, Perhatian Khusus Jemaah Lansia
Headline
16 jam
Dominasi Lansia Calon Haji Babel, Alarm Serius bagi Kualitas Pelayanan Haji 2026
Opini
10 jam
Jago Merah Lalap Dinas Perhubungan Provinsi Babel
Headline
6 jam
Jangan Kaget, TikTok Sudah Nonaktifkan 1,7 Juta Akun Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Headline
16 jam
Ketetapan Pengadilan, Balok Timah Milik PT Rajawali Rimba Jadi Barang Temuan
Headline
5 jam
Berita Pilihan
Mengapa Richard Lee Ditahan?
Headline
1 bulan
Cukong Penyelundup Timah Masih Diburu
Headline
1 bulan
ABG Dilarang Punya Akun Medsos
Headline
1 bulan
Tiga ABG Aniaya Anak Bawah Umur dengan Sabit
Bangka Selatan
1 bulan
7 Keistimewaan Malam Lailatul Qadar
Headline
1 bulan